Soal Jalan-Jalan (3)

pantai pink lombok

Surat ke-3 dari #30surat

Kepada perempuan pertama.

Sobahunnur.

Di surat ketiga ini, rasa-rasanya belum tepat untuk membicarakan surat yang kau tulis untuk kakakmu. Saya masih punya banyak sekali kejadian yang bisa jadi beberapa paragraf isi surat. Saya mencoba mengubah timing menulis surat. Dua surat terakhir saya ketik di awal hari. Sepertinya, meskipun itu memudahkan naluri jemari saya meraba keyboard. Pola tidur dan fungsi organ pencernaan saya sedikit mengalami gangguan. Semoga kamu tidak menjadi lain karena tantangan ini.

Ada-ada saja cara waktu memanggil kenangan. Dari hal-hal yang telah menjadi lupa, saya harus mengaisnya ke permukaan ingatan. Saya berusaha menghindari distorsi sejarah, dari hal yang sebenarnya hanya ilusi lalu dipaksa menjadi sebuah catatan klise dan pseudo.

Baiklah, di surat ini, karena saya belum bersiap bercerita jujur dengan banyak tulisan di blog ini yang sebenarnya berbasis pengalaman imajiner, maka saya hanya akan berceloteh tentang pengalaman perjalanan saya menembus semua kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan.

Saya orang yang belum kamu tahu betul. Saya akan kenalkan kamu dengan tanah kelahiran saya. Orang di Makassar ini lazim sekali dengan nama kota Palopo. Saya lahir, sekitar 100 kilometer dari kota Palopo. Palopo itu, untuk kamu tahu, hanyalah satu dari empat kota-kabupaten yang ada di tana Luwu.

Saya salah satu orang yang ingin memudahkan percakapan awal sebuah perkenalan. Saya masih begitu asing dan berjarak dengan kota Palopo, tapi ketika ditanya asal dari mana, maka saya mudah dan akrab menjawab, saya orang Palopo. Padahal, saya lahir di kabupaten Luwu Utara yang beribukota Masamba. Wija to Luwu begitu bangga men-generalkan nama kota asalnya ketika ditanya. Mungkin tidak semua orang.

Di surat ini, saya akan saya tekankan, bahwa selain saya menggilai buku dan literasi, saya juga sedang dalam momentum begitu bersemangat melakukan perjalanan. Melakukan traveling, trip, journey, wisata alam, mendaki gunung, berjalan jauh dan menyukai jauh.

Saya ulang, bahwa saya sudah berhasil menjejak di semua kabupaten di Sulawesi Selatan. Sekali saja saya pulang kampung dari Makassar ke tanah lahir, maka itu berarti saya telah melintasi beberapa tanah tanpa berniat khusus. Dari Makassar, bergeser ke Maros, lalu Pangkep dan Ajatappareng Barru dan Pare-pare, memasuki wilayah Sidrap, Wajo, Belopa, Palopo, Walenrang, dan terakhir kota Masamba. Itu jumlah yang banyak untuk harga sebuah jarak yang hampir 500 kilometer dari Makassar ke halaman rumah.

Dan jangan tanyakan, pernahka saya ke wilayah timur, ke perbatasan darat Sulawesi Selatan dengan Sulawesi Tenggara? Saya sudah sering ke sana. Keluarga saya banyak di Tenggara, bahkan saya pernah Praktek Kerja Lapang (PKL) di daerah Kolaka, tepatnya perusahaan Antam, Pomalaa. Sekali waktu, jika kamu bukan seorang yang takut ketinggian, jalan-jalanlah ke perbatasan itu. Di sana ada tugu yang mungkin sampai sekarang masih penuh dengan coretan vandalism. Dan akan kau saksikan burung-burung terbang nyaman jauh di bawah dari tanah dimana telapak kakimu meresap hawa. Akan kau lihat, kepul entah asap atau awan yang mengepul dari sekitar Kota Malili, Luwu Timur.

Lalu pernah saya ke Kepulauan Selayar. Dan itu juga berarti saya harus dan gratis menyaksikan banyak tanah tempat bertumbuh kawan-kawan saya. Dari Makassar, terus Gowa, Takalar, Jeneponto yang panjang, berpindah ke Bantaeng, lalu terakhir Bulukumba sebelum penyeberangan kapal ferry dari Tanjung Bira ke Pelabuhan Pamatata Selayar. Banyak sekali perasaan mengagumkan dan kepuasan yang berasal dari jerih perjalanan. Jauh dan sendiri. Kamu mungkin paham, bahwa dari mata-lah banyak sekali kemungkinan rasa mekar dan bercabang menjadi beribu puas dan penasaran setelahnya.

Pernah juga saya ke tanah batas Sulawesi Barat, Pinrang. Tak banyak cerita dari sana, karena saya hanya sekilas untuk menghadiri walimah seorang senior di organisasi. Lalu sering juga saya ke Bumi Arungpalakka, Bone. Sinjai beberapa kali. Soppeng juga beberapa kali. Kadang pula saya melakukan perjalanan hanya untuk menjawab keingintahuan. Membunuh rasa penasaran itu justru membuat kita semakin hidup.

Dan mungkin masih kau ingat sedikit kabar terakhir Road Trip Toraja beberapa orang yang kamu kenal. Road trip itu juga adalah sebuah jalan panjang nan jauh melintas sampai ke utara Toraja. Di road trip itu selain pengalaman menerobos hujan sepanjang Ajatappareng. Ke Toraja berarti saya akan menyaksikan hamparan pegunungan Buntu Kabo’bong atau umum orang menyebutnya Gunung Nona.

Mungkin, kamu akan sedikit mulai bosan membaca surat tak penting ini. Tapi saya akan berterima kasih, karena kamu, saya kuat melawan lupa. Semoga surat-surat yang akan kau buat tidak justru membuat kamu membuka jahitan luka lama, dan kamu tergenang dalam hitam kenangan masa lalu. Semoga tidak ada yang salah dengan semua ini.

Makassar, 6 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: