Rukun Keinginan (25)

perempuan patah hati

Surat ke-25 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat malam

Selarut ini belum juga saya melihat surat balasanmu atas surat ke-24 yang berasa sangat emosional. Saya entah kenapa mudah sekali berubah sangka. Sehari kadang seringkali merasa yakin kau membaca surat itu, lalu belum selesai sehari itu saya kembali ragu kalau kamu acuh pada surat-menyurat ini.

Hingga saya menulis surat ke-25 ini dengan hanya mengandalkan angan-angan bahwa kau telah menulis surat balasan, hanya saja kau belum sempat untuk mempublisnya. Alasan orang percaya atau tidak percaya bedanya tipis sekali. Hanya pada kata -bukti. Tanpa kata itu, semuanya dikendalikan oleh kekuatan lain bernama yakin.

Kepada perempuan pembaca, surta menyurat kita hampir selesai. Ending yang saya prediksi rupanya akan mengalami sedikit gerakan perubahan. Rencana memang menggantung di awan-awan, tapi realitas adalah hujan yang jatuh tiba-tiba. Kekuatan kita tidak pernah lebih daripada memulai dan berharap akhir yang seindah alam khayali.

Seperti yang sudah sering saya cantol, untuk mengakhiri hasrat platonicus ini kita hanya perlu mengaburkan diri sekabur-kaburnya. Karena kau selalu menjadi tujuan sekaligus proses yang alami. Alami yang semakna dengan tulus. Independen. Tidak intimidatif.

Pernah saya mengabarkan kalau saat ini begitu banyak keinginan di masa mendatang. Tapi tidak berarti, saya selalu melihat langit cerah di ujung cakrawala. Saya menyiapkan bayangan kemungkinan awan hitam yang menutup langit senja. Merusak masa depan. Saya bersiap dengan ketidakmungkinan dengan tingkat probablitas taraf tinggi.

Masa depan tak pernah ada yang melihatnya sekalipun dia hidup alam terang benderang. Masa depan sama gelapnya sebuah gua dengan seribu pintu jalan keluar. Tidak pernah ada yang bisa memahami di pintu mana secercah cahaya menuntun kenyataan.

Prolog panjang di atas semoga tidak rumit diartikan. Intinya, manusia berhak merencanakan apa saja untuk masa depannya, tapi mesti luwes pada apa saja yang bernama kenyataan. Sampai disitu, semuanya tidak boleh melepaskan diri dari jerat bernama ikhtiar yang total dan takdir yang pasrah. Ikhtiar adalah proses dan takdir adalah hasil.

Saya kembali ingin mencairkan satu beku keinginan yang semoga cukup baik untuk kau aminkan. Setelah membahas tentang anak di masa yang belum pasti, malam ini akan cair satu lagi ingin yang kaku dan beku di kepala. Saya telah mencoba-coba menatap ke jendela untuk segala kepastian kemampuan saya melakukannya. Sama seperti surat-menyurat kita ini, bukankah kita tidak bisa memastikan bagaimana akhir yang akan menimpa kita.

Atas rasa cukup dan jenuh yang bercampur, teraduk-aduk di suasana kental hitam pekat putih merah manis . Saya ingin menulis cerpen. Cerpen yang baik. Saya ingin menulis 10 cerpen dalam sebulan. Sebelumnya saya ingin membaca 1000 cerpen bagus dari penulis-penulis kaliber.

Angka itu tidak mustahil. Hanya sedikit ambisius. Ambisius yang toleran. Kalau saya bisa membaca 5 cerita setiap harinya, berarti dalam sebulan saya bisa membaca sekurang-kurangnya 150 cerita. Saya butuh 7 bulan paling tidak melunasi rukunnya. Saya tidak sedang berusaha menjadi asing bagi diri saya. Bukan bermaksud menjadi orang lain dengan cara serupa. Saya hanya menjabarkan semrawut temali isi kepala. Ini adalah keinginan yang bukan baru-baru.

Saya berharap kamu ada sedikit dukungan atas keinginan itu. Karena setidaknya kamu adalah pembaca yang baik. Atau kamu bisa menawarkan satu, dua, tiga, empat konsep sebuah cerita. Soal diksinya, biar saya yang eksekusi.

Hal lain yang juga mesti diatasi untuk misi besar itu adalah dimana saya menemukan 1000 cerpen penulis kondang. Saya bahkan tidak punya buku kumpulan cerpen. Kau tahu, dulu pernah saya sangat menyukai cerita yang lebih pendek dari cerpen, atau orang menyebutnya cerita mini. Saya biasa membaca cerita fiksi yang umumnya berakhir sad ending. Lalu saya selalu gagal setiap kali ingin menulis, bahkan gagal pada saat ingin memulai. Saya tahu alasannya sekarang, karena saya masih sangat sedikit membaca.

Salah satu keinginan ini saya rasa cukup untuk mengambil satu dari 6 surat tersisa. Semoga ada yang bisa kamu pahami. Bila tidak, maka balaslah surat ini dengan bahasamu sendiri. Saya tidak memaksa, tapi gunakanlah kesempatan yang ada.

Makassar, 28 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Gambar; ekakurniawan.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: