Timbul Tertimbun (22)

puncak bulusaraung

Surat ke-22 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Shabahunnur

Selamat malam Perempuan Pembaca. Hal yang perlu kamu tahu malam ini, beberapa orang mengkonfirmasi telah membaca surat-surat yang saya buat di blog ini. Saya agak malu untuk mengatakan ini, bahwa semestinya saya menulis “Kepada Perempuan-Perempuan Pembaca”. Lebih dari satu orang yang saya pastikan membaca bukankah lebih tepat menjadikannya jamak. Lagipula, surat-surat yang saya tulis seluruhnya tidak membahas personal tentang kamu.

Jelang pagi ini saya menggeser sedikit waktu tidur. Udara malam di dalam kamar kering sekali. Bila tanpa bantuan kipas kipas angin, maka saya lebih memilih mengorbankan darah kepada nyamuk daripada tidur berpeluh keringat.

Saya berhenti di dua paragraf di atas. Lalu melanjutkannya di waktu lain. Sebelum paragraf ini, saya telah menulis dua paragraf lalu saya baca dan saya hapus lagi. Semakin menuju akhir semakin saya menginginkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih.

Saya punya banyak keinginan yang timbul tertimbun di kepala. Terutama keinginan besar menulis sebuah buku yang ditulis oleh saya seorang. Bila sudah timbul ingin yang seperti itu, lambat-lambat selalu tertimbun oleh banyak hal baru yang juga ingin. Kau tahu, di dunia ini tak sesuatu yang benar-benar baru. Kata penyair, kita selalu berada di sisa masa lalu. Dengan begitu, saya berfikir untuk banyak-banyak melihat sesuatu yang lalu. Sesuatu yang telah. Setiap kita, punya kesempatan yang sama untuk memperbarui sesuatu yang lalu. Tentu dengan banyak kaidah yang mengikatnya.

Pernahkah kamu membaca sebuah buku yang berisi surat seorang ayah kepada calon anaknya. River’s Note judulnya, ditulis oleh seorang Fauzan Mukrim, seorang ayah berdarah Bugis Bone. Bahasanya sangat sederhana karena ditujukan kepada anaknya kelak. Ada puluhan soal hidup yang dikisahkannya. Bila kamu sempat, kamu bisa mendapatkannya di Mizan Corner, harganya juga sudah didiskon.

Saya menyebut buku di atas sebagai salah satu hal lalu yang bisa saja kita duplikasi. Bukankah, kisah dan cara seorang calon ayah memiliki warna dan coraknya masing-masing. Sejak membaca buku itu, saya banyak merangkai angan tentang anak-anak di masa depan. Dari menyiapkan bulan kelahirannya yang ingin dibuat pada satu bulan yang sama. Nama depan yang mencatut nama-nama orang hebat. Nama fam yang konsisten. Saya menyebut “anak-anak” sebagai simbol adanya ikhtiar untuk mewariskan anak yang lebih dari satu.

Lalu anak-anak dididik mengenal agama lebih banyak daripada dunia. Mencintai kebaikan di atas segala kesenangan. Tapi tidak lupa didongengkan sampai mereka bermimpi menjadi bintang. Dan mereka bertumbuh dengan paham dan mental “menabur manfaat sebanyak-banyaknya”. Mengajak mereka melihat dan mencintai alam sedari muda. Mengenalkan mereka indahnya harmoni kehidupan dari wajah seni. Dan banyak sekali keinginan-keinginan tentang anak yang selalu hadir dari bacaan, dari tontonan, dari mendengar, dari melihat, dan dari apa saja yang bernama kebaikan.

Membicarakan anak, tentu kita tidak mesti menjadi ayah terlebih dulu. Karena sampai kapanpun kita juga selalu menjadi anak dari seorang ayah dan ibu kita. Dan bukankah, kita dianjurkan telah menjadi ayah yang baik bahkan dua puluh tahun sebelum kita betul-betul menjadi ayah yang baik.

Masih tersisa delapan surat. Saya akan berusaha menggali dan mengurai banyak ingatan tentang masa depan yang pernah saya tumbuhkan di kepala. Ada perasaan menyenangkan saat masa depan yang kita inginkan telah lebih dulu diaminkan jauh sebelum kita mengusahakannya. Terima kasih kesekian kalinya bila kamu masih menjadi Perempuan Pembaca itu.

Makassar, 25 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

 

 

Advertisements

2 Responses to “Timbul Tertimbun (22)”

  1. mujahidzulfadli Says:

    ini yg buat sy merasa iri. sy selalu kagum karena kanda terus menulis. mau menulis. dan memaksa diri untuk menuliskan kehidupan. dan luar biasa. hal yang menunjukkan bahwa kanda juga tidak pernah berhenti membaca.

    carpe diem…

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: