Tentang Luka dan Ludah (14)

pertentangan langkah

Surat ke-14 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat sore.

Ini surat kedua yang coba saya tulis hari ini. Surat inilah yang semestinya memang ditulis dengan penanggalan 17 maret 2015. Surat ke 14 dari konspirasi surat yang kita buat. Kali ini saya belum juga akan menulis tentang Trip Apparalang bulan lalu itu, sebagaimana yang pernah saya sebut di surat yang lalu.

Saya mencoba sebisa mungkin lebih aktual mengabarkan sesuatu kepada kamu perempuan pembaca. Nantilah, bila saya blank tak ada bahan lagi, maka akan saya ungkit lagi semua jalan-jalan yang pernah saya jejaki.

Semalam seorang adik (yang bila saya sebut namanya maka tentu akan kau kenal) menelpon hampir tengah malam. Sebenarnya saya sudah tertidur sejak beberapa jam sebelumnya. Saya baru punya waktu yang lebih panjang untuk me-recovery energi yang terkuras sehabis camping di Bulusaraung dan perjalanan pulang di dalam bis yang tak nyenyak sama sekali.

Adik itu berbicara banyak dan antusias. Awalnya saya hanya menebak sekadarnya siapa gerangan orang yang menelpon dan bertanya-tanya tentang literasi. Ternyata, meskipun tebakan saya salah, adik itu terus-terusan menjelaskan maksudnya. Dengan signal yang terputus-putus, suaranya juga ikut terputus-putus. Saya kehilangan banyak kata yang dia ucapkan.

Niatnya tidak mengganggu. Saya tahu betul adik itu, semata dia melihat saya sebagai orang punya minat di tema yang dia bicarakan. Lalu pembicaraannya sedikit menjauh dari tema awal, dia banyak menginterupsi kalimat yang saya ucapkan. Lama-lama, dia mengirim berulang kali kata maaf seolah dialah orang yang paling bersalah dengan apa yang baru saja dia singgung.

Saya pahamkan ke dia, soal luka dan ludah yang terlanjur terbuang. Tidak banyak memang yang paham betapa sakit luka yang disebabkan oleh orang yang kita anggap saudara sendiri. Tidak banyak juga orang yang kuat konsisten menjaga lidahnya untuk menjilat ludah yang terlanjur terbuang.

Di akhir-akhir dari serangan maafnya, seakan saya sembuh dengan luka yang saya alami. Dia menyanggah halus sikap yang saya tegaskan, saya mendengar dia membaca mungkin hadits tentang perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Saya mendengar sampai dia habiskan sanggahannya. Kami memang tidak sedang saling mendebat. Tapi dengan cukup lama, rasanya kami berbetah membahas luka dan ludah itu.

Katanya, tak baik merawat luka terlalu lama. Dan sebaiknya saya mesti lebih bersabar dalam dakwah. Mungkin kau bertanya, apa hubungannya luka , ludah, dan dakwah? Semua akibat yang membuat saya patah dan terluka adalah juga bagian dari ikhtiar saya di jalan dakwah. Hanya terkadang, saya belum mampu setotal dan sesabar Nabi. Saat ini, setelah saya bereaksi melihat salah pada ummat dengan usaha tangan, kaki, dan lidah. Maka, untuk untuk sebuah lingkaran ummat tertentu, saya menarik diri dan turun level. Bereaksi dalam hati, bukankah itu juga masih dalam kategori selemah-lemahnya iman?

Lalu saya bahas tentang ludah yang terbuang. Saya semakin merasa kuat pada prinsip Bugis Taro Ada Taro Gau.Tak ada yang keliru dengan meminta atau menerima maaf. Tapi tetap menjalani semua ucapan yang telah termuntahkan dari mulut. Bukankah juga, kata yang telah kita ucapkan bukan lagi milik kita, tapi telah menjadi milik orang yang mendengarnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sengaja saya buat di surat ini, setidaknya kita bisa saling memahami diri, bahwa kita tidak selalu benar di benak orang. Tanda tanya itu adalah sebuah konfirmasi ketidaksepenuh benarnya pendapat saya.

Soal luka dan ludah ini memang masih sengaja saya buat kabur. Kapan-kapan, mungkin ketika saya kehabisan kata, soal luka dan ludah ini bagus kita bincangkan. Dan surat ke-14 ini hanya membahas luka dan ludah itu. Maafkan saya juga bila mengundang salah paham di benak dan tanyamu.

Bila kamu berkenan, kamu boleh saja berkisah lewat tulisan tentang pengalamanmu patah atau terluka. Saya begitu penasaran dengan bagaimana cara orang-orang di lingkar terdekat saya menjahit luka. Sekali lagi, menulis kenangan, apalagi kenangan pahit bukanlah semaksud merobek luka lama atau bahkan berniat merawat luka lama.

Saya hanya kuat pada keyakinan, bahwa setiap hati punya pengalaman mengolah rasanya sendiri. Setiap hati berhak untuk tidak hanya puas pada rasa manis. Hati dan diri kita adalah bagian dari dunia yang tidak boleh tertanam sia-sia. Sebisa mungkin, hidup kita adalah manfaat bagi dunia setelah kita.

Luka dan patah adalah lumrah di seluruh hati. Luka dan patah yang mencerahkan adalah jumlah yang tidak sebanyak luka dan patah yang membunuh. Karena luka dan patah adalah konotasi dari sebuah kondisi yang tidak wajar.

Dan tentang ludah dan lisan yang kata pepatah adalah setajam-tajamnya pedang. Saya juga sangat ingin membaca tulisan tentang lisan yang kamu perkarakan. Lisan yang sering membawa banyak sekali tangkai-tangkai masalah. Lisan yang menyayat mungkin? Sungguh saya ingin membacanya.

Sekali lagi terima kasih untuk semua pengertian dan pengecualian yang kamu tangkap dari kesalahan ini. Saya rasa, maaf yang diterima bukanlah sebuah totalitas untuk mengembalikan luka dan patah yang lalu. Juga maaf yang diterima tidaklah memberi arti bahwa ludah yang terbuang boleh untuk dijilat kembali.

Luwu Utara, 17 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Gambar; google

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: