Trip Sehari (5)

Surat ke-5 #30surat

Untuk Perempuan Pertama

Selamat malam.

Surat ini baru saja saya rampungkan setelah mengedit beberapa foto yang akan saya lampirkan bersama surat ini. Namun, saya akan berusaha untuk tidak hanya sekadar membubuhi caption pada foto-foto tersebut. Saya mungkin berceritera lebih dari takaran pendek.

1ab

Mungkin kamu masih mengingat, akhir pesan yang saya kirim semalam. Saya pamit undur diri lebih awal dari ruang obrolan. Saya memang sedang sedikit merasa lelah, setelah seharian mengikuti one day trip para Aliansi. Hari sabtu itu, sejak pagi saya sudah sibuk dan bersiap lebih dulu dari yang lain. Meski hanya trip sehari, segala sesuatunya tetap butuh persiapan yang matang.

Saya tidak bisa memastikan sangkaan kamu terhadap aktivitas para aliansi. Tapi mungkin kamu akan bergumam, betapa senangnya orang-orang di aliansi bepergian, trip, jalan-jalan, hiking, mendaki gunung, atau bahkan mengunjungi pulau dan pantai.

Yang bisa saya urai, hanya sebuah spekulasi tentang pencarian kebahagian yang Tuhan selip dan simpan di balik sebuah lelah. Kebahagian yang begitu dinikmati bersama. Kebahagian yang bukan hanya berupa kesenangan, namun mungkin juga kebahagiaan yang berupa kesusahan yang perihnya dirasa bersama.

1b

medan Pattunuang Assue

1c

bisseang labboro pattunuang

bisseang labboro pattunuang

1d

1e

1f

Sabtu kemarin, kami (mungkin gambar yang akan menjelaskan siapa saja yang saya sebut kami) mengunjungi sebuah objek wisata di kawasan Maros. Namanya Bislab, atau akronim dari Bisseang Labboro atau juga terkenal dengan sebutan Pattunuang Assue. Lokasi atau jalan masuknya tepat di depan permandian Maros Water Park.

Dari Makassar (Rumah Nalar) mungkin tak cukup dua jam perjalanan motor sampai di lokasi parkiran motor alias parkiran Maros Water Park. Lalu, kami mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah ber-paping block. Sejak mulai berjalan, aroma sungai sangat tajam. Karena kami memang berjalan di tepian sungai. Sejuk sekali. Matahari juga tidak berani menyentuh kulit kami.

Yang membuat saya sedikit pegal, mungkin karena tas carrier 60 liter yang menggendong di punggung saya. Tidak terlalu berat untuk ukuran tas yang biasa saya gunakan menanjak gunung. Saya taksir, bobotnya tak lebih dari 7 kilogram. Namun tetap saja memberi kesan di punggung setelahnya. Jarak tempuh sampai di lokasi camp juga tak lebih dari 3 kilometer. Medannya sangat asyik untuk pejalan pemula.

bisseang labboro pattunuang

Jpeg

Jpeg

bisseang labboro pattunuang

Jpeg

1n

Sebelum sampai di lokasi camp. Ada view yang cukup keren untuk berfoto-foto. Dua batu yang mirip dengan kapal laut. Di batu yang menyerupai kapal itulah banyak orang menebar mitos. Mitosnya macam-macam. Sampai ada yang menyebut bahwa kapal itu adalah kapal yang dinahkodai Nabi Nuh. Ya namanya juga mitos. Kadang terdengar aneh dan jauh dari sebuah logika.

Kami nge-camp di tepi sungai yang aliran airnya tidak terlalu deras. Tentunya, supaya kami bisa bermandi ria di sana. Selain air yang dingin dan bersih, udara di sana juga jelas bebas dari polusi. Tuhan sudah memastikan kepuasan, kebaikan, kemudahan, dan kebahagian di tempat yang tepat.

Saya selalu berharap, tulisan yang menjelma surat ini suatu saat akan menjejak di benak di siapapun yang membacanya. Terima kasih bila kamu sempat membaca surat kelima ini. Jangan lupa tetap sempatkan menulis surat setiap harinya kepada kakakmu. Siapapun kakakmu.

Makassar, 8 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: