Pembaca Masa Depan (23)

daeng-blogger

Surat ke-23 #30surat

Kepada Pembaca Masa Depan

Selamat malam,

Surat ini tertuju kepada siapa saja yang ingin membaca lukisan masa depan. Di 22 surat sebelumnya selalu kepada seorang perempuan, teman korespondensi saya. Namun, dengan membulatkan keyakinan, saya mengakui surat-surat itu tidak hanya dibaca oleh seorang perempuan pembaca. Beberapa kawan mengonfirmasi diri sebagai pembaca, tentu bersama dengan segenap perasaan dan tanda tanya, siapa gerangan perempuan pembaca yang juga membalas surat itu. Sebenarnya gampang saja mengecek postingan apa saja yang diklik oleh pembaca. WordPress memberi kemudahan untuk hal itu.

Dua kawan baik saya sesama blogger, Tismi dan Mujahid baru saja menjejak komentar di blog ini. Berkomentar singkat dan berisi apresiasi. Komentar kedua orang ini menjadi salah satu alasan kenapa saya menyakini ada beberapa orang yang membaca surat ini. Saat-saat ingin menuntaskan misi seperti ini, saya merasa terbantu dengan kalimat motivasi dari para kerabat. Bahkan Mujahid menyeret harapan pada misi ini untuk di-buku-kan.

Saya melihat ada kemungkinan untuk harapan itu. Mungkin nanti di penghujung misi, semua surat akan digabungkan dalam sebuah draft penerbitan buku. Lalu semua peluang akan ditakar dengan pertimbangan yang wajar. Kita tahu, menerbitkan sebuah karya mewujud buku saat ini bukanlah hal yang susah. Penerbit indie bertabur di seluruh kota. Yang diperlukan adalah tak lebih dari sebuah mental menulis yang percaya diri.

Sebenarnya, saat akan memulai misi ini, saya sudah memprediksi akan munculnya keinginan itu di kemudian hari. Ternyata, saya menerimanya dari orang lain. Andai saja, yang lebih dulu menyadari hal itu adalah perempuan pembaca yang selama ini menjawab dan membalas surat, maka tentu akan selalu ada dialog menarik di masing-masing surat kami. Sayangnya, surat-menyurat ini berjalan hanya mengikuti ambisi menyelesaikan misi.

Baiklah, surat ini hanya akan sedikit membahas keinginan bernama masa depan. Masa depan yang tidak serumit dengan yang dipahami oleh sepasang kekasih sebelum menikah. Juga bukan masa depan yang ditafsir oleh para tetangga-tetangga di kampung. Masa depan yang hanya sebatas pada kejadian yang terjadi setelah diinginkan. Masa depan yang semudah menghayalkannya.

Pernah, bersamaan dengan sedang bertumbuhnya komunitas Daeng Blogger yang saya gagas. Muncul keinginan untuk membuat badan penerbit sendiri. Saat itu, gelora revolusi-resolusi sedang menggaung di telinga para loyalis komunitas. Tidak ada batu yang besar untuk dirobohkan, juga tidak ada hujan badai yang menghalau. Tersisa beberapa langkah sebelum hasrat itu menjadi tandas sampai sekarang. Tapi saya belum menguburnya sebagai masa lalu. Membuat penerbit sendiri pada suatu hari nanti pasti akan terwujud. Punya penerbit sendiri adalah salah satu lukisan masa depan yang saya buat di ingatan.

Bila mungkin Tuhan mempertemukan dengan seorang yang se-visi dalam merangkai masa depan, maka sudah tentu keinginan membuat penerbit akan masuk di salah satu daftar capaian jangka panjang yang digarap bersama.

Makassar, 26 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

 

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: