Menerima Keberagaman (17)

 

menerima keragaman

Surat ke-17 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat malam,

Hujan terus turun di sini. Mitosnya, hujan yang dimulai hari jumat biasanya akan berlangsung sampai berhari-hari. Sebenarnya, hujan adalah buah dari langit yang justru telah lama di tunggu-tunggu para petani di sini.Profesi petani (tanpa bermaksud rasis) adalah profesi yang banyak dilakoni oleh orang hindu, kami di sini menyebutnya orang Bali.

Karena letak kampung yang berdekatan tanpa sekat, maka pada malam-malam di musim kemarau atau malam-malam yang dirindui hujan, orang Bali akan melakukan doa bersama meminta hujan. Doa-doa yang dipanjatkan ke langit dengan pengeras suara tentu akan memecah hening di malam yang mengganti nama hari. Kami sudah terbiasa dengan doa-doa bernada sejenis itu. Bila telinga kita mampu berkonsentrasi dengan baik di sebelum tidur, maka kita bisa saja menjadikan doa-doa itu sebagai nada pengantar tidur. Segala sesuatu, saya kira akan menimbulkan reaksi yang berbeda oleh karena cara pandang yang berbeda.

Hidup bersama dengan komposisi mutlikultural dalam satu wilayah kecil adalah ujian bagi manusia untuk menjadi lebih toleran terhadap perbedeaan. Menurut cerita klasik, sekitar tahun 70-an datang gelombang besar transmigrasi dari pulau Jawa dan Bali. Lalu, kampung saya sebagai kampung induk yang besar dan hidup dengan monokultur harus rela berbagi rawah dan tanah. Kebanyakan adalah lahan tidur bertumbuhkan pepohonan dan kayu-kayuan.

Sisi kiri sebelum kampung diserahkan ke transmigran asal Bali. Sekarang jumlahnya semakin banyak, sudah ada beratus-atus kepala keluarga di sana. Hidup bekerja keras dan membanting tulang, terlihat seperti ingin sukses dan menghabiskan seluruh hidup di kampung transmigran itu. Kaya banyak tanah. Kebun dan sawah yang semakin meluas. Anak-anak yang bersekolah lalu jadi guru atau polisi. Hidup dan mati dengan cara yang begitu kuat. Lalu wafat dan jenasah dibakar sampai jadi abu. Sesuai adat hindu. Saya tak pernah menyaksikan upacara kematian dengan alasan kemanusiaan. Seringkali hanya mendengar cerita orang kampung yang terbiasa menjadi penonton acara adata -bakar mayat itu.

Sisi kanan didiami oleh transmigran asal Jawa. Ada dari banyak tempat di Jawa. Yang berarti bukan hanya suku Jawa. Bahkan ada salah satu, mungkin sekelas RT, mereka menyebut dirinya Kampung Bandung. Kita tahu Bandung biasanya adalah asosiasi dari suku Sunda di Pulau Jawa. Tapi orang Bandung atau Sunda sangat tidak mau disebut dengan orang Jawa. Jumlahnya sangat banyak, datang dengan beberapa kloter. Mungkin itulah yang membuat susahnya pembagian lahan secara merata. Saat ini, masih banyak kaum transmigran Jawa yang berada di bawah kaya. Hidup masih digubuk. Makan sepenuhnya mengandalkan tenaga. Hidup tanpa otot adalah hidup yang mendekati kematian.

Beberapa tahun sejak kedatangan transmigran. Kampung trasmigran asal Jawa mendeklarasikan diri sebagai desa baru yang terpisah dari desa induk, desa saya. Sedangkan kampung Bali, sampai sekarang masih setia di bawah garis administrasi desa saya. Statusnya hanya sebatas dusun. Entah berlangsung sampai kapan. Dengar dari bibir ke kuping, orang Bali semakin hari semakin mempersiapkan diri mejadi desa mekar yang baru. Sebenarnya, desa saya sendiri dengan sejarah yang saya dapat seadanya sudah lima kali terjadi pemekaran desa dari yang mulanya dusun di desa saya. Bukankah pemekaran desa adalah salah satu ikhtiar menjadikan kampung hidup lebih mandiri? Atau setidak-tidaknya bisa mencipta tempat kerja yang menyerap pemuda-pemudi dari kampung sendiri. Kantor desa dan sekolah yang baru pastilah butuh pegawai di sana.

Di bagian lain dari kampung saya, sedikit menjauh dari sisi kanan. Ada banyak suku yang membaur dalam sebuah desa baru yang dulunya adalah dusun dari kampung saya. Kalau tidak keliru ingatan saya, mungkin baru berumur kurang dua tahun. RT RT yang ada di sana biasanya berdasar suku yang lebih dominan. Ada RT yang seluruh penduduknya berdarah bugis Wajo, itulah nama kampungnya disebut Wajo Baru. Ada suku Toraja yang kampungnya bernama Sangalla. Lalu pendatang dari Sinjai, kampungnya disebut Sinjai Baru. Kampung yang lebih mayoritas Jawa juga pasti member nama yang lebih Jawa tentunya.

Menerima kenyataan dengan keberagaman yang demikian itu, tidaklah mudah dipahamkan ke para pemuda. Sudah menjadi rumus, orang kampung dan orang pendatang menjadi istilah yang sangat mendikotomi segala kondisi. Orang kampung selalu merasa benar karena banyak, lalu kaum pendatang mesti tunduk patuh pada keinginan yang kadang tak wajar dari orang kampung. Persepsi anak kampung asli lalu merembes ke ranah yang lebih formal. Muncul istilah putra daerah. Seolah menekankan hanya putra daerahlah yang punya hak jadi pemimpin. Apapun bentuk yang butuh pemimpin. Orang pendatang seperti haram jadi pemimpin.

Merawat toleransi dalam keragaman memanglah tidak mudah. Di kampung saya misalnya. Sudah menjadi agenda tahunan terjadi perkelahian antar pemuda. Seringkali dilabeli orang kampung versus orang pendatang. Ini adalah persoalan mental. Orang pendatang juga meng-indoktrinasi anak cucunya untuk semakin kuat dalam persaingan apapun. Mandiri tanpa intimidasi. Kalau sudah tertanam sebagai karakter, maka perang antar desa seperti bisul yang bernana. Selalu meradang sakit. Tak disangka sewaktu-waktu nananya akan meluber.

Tidak ada metode yang paling ampuh untuk merawat kerukunan antar umat selain dari bangku pendidikan. Sekolah adalah lahan menanam pengertian dan tenggang rasa di tengah keberagaman. Orang tua dan para guru sudah pastilah menjadi orang yang paling pertama mencontohkan prinsip hidup bertoleransi. Rasa-rasanya metode menceritakan sejarah hanyalah mengokohkan mental penguasa bagi yang muda.

Tulisan ini sebenarnya tak layak menjadi surat untukmu. Lebih tepatnya sebagai refleksi hari raya sebuah kaum di sini. Semoga ada saja hal yang bisa membuat kamu mengerti. Membuat kamu paham dan mengaggap baik apa saja yang kutulis sebagai surat untukmu. Terima kasih bila kamu masih setia menjadi perempuan pembaca.

Luwu Utara, 20 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Gambar; sebandung.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: