Bagian Penjelas (16)

trip Apparalang

Surat ke-16 #30surat

Teruntuk Irtie Finadh Maricus

Sobahunnur

Surat kedua yang menyebut namamu. Dengan penulisan namamu yang seperti di atas, berasa seperti nama asing dari benua lain. Tapi kreativitas mengantarkan saya memodifikasi namamu menjadi jauh sekaligus dekat.

Di kesempatan inilah mungkin akan saya gunakan untuk menulis catatan trip Apparalang. Semoga saya terhindar dari cara menulis seperti pada refleksi pendakian Gunung Bulusaraung kemarin.

Ah mungkin ada baiknya bila saya juga menyinggung tentang Rumah Aliansi. Tentu baik bila saya mengawalinya dengan itu. Trip Apparalang pada bulan Februari, tidak lepas dari konsolidasi yang intens di Rumah Aliansi. Kamu tahu, Rumah Aliansi adalah Rumah Nalar kedua. Selain karena berakar sejarah yang sama, letaknya juga masih dalam kategori tetangga. Masih dalam lingkup kompleks Patun Makateks Makassar.

Penghuninya pula adalah paling tidak alumni penghuni Rumah Nalar. Sekadar penegasan, saya bukan penghuni Rumah Aliansi. Status saya semestinya adalah tamu, atau pengunjung yang membaur sampai ke dapur. Sejauh ini, Rumah Aliansi menjadi rumah bersama bagi seluruh karib kerabat penghuninya. Rumah Aliansi sering orang menyingkatnya menjadi RA. Sehingga ada juga orang yang membuat RA menjadi kependekan dari Rumah Alumni.

Yang saya paham, empat penghuni awal Rumah Aliansi memiliki kesamaan yang fundamental. Saat itu, sama-sama menyandang status mahasiswa tingkat akhir, para mahasiswa dengan dua digit semester. Misalnya, waktu itu Ibe, Salim, dan Najib sama-sama semester 10 sedangkan Wahyu sudah masuk di semester 12. Sehingga rumah yang mereka kontrak bersama itu, mereka sebut dengan Rumah Aliansi Mahasiswa Semester Dua Digit.

Lama-lama orang hanya menyebut Rumah Aliansi saja, karena orang lain yang datang bersilaturrahim merasa menjadikan doa frase yang mengikut setelah kata Aliansi itu. Lalu, digeser sedikit mungkin ke ranah doa yang lebih baik, disebutlah RA menjadi Rumah Alumni.

Dengan menjelaskan Rumah Aliansi, saya merasa terdengar konyol dan membuang-buang waktu dan kata-kata saja. Apa pentingnya penjelasan itu semua bagi dunia? Ah saya tak mau terlalu banyak berpikir tentang penting atau abainya sesuatu yang saya tulis. Saya hanya perlu mencatat lebih banyak. Menulis lebih banyak. Semoga suatu waktu, ada yang menerima manfaat dari apa yang saya tulis.

Banyak sekali hal yang layak menjadi tulisan dengan latar peristiwa-peristiwa di Rumah Aliansi. Semisal tentang kebiasaan-kebiasaan memasak para lelaki di rumah itu. Atau tentang kecanduan trip orang-orang yang dibawah payung Aliansi. Ataukah tentang mimpi-mimpi terbang tinggi para pemuda di sana.

Yang sedikit memungkinkan untuk saya tulis sebagai bagian dari surat untukmu adalah pada bagian candu tripnya saja. Kurang lebih setahun lalu, orang-orang disana sering sibuk membicarakan agenda trip atau perjalanan. Kadang-kadang hanya menjadi rencana dan wacana saja.

Hampir semua orang senang melakukan bepergian. Menjauhi rumah. Lalu merinduinya lagi. Menghirup udara bebas. Lalu lekas pulang lagi. Memandangi pantai dan laut. Lalu pamer dengan banyak foto. Mendaki gunung, seperti mencari sesuatu yang hilang di hutan belantara. Menaklukkan puncak, seolah ada klimaks yang menjanjikan di atas sana. Menjejal aspal sampai beratus kilometer jauhnya. Tak ubahnya orang yang sedang mengukur syukur.

Seperti pada pertengahan februari lalu itu, wacananya tak lebih dari seminggu hingga orang-orang benar-benar telah berada jauh di Bulukumba. Beberapa orang dari personel yang ikut trip Apparalang telah membuat caption yang bagus-bagus di foto instagramnya. Saya juga telah mengunggah beberapa lembar gambar bersama dengan caption dadakan.

Apparalang adalah lokasi wisata bahari yang belum lama dibuka di Bulukumba. Tebing tinggi dengan air lautnya yang membiru kehijauan adalah pesona yang ditawarkan. Selain itu, ada beberapa keping bongkahan batu karang yang menonjol di air laut. Yang dari kejauhan menyerupai gugus pulau yang menghias luaran tebing. Cuma, agak berlebihan kalau dikatakan mirip miniatur Raja Ampat Papua.

Orang-orang banyak sekali menaruh rasa penasaran dengan nama Apparalang. Seketika melejit bagai roket yang disaksikan jutaan orang. Luas dan cepatnya peredaran gambar melalui sosial media berhasil menarik minat, mungkin ribuan orang setiap minggunya. Itu juga yang menyambar kepala saya dan beberapa orang di Aliansi.

Hari keberangkatan yang kami pilih bertepatan dengan hari yang banyak orang menyebutnya hari kasih sayang, atau valentine day. Kami baru berhasil meninggalkan Makassar seusai dhuhur. Padahal kami sudah bersiap-siap sejak pukul sepuluh pagi. Perjalanan bersama seringkali memang dilengkapi dengan menunggu orang atau menunggu sesuatu sampai semuanya benar-benar siap. Disitulah keegoisan mengalami peleburan.

Daeng Ewing kembali menjadi manager trip Apparalang. Beliau ahli dalam negosiasi, buktinya tempat menginap kami selama semalam di Bulukumba sudah berhasil dipastikan. Kediaman keluarga Penalaran, Tismi Dipalaya atau sekaligus Darul Syahdanul yang keduanya adalah saudara kandung.

Trip Aliansi sengaja didesain menginap, tapi tidak menginap di hotel atau penginapan. Desain menginap itu mengandalkan jaringan Penalaran. Kamu tahu kan anggota dan alumni Penalaran tersebar hampir di seluruh tempat di Sulawesi Selatan. Bila tempat yang dituju mentok tak ada rumah Laskar Nalar disana, maka tenda bulan akan siap digelar sebagai bagian dari trip murah.

Kedua orang loyalis Penalaran itu sebenarnya sedang tidak di rumahnya. Tapi kedua orang tuanya begitu welcome menerima saudara tak sedarah anak-anaknya itu. 2011 silam rumah itu memang pernah diserbu puluhan Laskar Nalar sehabis pelaksanaan Karya Bakti ilmiah di Desa Kahayya. Termasuk saya dan Daeng Ewing yang pada waktu itu kelelahan turun dari gunung.

Sepuluh orang bukanlah jumlah yang sedikit untuk predikat tamu. Tapi kami menerima suasana begitu akrab yang dibentangkan oleh kedua orang tuanya. Waktu yang lebih luang akan digunakan untuk mendengar banyak kisah dan pelajaran hidup yang menginspirasi dari Bapaknya Tismi. Sorot pandangnya tentang kebahagiaan begitu berbeda dengan banyak orang.

Pensiunan yang juga sedang mengoleksi batu cincin itu mengabarkan sejarah dengan cara yang sangat visioner. Betul-betul orang tua yang baik, kisah-kisahnya sama sekali tak mengandung indoktrinasi yang mengajak. Saya betah mendengar tanpa banyak komentar balik. Atau mungkin memang semua orang tua adalah orang yang baik bagi anak-anaknya. Saya sudah mulai kabur dengan ingatan tentang bapak, saya sudah kehilangan sosok bapak sejak baru masuk bangku SMP. Rasanya, saya tak mampu mengutip dengan baik banyak petuahnya.

Baiklah saya kembali ke topik Trip Apparalang. Apparalang, saat ditanyakan ke Bapaknya Tismi, beliau juga belum bisa memastikan letak lokasinya. Indikasi bahwa lokasi ini memang baru populer bukan isapan jempol. Buktinya, orang yang waktunya banyak dihabiskan di Bulukumba sendiri, belum begitu familiar dengan nama Apparalang.

Dengan informasi yang dirangkum dari berbagai sumber,kami melaju mendekat di jalur Pantai Bira. Internet dengan google maps-nya sangat membantu kami terhindar dari tersesat dan salah arah. Memang lumayan ektrim medan menuju tebing itu. Ada beberapa turunan dan tanjakan. Ditambah dengan kondisi jalan yang masih beralas sirtu.

Bila sekali lagi saya kesana, saya akan melengkapi diri dengan peralatan snorkeling. Saya sebenarnya sengaja membawa kacamata renang. Tapi karena kurang puas, lalus aya meminjam kacamata seorang bocah yang lebih besar di sana. Naasnya, kacamata yang saya pinjam itu, mengalami patah setelah saya paksa untuk dieratkan di wajah. Sebagai ganti tidak enak saya, maka saya berikan saja kacamata renang punya saya ke bocah itu.

Hal lain yang juga perlu saya ceritakan, bahwa saya berhasil menaklukan ketakutan saya untuk melompat di tebing Apparalang. Saya menaksir, tinggi tebing itu tidak kurang dari 13 meter. Di antara ribuan orang di sana, hanya beberapa orang saja yang masuk kategori berani. Termasuk dua dari personel Aliansi. Saya dan Fitrah.

Seminggu setelah saya dari Apparalang, saya masih merasakan pegal dipunggung dan tulang belakang. Saya meyakini, pegal itu adalah pegal yang disisakan dari lompatan di tebing. Dan kabar lain yang tak kalah mengagetkannya adalah kabar tentang seorang yang meninggal di Apparalang gegara salah mendarat di air saat melompat dari tebing. Kejadiannya, saya kira-kira tidak telalu lama setelah hari saya melompat di tebing itu. Dengan insiden itu, maka tak ada lagi aktivitas melompat dari tebing di sana.

Surat ini rasanya sudah menjadi begitu membosankan dan semakin jauh dari apik yang kita inginkan. Maafkan saya, tulisan-tulisan yang tersulap surat ini adalah aliran pikiran yang sudah saya ceritakan berulang ke orang-orang. Sekali lagi, saya hanya khawatir suatu saat ingatan saya menjadi aus dan tidak lagi mampu berkisah. Mungkin ada bagian yang kau langkahi di surat ini karena jenuh dengan kalimat monoton yang saya paparkan. Perihal membaca adalah perihal mood dan motivasi. Tapi yang ingin saya pesankan, rajinlah-rajinlah membaca. Karena menulis adalah dua kali membaca.

Luwu Utara, 19 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: