Suara-Suara Masa Lalu (9)

soundcloud marufmnoor

Surat ke-9 #30surat

Untuk Perempuan Kedua

Sobahunnur,

Hai, perempuan kedua yang juga adalah kamu. Dengan tiga suratmu yang kau rapel, setidaknya sangka-sangka yang tumbuh di kepala menjadi gugur. Ternyata kita masih belum mudah untuk berhenti. Menulis. Bukan hanya melukis langit dengan mimpi. Kita menulis untuk mengekalkan sejarah diri sendiri yang tidak boleh kita bohongi. Karena rupanya, setiap tulisan semestinya adalah kebenaran, sekurang-kurangnya kebenaran atas apa yang kita pikirkan.

Hari ini sudah masuk hari kesembilan. Masih banyak sekali puing-puing masa lalu yang belum pernah saya tulis dengan paragraf-paragraf panjang. Saya paham, bahwa hanya diri sayalah yang paling baik untuk menuliskan tentang diri saya. Meski, kita tidak tahu suatu saat nanti saat kita menjadi tua dan berakhir dengan gelar “tokoh”, mungkin akan banyak orang yang mengisahkan perjalanan hidup kita. Mana tahu kan.

Ada hal baru yang ingin kusinggung di bagian kesembilan ini. Kau mungkin belum terlalu menyadari, bahwa setiap diri punya sisi yang ingin sekali orang banyak tahu. Saya kira, salah satu naluri manusia yang abadi adalah adanya keinginan. Keinginan yang banyak sekali. Serupa aktualisasi diri, yang menurut Maslow menjadi satu dari empat keinginan dasar hidup manusia yang kalau dimodelkan, maka keinginan aktualisasi itu berada di puncak piramida. Dan di bagian lainnya mengurut kebutuhan keamanan, sandang pangan, psikis dan, biologis di bagian dasar.

Bukan oleh dasar teori itu, maka saya banyak melakukan atraksi aktualisasi diri. Kau tahu sendiri, saman digital yang kita tempati sekarang ini menuntut kita untuk melek pada teknologi. Bukan hanya sekadar tahu dan candu, atau bahkan jadi budak teknologi, kita sejatinya manjadi manusia yang arif bijaksana memilih apa dan kapan teknologi itu kita butuhkan. Cukup yang kita butuhkan saja.

Saya suka belajar sejarah, tapi saya kurang kuat mengingat banyak peristiwa, semacam tanggal, bulan dan tahun kejadian. Lalu apa hubungannya sejarah denga aktualisasi diri? Mungkin kau pernah mendengar banyak tentang orang-orang yang begitu mendamba sejarah bahkan merinduinya sampai berani mati. Kau juga mungkin belum pernah merasa begitu ingin berjumpa dengan seseorang yang lebih dulu menjadi sejarah. Saya pernah. Pernah dalam sebuah mimpi, begitu samar menjumpai Nabi.

Bahkan sebuah mimpi pun bisa menjadi ruang yang menginspirasi dan berujung pada sebuah akrobat aktualisasi diri. Saya banyak bersyukur, dibuat hidup berumur di waktu yang orang-orang pintar dari negeri lain membuat simplifikasi sebegitu rupa. Karena bercermin dari kerinduan banyak orang pada Nabi. Kerinduan bahkan pada suaranya. Saya membuat sebuah akun soundcloud untuk merekam suara. Sekarang ini memang hanya berisi suara yang bergemuruh dengar ketidakjelasan nada gitar. Sangat tidak merdu. Suara rekaman yang kuinboxkan via facebook adalah salah satu dari belasan lagu yang saya cover sampai saat ini. Kamu tidak perlu ragu mencelanya. Saya adalah pembelajar yang bisa menerima kritik dan saran.

Saya optimis, hari-hari ke depan. Di sela-sela aktivitas, akun itu tetap akan saya isi. Mungkin suatu kali akan kubaca sendiri beberapa sajak yang pernah kutulis di blog ini dengan musikalisasi yang juga kubuat sendiri. Di bayangan hari-hari yang begitu intim dan mesra di sebuah status bernama keluarga kecil nanti, akan tetap kuisi akun itu. Tentunya akan lebih syahdu bersama pasangan hidup yang semoga tidak terlalu buta dengan nada dan suara. Hahaha, saya banyak berhayal akan hidup yang lebih panjang. Kehidupan yang layak dan sederhana. Kehidupan yang bersama.

Saya yakin aktualisasi diri ini bukanlah sebuah gejala narsisme yang over dan merupakan kelainan kejiwaan dalam ilmu psikologis. Satu hal yang saya pegang erat saat ini adalah prinsip kebermanfaatan saya di ummat. Dengan begitu, semoga aktivitas itu bermanfaat dan saya dengan tenang bisa bersenang-senang bersama musik.

Demikian surat kesembilan ini. Oh iya, saya kabarkan lebih awal bahwa di akhir pekan ini saya akan pulang ke rumah di “Palopo”. Mungkin beberapa malam sebelum saya pulang saya akan membekali diri dengan merapel beberapa surat. Saya belum menentukan kapan saya kembali ke Makassar. Tapi saya bisa meyakinkan kalau saya masih sangat bersemangat menuntaskan misi 30 surat ini. Supaya kita tidak lagi memuntahkan kata behenti.

Makassar, 12 Maret 2015

Tertanda,
lelaki Optimis

Advertisements

2 Responses to “Suara-Suara Masa Lalu (9)”

  1. mujahidzulfadli Says:

    mama yooo,,, tara kosong,,, | kanda satu ini tak berbendung. pertengahan tahun ini, jadikan buku sudah. beta tunggu kabar bae selanjutnya.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: