Melunasi Janji (12)

puncak talung

Surat ke-12 #30surat

Kepada Perempuan Kedua

Sobahunnur

Saya lega sekali, waktu mengalir begitu cepat. Lalu kita sudah hampir berada di tengah misi ini. Ada surat yang kusimpan sebagai draft, saya menunggu momentum yang paling baik untuk menerbitkannya. Mana tahu, kalau suatu waktu nanti balasan suratmu ada yang serupa dengan isi surat yang saya simpan itu.

Beberapa surat ini tentulah masih kepada kamu, perempuan kedua. Di luar sana, karena ternyata setting-an blog wordpress saya ini terhubung dengan akun twitter @marufmnoor dan akun halaman Lelaki Optimis, jadi ada beberapa orang kerabat yang mulai geli dan bertanya-tanya perihal siapa perempuan yang ada di surat ini.

Seingat saya, pernah juga kamu sendiri yang bertanya, soal perempuan pertama dan kedua. Rasanya, saat ini belum tepat untuk membedah dua terminologi perempuan itu. Anggap saja ini semua adalah bagian dari konspirasi korespondensi kita.

Surat ke-12 ini juga tidak terlalu panjang. Hampir serupa dengan surat sebelas, hanya akan mewartakan kalau sebentar lagi saya akan bertolak dari Makassar. Pagi ini, yang janji saya ke adik-adik itu untuk meninggalkan Makassar jam 7 pagi. Berarti menghitung mundur beberapa menit lagi.

Besok, jika semua baik-baik saja. Saya akan turun dari gunung lebih awal. Karena malamnya, saya akan melanjutkan perjalanan ke kampung halaman. Di senin itu, seorang sahabat akrab saya semasa sekolah SMP dan SMA, sebenarnya juga waktu kuliah di Makassar akan menjadi ratu sehari. Saya sudah janji akan hadir. Bukankah, di hari-hari seperti itulah restu seorang sahabat begitu ampuh mengusir ragu dan begitu membangkitkan optimisme melewati lautan badai kehidupan keluarga?

Saya begitu peka dengan kata janji. Saban hari pernah seseorang terisak-isak di telinga saya karena janji yang saya ingkari. Saat itu saya merasa sangat salah. Beberapa tahun terakhir, saya bangkit dan menyadari kesalahan itu. Saya menjadi lebih tegas dan memilih-milih kapan dan kepada siapa saya mesti berjanji. Karena janji adalah belenggu yang mengikat manusia. Bila janji sudah tak mampu lagi dibuktikan, lalu apa lagi?

Akhir kata, semoga kita baik-baik saja dengan konspirasi surat ini. Kamu jangan terlalu cepat merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan kau dengar samar atau bahkan kau dengar langsung. Tetaplah menulis atau membalas surat.

Makassar, 14 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s