Sibuk (11)

puncak bulusaraung

Surat ke-11 #30surat

Kepada Perempuan Kedua

Sobahunnur

Awal-awal surat ke-11 ini saya terlebih dulu ingin meminta maaf. Di surat sepuluh saya sempat mengatakan kalau saya akan merampungkan surat ke-11 dengan cerita trip Apparalang. Kemarin saya lumayan banyak urusan. Beberapa hal saya persiapkan, orang di rumah juga banyak pesanan yang harus saya bawa pulang besok. Semalam, mungkin belum jam 10 saya sudah terkapar di atas kasur.

Saya mulai mencermati surat-suratmu. Kamu sedikit demi sedikit bagai tirai yang terbuka. Membahas hal-hal yang lebih “rasa”, ini sebuah kemajuan di surat-menyurat kita. Semoga saja, kita terus menulis dengan jujur, paling tidak kejujuran atas khayalan kita sendiri.

Oh iya, jika kamu menyimak dengan baik beberapa surat saya sebelumnya, kamu mungkin sudah bisa menebak beberapa hal yang menjadi hobi saya. Saya belum berceritera, kalau pagi ini, setelah saya menerbitkan surat ini saya akan melakukan pendakian ke Puncak Bulusaraung.

Ini pendakian ketiga saya di Bulusaraung, akhir bulan Januari lalu, saya juga sempat ke puncak yang waktu itu pemandangan alamnya tertutup rapat dan hujan jatuh terus menerus. Pendakian pertama bersama para Aliansi, bulan juni 2014.

Hari ini saya berangkat bersama adik-adik saya yang se-kampung se-halaman. Mereka anak-anak muda yang baru mekar dan begitu mencari banyak pengalaman. Dulu, sudah lama sekali memang pernah saya janji ke mereka akan melakukan pendakian bersama. Barulah kali ini saya konfrontir mereka. Takutnya, kalau saya gagal kali ini mendaki bersama mereka, saya tidak punya kesempatan lagi untuk melunasi janji.

Dan sedikit info, dua dari delapan mereka adalah adik kandung saya. Yang setahun lalu juga saya ajak menanjak di Lembah Ramma Pegunungan Bawakaraeng. Semoga surat ke-11 ini cukup untuk dikatakan surat.

Saya tidak bisa berpanjang-panjang di surat ke-11 ini. Saya mungkin akan memposting dua surat pagi ini sekaligus. Surat ke-11 dan ke-12. Saya akan memaklumi daengan rapel tiga suratmu, dan imbalannya kamu juga mesti memaklumi rapel surat ini. Terima kasih bila sudah memaafkan saya, dan lebih terima kasih bila kamu masih sempat membaca dan membalas surat.

Makassar, 14 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: