Hujan dan Surat yang Urung (8)

langit merah saga

Surat ke-8 #30surat

Kepada Seorang Perempuan

Sobahunnur.

Sejak kemarin saya menunggu suratmu. Mungkin kamu lelah, dan saya harus segera paham kondisi tersebut dengan tidak perlu menuntut. Bukankah segala sesuatu bisa berubah dengan sangat cepat, bahkan tanpa sadar kita masih menikmati kenyataan yang sebenarnya telah me-masa lalu.

Saya tak bisa memastikan apakah surat ketujuh-ku telah kamu baca atau belum. Sepertinya, itu tak menjadi soal untuk urusan dan misi 30 surat ini. Toh, kita tidak pernah membicarakan kewajiban untuk membaca masing-masing surat. Tapi meskipun mungkin saja kamu belum membaca surat sebelum ini, saya belum sedikit pun berniat berhenti. Saya sangat jarang menemukan momentum klasik serupa korespondensi ini sebagai motivasi yang maha kuat untuk menulis setiap harinya.

Kamu boleh saja tidak perlu membaca surat-surat ini lagi, karena saya hanya perlu menganggap bahwa tetap akan nada orang lain yang bersaksi sebagai pembaca surat-surat saya ini. Sekali lagi, bukankah semua tulisan punya pembacanya masing-masing. Termasuk surat-surat ini.Dan saya tidak perlu memikirkan spekulasi di balik semua sangka yang saya bikin sendiri. Semisal, kamu telah jenuh dan urung dengan perkara ini.

Baiklah, mungkin bukan kamu lagi yang saya maksud “kita” di sini. Kita sama-sama paham, sudah beberapa hari terakhir, hujan tak turun di musim yang basah ini. Hanya ada banyak awan yang memayungi langit kota. Tak tahu saya rasanya rindu, apalagi hanya kepada hujan. Hujan yang sangat ironi. Hujan yang memudahkan orang memuntahkan gerutu dari mulut-mulut yang tak pandai bersyukur.

Bagaimanapun kondisinya, hujan atau hanya mendung. Saya dan semua, mungkin perlu banyak-banyak memahami dan membaca tanda-tanda langit, terlebih fenomena alam. Saya pun bukanlah orang yang terpandai bersyukur, tapi saya usaha untuk semakin kurang dalam gerutu.

Masih perihal langit. Kemarin lengit senja begitu misterius. Merah saga dan jingga berebut tempat di lingkar sang surya. Saya telan semua warna itu di sebuah tempat yang begitu banyak di tumbuhi ilalang. Sebelumnya senja itu berkabung di telan horizon, saya mencukupkan kekaguman saya pada alam dengan mandi di Danau Mawang.

Tidak banyak orang di sana. Danau itu hampir sama misteriusnya dengan senja yang mengakhiri hari. Airnya jernih dan biru yang sedikit menghijau. Tenang dan dalamnya jauh. Saya tak banyak di air. Karena di ranah barat, benang cahaya berubah warna. Senja datang menghias.

Saya bertolak dari tenang itu setelah saya kenyang menghirup aroma terang. Gelap datang menjalar dan firman Tuhan dibacakan dari seluruh penjuru. Langit meluruh dalam hening yang akan mengantarnya di kelam malam.

Selamat pagi, siapapun yang membaca surat kedelapan ini. Bila itu masih kamu, maka kepada kamulah surat ini saya gubah. Kepada seorang perempuan.

Makassar, 11 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Gambar; anawaitrisna.wordpress.com

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: