Points of Clarification (24)

klarifikasi

Surat ke-24 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Sobahunnur,

Subuh
Saat benang cahaya menjulur ke bumi
Ada hati membeku dalam selimut
Memanjangkan mati yang sementara
Melupakan janji-janji di ruang rahim

Hati ikut mati
Nafas tak terkendali
Jiwa di alam lain bersama mimpi

Kepada Tuhan
Segala syukur atas subuh
Segala puji atas hidup setelah mati
Segala waktu yang berkah

Bait di atas mengalir di jemari saat hendak memulai surat ke-24 ini. Saya hanya sedikit mengungkapkan bercampurbaurnya kemungkinan di subuh hari. Kemungkinan-kemungkinan yang akan mengisi hari. Kemungkinan yang akan membunuh masa lalu, sebentar lagi.

Surat ini akan saya kembalikan kepada tujuan awalnya, kepada perempuan pembaca. Kepada perempuan yang kusangka dengan mudah telah abai membaca. Di surat ini kusempatkan untuk mengklaririfikasi tudingan di delapan surat yang kau posting sekaligus. Anggap saja ini untuk mengabulkan keinginan-(ku/mu) mencipta “dialog menarik”.

Pertama, soal sangka merapel surat. Sudah kutegaskan, menulis dan mempostingnya adalah bagian terpisah. Saya bisa saja menulisnya (surat) di hari itu, lalu mempostingnya di jam lain. Saya mengakui telah cukup 3 kali tidak menulis dalam suatu hari. Selebihnya saya tulis setiap hari dan sekuat daya meminjam laptop untuk mempostingnya di hari yang sama. Jadi, merapel (menulis) adalah kesalahan.

Kedua, tentang Fiersa Besari. Kamu disini banyak keliru. Fiersa telah lebih dulu keliling Indonesia, jadi bukan akan. Bahkan pernah bermalam-malam di Makassar. Juga sekali telah menanjak di Puncak Bulusaraung. Lalu, pada bagian yang kau tafsir subjektif. Menulis untuk melupakan. Saya menjawab pertanyaamu di bagian itu. “Tidak!”, menulis bukan untuk mengabadikan rasa sakit, menulis adalah mengabadikan momentum kepahitan. Patah dan tumbuh di suatu waktu. Melupakan tidak selalu berarti hilang tanpa kenangan. Pahitnya segelas kopi akan sirna ditumbuk oleh banyak rasa setelahnya, tapi momentum menyeruput adalah kenangan yang tidak berarti pahit. Sama sekali bukan kepahitan.

Ketiga, perihal surat yang terhimpun. Disini juga tafsirmu sedikit keliru. Kau perlu tahu, saya membaca dengan baik semua suratmu. Rasanya, tak pernah ada paragraf yang saya lewati. Bahkan pada saat membaca tentang pengalaman awalmu berkorespondensi, saya memvisualisasikannya dengan baik. Yang tidak kamu tangkap di bagain surat terhimpun adalah sebuah wujud buku disitu. Bukan menjadikan surat ini seperti surat yang ditulis tangan. Begitu kan maksudmu?

Lalu keempat, tentang pertanyaanmu “kenapa harus aku?”. Jawabannya, karena saya memilih kamu. Soal alasan akan saya sisakan satu bagian surat dari enam surat yang tersisa. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang saya tunggu sejak dulu. Tenang saja, simpan baik-baik semua duga-sangkamu.

Klarifikasi di atas, semoga tidak kau baca dengan naluri sensitifitas perempuan. Kita sama-sama perlu bijak menerima kenyataan. Menerima sangkaan orang lain. Sekaligus bagian ini saya sempatkan meminta maaf bila ada multi tafsir di pernyataan-pernyataan semua surat saya tulis. Terutama, saat mengganti tujuan surat di surat ke-23 itu. Saya terlalu emosional terhadap sebuah penantian. Enam surat yang saya tulis tak pernah kau singgung. Pengabaian itu, sangat memudahkan saya mengambil jalan pintas menemukan jawaban.

Surat ini adalah surat yang blunder. Semula ingin sekali saya membahas “akan” yang lain. Namun, sudahlah tak banyak juga gunanya berlama-lama membiarkan orang lain berbeda sangkaan dengan kita. Saya paham, surat ini juga masih sangat sarat dengan emosi setelah membaca delapan suratmu sekaligus. Kelirunya saya, karena memulainya dari surat terlama dari delapan itu. Ah, “andai” tak pernah habis untuk jadi alasan menyalahkan masa lalu.

Saya akhiri surat ini dengan harapan, semoga jumat ini menjadi jembatan bagi kita menerima keberkahan dari Tuhan. Rasa senang pasti selalu ada setiap mendapati suratmu terposting. Terakhir, kita penting menyadari ini, bahwa kita tidak sedang berlomba mencari pemenang. Siapa yang kalah dan siapa yang menang tidak ada di kamus korespondensi kita. Tetap membaca, tetap menulis Irtie Finadh Maricus.

Makassar, 27 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Gambar; hdwallpapers.cat

 

 

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: