Kering (26)

kering

Surat ke-26 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat malam

Rumit untuk setiap harinya menyapa di pembuka surat. Sudah hampir sebulan, kepala dijejal oleh huruf-huruf jelmaan isi kepala. Tapi saya bukan terpaksa atau tidak terpaksa melakukan prosesi rutin setiap hari ini. Saya senang menemukan diri saya telah hampir melunasi janji menulis setiap hari. Saya melakukannya bersama perempuan pembaca. Lebih bertambah baik lagi semuanya.

Hal-hal egois yang sudah saya rencanakan untuk diceritakan di penghujung misi ini akhirnya beku oleh ragu. Juga masa lalu yang baru, kini tak lagi segar sebagai bahan perbincangan. Tersisalah serbuk-serbuk obrolan berkadar ringan dan tak mutu.

Sudah saya bilang, pikiran dan manusia berubah dengan cepat. Melesat. Bergejolak. Tak kenal arah. Hari ini kita jadi orang tak tahu dan banyak cari tahu. Tahu-tahu bergerak dari waktu sedikit saja, kita sudah jadi orang yang merasa paling tahu. Kita ini, manusia yang serba tahu. Tahu diri. Tidak tahu diri. Pura-pura tidak tahu diri. Atau benar-benar tidak tahu diri. Kita menerjemahkan dengan menganggap kita tahu diri kita. Kita tahu kalau kita sedang bingung. Dan kita tidak tahu kalau kita sudah tahu. Kita ini memang manusia sok tahu.

Saya berusaha segenap daya dan upaya, supaya dialog antara saya dan perempuan pembaca tetap terjaga. Sesungguhnya, saya sulit membayangkan surat ini saya baca tepat di hadapan perempuan pembaca. Atau di samping perempuan pembaca. Saya tidak semulus mengucap dengan menuliskannya. Saya tidak paham soal mimik dan intonasi yang tepat saat membaca naskah. Saya hanya paham dengan aliran murni kata-kata dari mulut saya. Bukankah, penyair atau penulis adalah orang dengan karakter anti kepalsuan. Anti kemunafikan. Anti hipokrit.

Bila kamu masih di sini, membaca surat kering ini maka saya patut berterima kasih. Kau tahu, efek dari surat menyurat ini adalah semakin seringnya menumbuk huruf-huruf. Saya semakin paham, kamu terselip di antara huruf-huruf yang menari di layar putih. Kamu membaca rangkai demi rangkai kata yang tersusun oleh huruf. Menemukan makna yang kau tangkap sendiri. Makna yang saya bilang begini tapi maksudnya begitu.

Surat ini semakin ngawur dan ngelantur. Saya ingin berhenti tapi terlalu pendek dan saya yakin belum ada poin yang menonjol di surat ini. Serupa pengguguran misi. Hanya sebatas itu. Kelirunya saya, karena selalu ingin member judul pada setiap surat yang saya posting. Tidak seperti kamu yang sudah menyunting semua judul suratmu menjadi satu frase yang tidak perlu repot-repot menggalikannya ide atau sebuah istilah baru.

Cukuplah kabar ini mengisi jurnal ke 26 misi kita. Bila ada yang perlu kamu tanggapi, maka segeralah sebelum surat ke-27 saya tulis lebih dulu. Sebenarnya bila sesuai plan surat sepertiga dari terakhir, maka bagian ini adalah bagian yang membahas tentang ayah atau ibu. Ayah dan ibu masa depan. Sayangnya segala kemungkinan harus kita alami sebagai bentuk bahwa kita manusia tunduk pada hukum alam bernama realitas.

Makassar, 29 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Gambar; travel.detik.com

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: