Bila Saya Pulang (7)

bila saya pulang

Surat ke-7 #30surat

Kepada Seorang Perempuan

Sobahunnur.

Saya belum ingin luput menulis surat seperti kamu. Sejujurnya, saya baru saja merampungkan surat ketujuh yang lebih jujur. Tapi setelah membaca ulang, rasanya belum pantas surat itu menjadi surat yang masih awal-awal. Dan saya simpan dulu konsep surat itu sampai waktu yang lebih baik itu datang.

Okeh, masih banyak sekali perihal yang sanggup saya ceriterakan. Namun, kendala semua orang itu sama. Kemampuan menerjemahkan keinginan menjadi sebuah tulisan adalah batu besar yang menghalau jalan menuju ceritera tertulis itu. Sesungguhnya, di kepala kita, banyak sekali hal yang mungkin layak menjadi kisah, atau mungkin saja akan menginspirasi orang yang membacanya.

Awal pekan ini, saya akan berusaha menulis lebih banyak surat sebagai bekal, manakala saya benar-benar pulang ke Masamba pekan ini. Ya, tahulah, jaringan internet di kampung pedalaman seperti kampung saya susah sekali. Dan hanya provider Telkomsel saja yang jaringannya sedikit stabil. Jadi saya sisa ke warnet untuk memposting saja.

Ibu saya berpesan supaya saya segera pulang. Sebenarnya, saya ada urusan pekerjaan yang membuat waktu itu saya janji ke Ibu untuk pulang di akhir bulan Februari. Nah, ini Ibu sudah menagih terus, kapan saya pulang. Di kampung lagi musim buah, katanya rambutan sudah masak semua, langsat juga, lebih-lebih durian yang sudah diobral murah di pasar-pasar. Ah, bila saja kita sudah lebih akrab, mungkin akan saya tanyakan perihal buah yang paling kau sukai.

Tapi, kamu tidak perlu khawatir kalau-kalau suratmu tidak ada yang membaca hanya karena soal jaringan internet. Akan saya pastikan sayalah orang yang akan membaca setiap suratmu, hingga 30 surat-suratan ini tuntas. Saya masih punya hape samsung champ yang dulu saya gunakan bertahun-tahun. Saat ini hanya difungsikan oleh adik untuk keperluan seadanya di kampung. Kendala saya nanti mungkin hanya di pengetikan. Di rumah juga tak ada laptop atau computer. Mungkin, bila sudah mendesak saya akan tiap hari ke warnet yang cukup berjarak dari rumah.

Saya akan menunggu kabar-kabarmu yang lebih baik semakin harinya. Terus aja menggerutu di tulisanmu. Tak apa, suatu saat kamu akan tahudan mengerti arti masalah dan masa lalu yang kamu lewati. Sekian saja surat ketujuh ini. Semoga semangat selalu berkobar untuk menuntaskan misi 30 surat ini.

Makassar, 10 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Gambar; www.dphotographer.co.uk

Advertisements

One Response to “Bila Saya Pulang (7)”

  1. […] yang saya duga di surat yang berjudul “Bila Saya Pulang”, saya akan menemui banyak kesulitan untuk memposting surat di blog. Kemarin malam ada peristiwa […]

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: