Membahas Kita (20)

membahas kita

Surat ke-20 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat sore

Di awal surat yang terlambat ini, saya terlebih dulu mengabari kalau kemarin absen menulis saya bertambah menjadi tiga kali. Hari yang kemarin mungkin terlalu singkat untuk hanya menulis separagraf dua paragraf surat. Padahal saya terjaga hampir sampai pukul dua dini hari, tadi malam.

Sebelum menulis, saya tidak lupa membuka blogmu. Hahah, rupanya suratmu berakhir di surat ke-15. Sepertinya kita memang perlu berjarak untuk menyelesaikan ini. Pertemuan hanya membekukan rasa ingin. Gejala yang kurang asyik. Sebaiknya kan kita perlu berbicara bukan hanya via media sosial. Ah, namun rasanya kita sama-sama enggan untuk melakukan itu.

Kita sudah masuk di dua pertiga sebelum komplitnya misi ini. Kau tahu, misi ini sudah menimbulkan gema di luar sana. Tapi tidak adil untuk berakhir hanya karena alasan dari luar diri kita. Saya yakin kamu setuju dengan pernyataan barusan. Beberapa kali juga kamu selalu khawatir saya akan berhenti di suatu titik sebelum hari ke 30.

Saya belum cukup puas dengan apa yang sudah kita lewati sampai di sini. Saya masih tetap butuh improvisasi yang signifikan di antara kita. Sesuatu yang berbeda. Saya juga belum menemukan hal itu. Bacaan yang semestinya menunjang korespondensi ini lebih dulu tertutup sebelum halaman terakhirnya. Sampai di sini, saya melihat akhir yang tidak membahagiakan. Tapi saya Lelaki Optimis, akan coba membuat beberapa komparasi dengan misi yang hampir serupa dengan misi ini.

Yang jauh berbeda dari kita adalah karena kita mengawali misi ini dengan sama-sama merasa dekat. Dekat tapi jauh. Orang lain mungkin kebalikan dari kita. Lalu kita membincangkan banyak sekali hanya tentang masa lalu. Saya dan kamu sama soal itu. Hanya secuil cerita yang membahas “akan” yang kita tuliskan.

Ah, cita-cita yang “akan” adalah malu-malu yang sangat mau. Kita pun seringkali merasa tak pantas hanya sekadar menulis “akan”. Sementara pembicaraan “akan” justru sebenarnya adalah pembicaraan yang semestinya milik orang muda yang visioner. Ya tentu juga itu masih termasuk kita.

Bagian surat ini saya akhiri dengan harap saya masih melihat balasan dari surat yang kuposting. Bila kamu masih membaca bagian ini, saya cukupkan dengan terima kasih.

Makassar, 24 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Gambar; 3d-pictures.picphotos.net

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s