Preambule Korespondensi (19)

 

preambule korespondensi

Surat ke-19 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat malam,

Selamat malam Perempuan Pembaca. Saya dengan sedikit keyakinan, kamu beberapa waktu lalu -mungkin kemarin- telah menunggu surat-surat setelah empat surat panjang yang diposting dalam satu hari itu. Sejak dua hari absen menulis seperti yang saya sebut di surat terdahulu, saya tidak pernah lagi kebobolan menulis setiap harinya. Saya memang hanya terkendala di jaringan internet. Soal menulis, saya selalu sempat di waktu-waktu tertentu. Seperti malam ini, sebenarnya tubuh saya sudah menuntut istrahat sedari tadi.

Untuk memenuhi tuntutanmu soal pengalaman pertama berkorespondensi, saya agak kesulitan. Saya tidak pandai mengingat kejadian-kejadian secara detil di kurun waktu sekolah dasar. Barulah ada pengalaman yang agak bisa saya ingat ketika duduk di bangku SMP. Pernah suatu waktu, tetangga yang lebih dulu puber kebingungan merancang surat untuk seorang perempuan yang ditaksirnya. Saya yang pada waktu itu tak punya banyak keahlian soal dekat-mendekati perempuan, dilibatkan dalam kebingungannya.

Segala orang yang muda, selalu menganggap urusan hati adalah urusan yang berhubungan dengan merah jambu. Orang sekarang lebih mudah menyebut pink. Saya juga ada di baris umum soal pandangan itu. Lalu perihal surat untuk perempuan itu, entah mengapa diserahkan ke saya. Hal yang paling pasti adalah soal tulisan saya yang terlihat lebih rapi ketika miring. Tentu kamu juga pernah belajar tulisan indah sewaktu baru sekolah. Di antara teman bermain waktu itu, -bukan ujub- memang tulisan sayalah yang paling bagus.

Lalu saya gigih mencari secarik kertas berwarna merah jambu, seingat saya kertas binder belum begitu populer. Tak ingat lagi dari mana, saya mulai mencari diksi yang romantis, seromantis-romantisnya. Lalu ternyata surat itu berbuah kabar baik, mereka (tetangga saya dan perempuannya) tidak lagi menggunakan saya di korespondensinya.

Pengalaman di ataslah yang seingat saya menjadi awal dari surat yang saya minati setelahnya. Setelah itu, di masa seragam putih abu-abu, saya sepenuhnya hanya menulis surat sakit ke sekolah. Kadang surat itu adalah surat keterangan sakit saya, tapi lebih banyak surat sakit yang saya buat adalah untuk sekolah adik saya yang duduk di bangku madrasah dan sekolah dasar.

Jauh berselang setelah itu. Saat di akhir-akhir status mahasiswa, gagasan untuk membuat buku yang berisi surat-surat yang ditepuk angin begitu hidup di kepala saya. Ide ini pernah saya wacanakan di Komunitas Blogger Kampus yang dulu masih bernama Daeng Blogger. Beberapa orang merespon baik tapi tidak ada yang mau memulai. Termasuk saya yang gagal merintis kumpulan surat bercerita itu. Menulis surat yang tidak pasti pembacanya hanyalah serupa dialog cermin. Dan ide pembukuan surat bertepuk angin pun bubar tak terjamah.

Waktu berlalu, kekosongan itu ada. Kita dipertemukan di sebuah ruang maya. Ide yang yang redup beberapa tahun itu kembali menyala. Kamu bersedia menjadi bagian dari metode menulis ini. Sayangnya, saya tidak menceritakan ini lebih awal di preambule korespondensi kita. Saya hanya berharap kamu tidak merasa dirugikan atau dimanfaatkan dengan kondisi yang tengah lewat separuh jalan ini.

Sejujurnya, kamu bukan orang yang pertama saya ajak untuk menjalankan misi 30 surat ini. Pernah beberapa orang sebelum kamu, sayangnya tak pernah ada kata sepakat untuk sekadar memulai. Saya tidak seberani saat perbincangan di malam pemula kita itu. Misi ini sudah hampir selesai, saya belum bisa membicarakan banyak hal soal surat menyurat ini. Misi ini tidak semudah menggampangkannya. Tidak semurah es krim yang saya janjikan. Surat ini mengandung pahit kopi yang punya filosofi. Kemungkinan misi ini berakhir drama selalu ada. Tapi semoga tidak. Selamat membaca, wahai perempuan.

Makassar, 22 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Gambar; ravi435sag.deviantart.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: