Kegagalan Fiksi (18)

 

kegagalan fiksi

Surat ke-18 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Shabahunnur

Setelah hujan yang panjang. Kini sulaman udara pagi begitu murni. Langit juga cerah membiru. Burung gereja dan walet mengeringkan bulu di kabel listrik. Semuanya membentuk harmoni pembuka hari. Mitos hujan di hari jumat kali ini tidak sesuai kenyataan.

Tiga suratmu telah saya baca subuh tadi. Pengakuanmu, semua surat ditulis pada hari yang sama. Jika mau dikalkulasi absen menulismu sudah cukup banyak. Kesalahan memang tidak sepenuhnya dari pihak kamu. Tentu surat yang terlambat saya posting adalah menjadi penyebab utama kamu lambat membalas surat. Mungkin saya terlalu berharap kemandirian yang berlebihan dari surat-menyurat ini. Kenyataannya, kamu selalu menunggu dan saya gagal untuk hadir lebih dulu.

Jika kamu membaca baris demi baris keempat surat terakhir saya. Rasanya kamu melewatkan banyak hal yang bisa kamu tanggapi untuk memanjang-manjangkan suratmu. Kesekian kalinya saya mengulang, saya tak akan menanggapi surat-suratmu sebagaimana cara kamu menulis surat. Kita memang perlu menemukan cara tersendiri untuk memantik ide keluar menjalar sampai membentuk kata. Tapi yang pasti, kamu masih ada di antara huruf.

Beberapa hari terakhir saya geli sendiri menyadari metode klasik surat-menyurat ini. Saya mulai berpikir untuk melakukan kemajuan dengan cara menulis saya. Terus terang, saya begitu kesulitan membuat catatan atau tulisan yang diantarai oelh dialog. Inilah kelemahan yang sudah bertahun-tahun belum juga saya atasi dengan baik. Dulu ada seseorang yang juga intens mengomentari postingan saya, yang selalu menjadi poinnya adalah kurangnya dialog di tulisan saya.

Padahal untuk ukuran bacaan, saya cukup banyak melumat novel yang tentunya diisi dialog-dialog yang sangat bisa menjadi kiblat saya membuat dialog yang bagus. Misalnya, novel Bersetia dari Benny Arnas yang dialognya bagai puisi yang mengalir. Edensor-nya Andrea Hirata yang dilumuri dialog dan metafora yang berkualitas. Novel Rantau 1 Muara dari A Fuadi. Judul novel yang saya sebut adalah judul-judul popular. Sebenarnya ada puluhan buku dan novel di rak buku, namun belum saya baca. Termasuk belasan karya Pramoedya Ananta Toer.

Di suatu malam, saya berniat mencoba menulis cerita fiksi yang lebih pendek. Saya punya stok beberapa ide cerita yang bisa saja menjadi cerita fiksi. Kadang-kadang saya merasa tepat menulis fiksi lalu kadang-kadang saya merasa sama sekali belum pantas membuat cerpen seperti itu. Ah, bila saja kamu mau berbagi sedikit metode hingga saya benar-benar bisa menelorkan cerita fiksi, tentu akan lebih baik.

Cukup sampai di sini surat ke-18 ini. Semakin hari saya semakin lalai pada alur yang semula ingin saya bentangkan di korespondensi kita. Tetaplah menjadi perempuan pembaca. Saya butuh kepastian bahwa seseorang telah membaca surat ini. Itu tentu kamu.

Luwu Utara, 21 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Otpimis

Gambar;

 

 

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: