Surat yang Tertunda (13)

refleksi pendakian bulusaraung

Surat ke-13 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat sore.

Saya sudah membaca tiga surat terakhir yang kamu posting. Sebelum kamu mempostingnya, entah kenapa saya kembali menaruh curiga. Jangan-jangan kamu telah menjadikannya lupa. Saya mudah sekali membuat prasangka. Prasangka apa saja, bahkan pada sebuah keyakinan yang sudah tertanam kuat. Saya tetap saja memberi ruang skeptis untuk bertanya dan ragu. Di dunia ini masih sangat susah menemukan kejujuran dan kesetiaan di luar rumah. Itulah kenapa saya begitu menyerahkan diri sepenuhnya ketika di rumah.

Saya mendapati beberapa pertanyaan di surat terakhirmu. Termasuk tentang terminologi perempuan pertama dan kedua yang kamu ingin saya mendefinisikannya. Sayangnya, lingkungan yang kita buat ini belum cukup akrab untuk menceiterakannya secara gamblang. Suatu waktu nanti tetap akan saya bahas soal perempuan itu.

Ada juga hal lain yang saya dapati berbeda di surat-surat terdahulumu. Kamu mulai mengubah kata ganti “kakak” yang biasa kamu gunakan dengan kata ganti yang lebih intim “kau”. Saya juga masih enggan memastikan kalau “kakak” yang kau maksud sepenuhnya adalah saya. Sebenarnya saya baik-baik saja dengan perubahan itu, bahkan saya merasa berhasil mengeratkan sesuatu yang sebaiknya memang berjarak dekat.

Baiklah, tiga paragraf di atas hanyalah pembuka bagi saya untuk kembali menceriterakan lebih banyak kisah. Kisah yang akan kamu baca atau akan menjadi kisah yang disimpan oleh semesta ini. Saya selalu meyakinkan diri kalau suatu waktu ketika kita sudah tak ada di dunia ini, kisah tertulislah yang akan angkat bicara tentang siapa kita pada kehidupan yang lalu.

Paragraf ini penting untuk kamu baca, surat ke-13 ini sebenarnya adalah penggabungan dua surat yang saya tulis di hari ke-14. Yakni surat ke-13 dan surat ke-15. Paragraf ini adalah paragraf yang baru saya bubuhkan di hari ke-16, artinya diedit pada tanggal 19 Maret. Dua hari setelah ketiga surat itu saya tulis. Mungkin akan kamu temukan beberapa alur yang terputus. Saya sungguh tak tega menghapus surat ke-15 itu, karena berisi refleksi pendakian gunung. Sebagaimana pinta di suratmu.

Sudah dua hari saya di kampung halaman. Sebenarnya, banyak sekali hal yang bisa saya urai di sini. Tapi saya akan memilih beberapa poin saja. Termasuk kabar tentang buah-buahan yang pernah saya singgung di surat sebelumnya.

Buah-buahan disini begitu banyak. Kemarin, saya disambut dengan rambutan yang kemerah-merahan. Harganya sudah sangat murah, di pasar-pasar dijual hanya seharga 1500 sampai 2000 rupiah sekilo, itupun masih jarang orang yang mau membeli. Durian juga seperti itu. Dada saya semalam sampai panas karena makan beberapa biji durian. Harga durian juga dibanting, enam biji hanya seharga 15 sampai 20 ribu rupiah.

Di kampung saya sendiri, orang-orang sudah lebih banyak membeli buah-buahan yang sedang banjir itu. Sejak beberapa tahun yang lalu, kebun yang dulu banyak tumbuh pepohonan buah, kini berubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit yang monoton. Pohon-pohon durian yang besar itu ditebang habis. Ada yang karena desakan kondisi ekonomi, ada juga yang menyulapnya menjadi papan untuk rumah-rumah yang baru dibangun.

Beruntung, orang di rumah masih visioner dengan kemungkinan-kemungkinan yang menimpah, mungkin pada anak atau cucunya nanti. Di kebun-kebun yang juga ditumbuhi ratusan pohon sawit, pohon-pohon durian juga masih dibiarkan kokoh dan berbuah meski hanya sekali setahun. Begitu juga dengan pepohonan buah yang lain. Semacam langsat, rambutan, mangga, nangka, pisang, bersama tanaman-tanaman lainnya yang memungkinkan tumbuh di selah-selah batang sawit yang perkasa.

Saat pulang kampung begini, saya tak pernah luput untuk melihat-lihat kebun. Sering juga saya datang besama parang atau sabit sekadar membabat rumput-rumput liar yang tak diinginkan tumbuh. Atau kalau sudah puas di kebun maka saya akan lari ke sungai, mendayung mengikuti aliran air, kadang juga memancing. Atau kalau tak mau repot-repot, cukup meminjam pukat pendek milik tetangga lalu di hampar di tengah empang dan ikan-ikan bandeng akan mengamuk menabrak pukat tersebut.

Saya selalu menganggap kampung halaman adalah palung kehidupan yang menyimpan kerinduan ynag sangat dalam. Semakin jauh seorang anak dari kampungnya, maka semakin kuat tarikan kerinduan untuk segera pulang. Karena tak ada obat yang lebih mujarab mengobati rindu selain pulang.

Sekian dulu surat ke-13 ini. Bila masih sempat, saya menulis dua surat lagi setelah ashar. Selamat menikmati sibuk dan proses tumbuhmu. Bila ada soal yang sukar kau jawab lewat surat, boleh saja kau menulisnya dengan nada obrolan di sosial media.

Semestinya surat ke-13 hanya sampai paragraf penutup di atas. Paragraf-paragraf setelah ini adalah surat ke-15 yang lebur masuk ke surat ini. Saya merasa sangat egois bila tetap menulis surat lebih dari satu setiap hari. Itu juga akan menarik mundur surat ke 16 yang telah terlanjur saya tulis semalam, menjadi surat ke-15. Kadang-kadang kekhawatiran kita berlebihan terhadap sesuatu yang belum kita alami. Padahal, kita tidak pernah menyangka kapan tangan Tuhan merengkuh diri kita.

Saat menulis surat ini, hari sudah senja. Saya tak tahu dan belum mampu menebak kapan waktu yang biasa kamu gunakan untuk mengecek dan membaca surat-surat yang saya buat. Mungkin bila saya tahu, saya akan menyesuaikan salam pembuka yang saya tempel di atas.

Saya teringat kembali kerendahatianmu membalas surat. Maafkan saya, sangkaanmu soal hidup dan tidak beralurnya korespondensi kita ini jauh dari apa yang saya maksud. Apalagi tentang dugaanmu yang seolah membanding-bandingkan surat-surat saya dan surat bernada balasan yang kau tulis. Makna sebuah kalimat memang kadang menimbulkan ambiguitas dalam tafsirnya, tapi sejujurnya saya sangat jauh dari tafsir yang kamu tuliskan di suratmu.

Surat ini akan saya cukupkan dengan merefleksi pendakian ke Bulusaraung 14-15 Maret kemarin. Bila tidak keliru, kamu meminta saya menyempatkan diri membuat catatan perjalanan. Semoga saya bisa membaurkan semua maksud dalam satu tangkai surat pertengahan ini.

Saat di puncak Bulusaraung, belum lama ketika sang surya menampakkan diri di jendela timur bentangan karst Maros-Pangkep. Saya sepintas teringat perihal catatan perjalanan yang akan menjadi bahan saya menulis surat. Dan ketika itu, saya sekuat daya imajinasi berusaha menemukan metafora-metafora yang menarik sebagai pemanis di surat-suratan ini. Dan hasilnya, semua metafora di puncak gunung itu, hanyut di telan lelah sesampainya di depan laptop.

Meskipun kamu kurang suka dengan aktifitas mendaki gunung, semoga saja itu tidak mengurangi minatmu membaca surat pertengahan ini. Rasa-rasanya begitu sulit membangkitkan sense of humor di korespondensi ini. Mungkin kamu bisa memulai membuat sedikit lelucon yang boleh jadi bisa melukis tawa saat saya membacanya. Dengan begitu, maksud saya soal hidup dan apik tidaknya surat-suratan ini bisa sedikit mengurai makna.

Saya kembali soal refleksi pendakian. Hobi mendaki sendiri adalah hobi yang sangat murah. Cocok untuk para mahasiswa. Tidak perlu mencari jauh siapa orang yang punya hobi mendaki gunung. Sayangnya, terminologi pendaki gunung dan pecinta alam mengalami pembauran makna. Padahal tidak semua pendaki gunung adalah pecinta alam. Begitu juga, tidak semua pecinta alam adalah pendaki gunung. Karena, untuk menjadi pecinta alam kita tidak mesti mendaki gunung.

Mudah saja membedakan dua frase itu, saat mendaki gunung di lokasi camping akan kita temukan banyak sekali pendaki yang membuang sampahnya sembarangan. Bukan hal yang langka juga, kalau para pendaki adalah perokok berat yang justru menghabiskan berbungkus-bungkus rokoknya saat mendaki gunung. Puntung dan bungkusan rokok yang berserakan di track mendaki adalah sebuah indikasi bahwa orang yang melakukan pendakian bukanlah seorang yang mencintai alam.

Kemarin, saat di puncak gunung. Secara tak sengaja saya menyaksikan dua cewek yang menggunakan kaos komunitas Jalan-Jalan Seru begitu asyik menghabiskan batang demi batang rokoknya di puncak gunung.

Saya tidak mungkin menyalahkan aktifitas merokok. Saya juga kadang merokok, tapi soal abu dan puntung rokok haruslah jelas berada di tempat yang benar. Tapi saat di puncak begitu, siapa yang bisa menyangka dimana orang-orang akan membuang asap, abu, puntung, dan bungkus rokoknya? Ya kemungkinan besar akan menjadi sampah di alama bebas kan.

Hal yang miris saat mendaki adalah hal-hal seperti itu. Soal sampah itu. Alam memang mengisyaratkan keindahan, tapi dengan kunjungan pendaki secara massif dan sporadis seperti itu, bukan tidak mungkin justru akan menjadi ironi bagi alam. Pendakian memang mencari suasana alam bebas, tapi tidak berarti kita juga bebas melakukan apa saja. Termasuk bebas mengotori alam.

Selain itu, masih banyak juga pendaki yang juga sekaligus pelaku vandalisme. Buktinya, di pos-pos pendakian puncak gunung bukan hal tabu menyaksikan ratusan nama dan identitas tertempel di sana. Ada yang pakai spidol, filox, arang bahkan ada mengukir dengan pisau atau parang. Hal-hal seperti ini sangat jauh dari kesan pecinta alam.

Hal yang juga akan sulit kita temukan di area camping adalah orang-orang yang masih terjaga sholatnya. Padahal kan ada banyak keringanan untuk orang-orang musafir dan orang–orang yang bepergian di alam bebas.

Saya tidak merasa paling benar sebagai orang yang mencintai alam. Tapi baiknya, setiap perjalanan atau pendakian memang mesti ada refleksi untuk mengoreksi diri. Saya ingin mengutip falsafah pendaki yang sudah membahana ini, “jangan ambil apapun kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, dan jangan membunuh apapun kecauli waktu”.

Terima kasih bila sudah berhasil membaca refleksi mendaki ini, saya akan menunggu balasan surat-suratmu.

Luwu Utara, 17 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: