Hasrat Avonturir (27)

bulsar

Surat ke-27 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat malam

Keseluruhan surat ini saya tulis tadi pagi terkecuali paragraf pembuka ini. Kata-kata yang digunakan kebanyakan adalah perulangan dari surat-surat sebelumnya. Bagian inti yang saya sampaikan hanya soal keinginan menjelajahi Sumatra dan India. Sayangnya, saya belum lihai membuatnya paragraf panjang. Jadinya, prolog tidak jelas hampir sama tidak jelasnya dengan poin yang ingin saya kabarkan.

Belum cukup 12 jam yang lalu surat terakhir saya tulis. Saya segerakan surat ini sesaat setelah membaca surat ke-25-mu. Kamu memprotes kebingungan-kebingungan yang saya lemparkan, hasilnya kamu juga terlihat bingung dan mulai berpikir gila. Tapi saya membuka ruang lapang untuk kamu bertanya dan mempertanyakan diri. Semoga ini bukan dalam kategori terminologi inkonsistensi yang kau pahami. Saya lebih nyaman menyebut realitas ini sebagai takdir. Kejadian setelah rencana dan usaha.

Tapi sudahlah, saya ingin bergeser dari hal-hal kering yang membingungkan itu. Saya merasa baik setelah menulis. Sama sekali tidak menyesal. Semalam saya menemukan salah satu website-wordpress yang saya ikuti. Ada benang cahaya disana. Benang cahaya yang akan menuntun menuju jalan “akan” membaca dan menulis cerpen. Di web itu ada ribuan cerpen –mungkin lebih dari penulis kaliber Indonesia. Cerpen yang mungkin saja sudah lama. Tapi bukankah diksi tak pernah punya zaman. Diksi itu selalu hidup.

Jadi saya tak perlu membeli semua buku kumcer untuk menggenapkannya seribu cerpen. Seperti keinginan saya di surat 25. Bila kamu tertarik, kamu bisa menggunakan kata kunci “cerpen kompas” untuk menemukannya di mesin pencari.

Di waktu-waktu tak diduga saya begitu bisa menyebut diri sedang bahagia. Seperti ketika menghubungkan kenyataan yang saya hadapi dengan keinginan yang ada di kepala. Sesuatu yang klop. Sesuatu yang pas. Sepenuhnya di suatu titik, di suatu momentum yang tepat, saya dekat sekali dengan perasaan ingin segera mati. Saat seperti itulah sejujurnya saya sedang bahagia. Keliru kalau keinginan mati hanya hadir saat kita penuh masalah dan penyesalan. Karena mati adalah bahagia paling puncak.

Kita tidak pernah punya ukuran dimensional untuk tahu kapan kita bahagia. Bukan saat tertawa, bukan saat berharta, bukan saat bertahta atau saat kita punya semua yang kita mau. Kebahagiaan kita selalu tak terukur dan tak bisa diukur. Pesan itu saya tangkap dari semua bacaan tentang pencarian. Dari semua tontonan dan hasil pendengaran. Dari semua kontemplasi dan ibadah-ibadah yang di-khusyuk-kan.

Kebahagiaan adalah kebebasan pikiran tanpa kekangan. Kekangan pikiran. Orang yang sepaham dengan saya ini banyak sekali di luar sana. Sepaham tapi dengan pendekatan yang berbeda. Banyak orang ingin bahagia dengan bebas, maksudnya tanpa aturan. Bahagia tanpa norma atau agama. Bahagia karena tidak terikat. Bahagia yang egois. Kita bisa menemukan definisi ini pada kaum hippie. Saya senang tahu ada orang seperti kaum hippie, tapi saya tidak mau sepenuhnya bahagia seperti mereka.

Saya ingin membeberkan lagi satu “akan” yang dulu-dulu hanya saya lisankan di telinga orang-orang dekat. Akan yang telah menunggu. Akan yang membahagiakan. Akan yang ada hubungannya dengan kebiasaan kaum hippie. Mengembara jalanan. Hampir searti dengan backpacker. Tapi punya perbedaan cukup kontras.

Tahun ini semestinya saya menunaikannya, “akan” itu. Menelusuri jalan berkelok lintas Sumatra. Mengunjungi tempat banyak kerabat saya. Sudah pernah saya buatkan itinerary-nya. Perjalanan dua minggu. Yang dimulai dari Jakarta ke Lampung, Pelembang atau Bengkulu, ke Jambi, Padang, Medan, Aceh dan terakhir di Pulau Weh, pulau terbarat. Saya punya rencana yang baik untuk melakukannya.

Rencana itu tidak baru dan spontan. Dulu, sepulang dari Pare saya menemukan banyak keluarga baru. Punya saudara baru. Saya investasi banyak cerita dan hubungan baik ke mereka. Teman-teman alumni Sail Belitong, Lintas Nusantara Remaja Pemuda Bahari 2011 juga pernah saya wacanakan. Saya mengumpulkan keberanian walau hanya sekadar berencana menjadi avonturir yang akan menjelajahi lekuk Sumatra. Saya kabarkan ke mereka, teman-teman Jawa dan Sumatra itu bahwa saya akan menaklukan Sumatra sebentar lagi. Sekarang, saya tak tahu apakah mereka masih ingat dengan rencana itu, atau bahkan pertanyaannya, apakah mereka masih ingat dan cukup dekat dengan saya saat ini.

Saya cukup akrab dengan banyak kegagalan. Kegagalan mengeksekusi rencana. Analisis saya, kegagalan demi kegagalan itu adalah bermuara di menunda-nunda. Aproksinasi. Sekarang, belum saya mewujudkan ingin itu, di kepala saya berkecamuk ingin baru yang datang dari ajakan kawan seperjalanan saya melakukan 4 Islands Journey akhir 2013 lalu. Dulu memang pernah perbincangan kami diisi oleh keinginan-keinginan menaklukan benua.

Barulah akhir Februari lalu, saya kembali dikirimi pesan singkat untuk mempersiapkan diri untuk menaklukan India. Perjalanan darat ke India. Saya bilang saya tidak punya masalah besar selain budget. Menabung untuk perjalanan seperti itu sejak dulu mendapat respon positif dari Mamak. Baru-baru ini saya dikonfirmasi akan dibantu oleh Mamak memenuhi ajakan itu. Soal Sumatra, saya tidak membekukannya. Saya tetap ingin melakukannya selagi sendiri. Selagi tanggungan dan beban finansial belum melebihi daftar keinginan. Meskipun, saya tidak mengingkari, keajaiban seringkali turun pada sepasang kekasih halal.

Semoga saya mendapat amin yang tulus dari orang yang membaca tulisan ini. Tak perlu sepaham dengan paham bahagia yang sedikit saya urai di atas. Kepada Perempuan Pembaca, baru di kesempatan ini saya gunakan untuk mengaminkan “akan”-mu ke Jogja sebagaimana yang kau tulis beberapa waktu yang lalu.

Makassar, 30 Maret 2015

Tertanda, Lelaki Optimis

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: