Ikut Arus (4)

ikut arus

Surat ke-4 dari #30surat

Untuk Seorang Perempuan

Sobahunnur.

Surat ketiga-mu lebih dulu kau terbitkan dari saya dan saya baru membacanya setelah surat ketiga-ku terposting. Sejak pertanyaanmu di pagi hari yang seolah saya lupa tentang surat-menyurat ini. Saya mulai menaksir ada nada gelisah di sana. Di penghujung surat ketiga-mu, kau kembali tegaskan perihal surat menyurat ini.

Saya masih bersemangat dan merasa belum menemui tembok yang membatasi saya menulis. Apalagi, sari hikmah dari khutbah jumat tadi, begitu mengesankan dan mengobarkan semangat juang saya pada apa yang saya yakini. Pesan khutbah yang begitu menekankan kita supaya menjadi manusia yang bermanfaat. Manusia yang peka dan tidak abai pada perkara umat. Manusia yang berekasi menyaksikan kelalaian. Manusia yang selalu memperbaharui tobatnya. Manusia yang kamil. Dan saya menemukan sebuah asosiasi, kalau dengan menulis dan bersurat seperti ini,  saya sudah melakukan usaha untuk mengikuti anjuran khutbah  itu. Semoga surat-surat selanjutnya, lilin-lilin kecil di surat ini mulai menjalarkan cahayanya di ruang semesta.

Di surat keempat ini, saya juga masih enggan mengonfirmasi inti suratmu. Rasanya, haknya saya belum di sana. Posisi saya hanya sekedar membaca saja. Mungkin nanti, jika sudah cukup akrab dan paham, saya sesakali akan membuat surat yang khusus untuk sekadar bertanya, menaggapi, atau mungkin bahkan member solusi.

Ada yang saya rasa mungkin agak perlu kuceriterakan di sini. Kemarin malam, seusai membaca ulang postingan surat ke-dua ku, tentang kabar masa lalu. Saya berselancar di beberapa blog following saya. Dan saya temukan, ada satu blog yang di postingan terakhirnya juga sedang membuat surat yang cara dan peletakan kalimat pembukanya mirip sekali dengan surat yang saya buat.

Misalnya, frase tentang, “Kepada Perempuan Pertama”, di surat yang ada di blog itu, dia menulis “Kepada Lelaki Pertamaku”. Tidak hanya di situ, di blog itu juga, penulisnya membuat 30 surat sebagai tantangan. Ah, seketika saat itu saya mendapati diri saya melanggar pasal penting di dunia literasi. Saya merasa menjadi seorang yang bukan diri saya. Saya begitu mudah menjilat ludah sebagai seorang yang dulu enggan sekali mengikuti arus mainstream yang mewujud pantangan. Saya yang merasa anti mainstream, ternyata latah dan tersandera di kotak yang lazim.

Sempat kusinggung, bahwa menulis 30 surat ini tanpa jedah tiap hari adalah sebuah tantangan yang sungguh butuh konsistensi. Hape Asus yang biasa kugunakan menulis catatan dan bait-bait sajak, paling tidak untuk sebulan ini, harus off, karena tadi sore pihak garansi akan mengirimnya ke pusat (mungkin maksudnya Jakarta). Dan laptop, saya belum pernah punya laptop pribadi. Ratusan tulisan di blog ini, seluruhnya dari perangkat orang lain. Paling banyak, dari laptop pinjaman teman atau saudara, selebihnya adalah tulisan yang diposting di warnet.

Isi surat keempat ini masih gagal saya pahami. Saya harus focus di mana. Ide saya melompat-lompat. Atau mungkin saya cukupkan saja dulu surat keempat ini tanpa isi. Oh, iyya, saya kembali mengulang, bahwa seorang penulis dikatakan maju atau berhasil, manakala dia sudah mampu menertawakan tulisan-tulisannya yang dulu. Dan jika seorang penulis masih berbangga dengan tulisan dan karyanya yang dulu berarti dia telah mengalami stagnanisasi atau bahkan sebuah dekonstruksi berkarya.

Ya, kebanyakan penulis atau blogger pemula, punya kesalahan yang sama. Dia akan selalu ingin lebih dulu menjadi seorang sastrawan sebelum dia benar-benar menjadi seorang manusia. Kurang lebih seperti itu kata-kata warisan para penyair.

Di akhir kata, semoga apa yang saya tulis ini suatu saat akan bermanfaat atau paling tidak akan bernilai. Setiap kita punya tanggungan menyumbangsi pada dunia sebagai wasiat penanda keabadian. Dan saya rasa, tak ada lebih mudah dan boleh jadi lebih mulia adalah wasiat berupa ilmu yang baik. Dan sebaik-baiknya ilmu, adalah ilmu yang diikat dengan tulisan.

Makassar, 7 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

 

Gambar; www.heraldsun.com.au

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: