Archive for March, 2015

Pesan Religius (28)

Posted in #30surat with tags , , , , , on March 31, 2015 by mr.f

pesan religius

Surat ke-28 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat malam

Suratmu saya baca tepat sebelum adzan maghrib tadi. Cukup lain dari biasanya. Rapi. Hanya sedikit kesalahan aksara. Tapi isinya tidak perlu saya maafkan. Saya sudah terlampau mudah untuk terlambat menebak tentang temanmu itu. Meskipun saya tidak pernah sekalipun menyinggung ketakutanmu. Sorot mata dan aliran kata-katanya memang susah ditebak. Tapi kamu, tentu tak bisa jauh dari lingkar semestanya.

Judul surat ini lebih dulu saya buat daripada isinya. Menjadi surat yang pertama dan mungkin terakhir dari 30 surat yang judulnya dibuat di awal. Sebelum huruf menjadi kata, kata merangkai kalimat, kalimat menyusun paragraf, dan paragraf utuh sebagai sebuah surat. Suratnya sedikit beraroma masa depan, diekstrak dari serbuk masa lalu dan bisa dinikmati sejak setelah kau membaca ini.

Tentang pesan religius. Tema ini spontan melintas di antara baris-baris kendaraan yang berkejaran di jalanan. Sepulang dari Rumah Nalar tadi yang bertepatan dengan saat saudara seiman sedang sholat jamaah Isya. Dengan menghindari segala ujub dan riya’ diri, saya ingin membahas ini. Sesuatu yang kalau dibahas maka orang yang mendengarnya sering refleks menuding kita sok alim dan sok suci.

Dengan berat hati juga sebenarnya. Membahas hal religius tentu membuat saya harus menemui diri saya terlebih dulu. Tentang kepatutan dan kelayakan. Tentang kepantasan dan situasinya. Membicarakan perihal agama sebenarnya sudah cukup sering saya modifikasi menjadi serangkai kalimat di status facebook saya. Tapi bila menjurus pada subjek yang lebih spesifik, saya enggan kecuali pada momen-momen yang memang sepi dan diminta pendapat. Tentu terkecuali pada momentum korespondensi kita ini.

Saya interest dari perkara agama, tapi masa lalu kita tidak sepenuhnya selalu sejalan dengan ketertarikan itu. Tentu kita semua adalah orang yang punya dosa pada agama. Semua dosa adalah soal masa lalu. Tak ada dosa pada masa depan. Bukankah hanya niat baik yang pahalanya dicatat lebih dulu, sedangkan niat buruk baru tercatat sebagai dosa bila telah dilakukan. Maka benar saja kata pepatah, seorang alim pastilah punya masa lalu (dosa) dan seorang pendosa juga pastilah punya masa depan.

Hal yang mengawali wasiat ini adalah perihal membaca. Jangan pernah berhenti membaca. Membaca yang dimaknai secara etimologi bukan terminologinya. Membaca secara fisik, membuka lembar-lembar kertas, menarik makna. Menjadi tahu dan menebarkan manfaatnya. Seperti perintah agama pada ayat Alquran yang perdana turun melalui Jibril. Bacalah!

Saya tidak meragukan kemampuanmu menjalarkan perasaan ke kata-kata. Tapi kata-kata adalah diksi yang tak terbatas. Rugilah kita sebagai mahluk muda bila begitu saja melewatkan kesempatan dan timing membaca yang tepat. Dengan membaca, ragam dan khazanah keilmuan terbentangkan bagai cakrawala yang maha luas.

Bacalah sebanyak-banyaknya buku. Buku yang potensial mendatangkan manfaat. Bukan hanya manfaat pribadi, tapi juga manfaat kepada ummat. Buku apa saja yang bermanfaat. Lebih baik lagi buku yang dicetak. Karena kau tahu, lembar-lembar buku selalu punya aroma yang menstimulus hasrat untuk membuka dan menelusuri ruang-ruang ilmu dan imajinasi penulisnya.

Sekali kau cinta aroma buku, maka kau akan terjerat dengan sengat budaya yang turut mengikatnya. Kau akan tergila-gila memiliki banyak buku. Saya tidak seratus persen meyakini statement ini, seorang penikmat buku tentu akan rajin membeli buku. Bila seorang sudah rajin membeli buku, maka akan selalu ada cita-cita untuk membuat perpustakaan pribadi di masa depannya. Bolehlah kamu sedikit percaya dengan ini.

Kau pernah dengar apologi ini, hanya orang bodoh yang meminjamkan bukunya, tapi lebih bodoh lagi orang yang meminjam buku lalu mengembalikannya. Pesan ini dipopulerkan kalau tidak salah oleh Gusdur semasa menjadi presiden. Argumen di atas adalah apologi yang sakti dan banyak digunakan oleh para pengoleksi buku. Saya salah satu orang yang mengamininya. Saya jarang sekali mengizinkan orang meminjam buku koleksi saya. Sebaliknya, saya punya keinginan besar untuk meminjam koleksi buku orang lain. Culas!

Membaca yang maksudkan ini pada intinya tidak boleh lantas membuat kita lupa pada bacaan yang sebaik-baiknya bacaan. Bacaan yang berisikan pegangan hidup. Bacaan yang selalu tepat dibaca pada waktu apa saja. Tidak punya masa kejayaan. Bacaan yang best seller setiap hari. Maka bacalah Alquran sehari lima kali. Mungkin sekarang berat, tapi bacalah Alquran sehari sekali. Bila masih banyak aktivitas yang lebih mendesak, janganlah lupa membacanya seminggu sekali. Bila masih tak sempat bacalah paling tidak sebulan sekali. Yang terakhir itu sudah sangat pelupa bila masih juga enggan melakukannya. Sesibuk apakah manusia hingga sebegitu pelupa pada bacaan yang sebenarnya menentramkan jiwa itu. Karena kita sama-sama paham, setiap waktu manusia selalu saja ada masalah dalam hidupnya. Bacalah dengan segenap adab-adabnya.

Bagian di atas sangat jauh dari kesan menggurui. Ini hanya pesan yang meraba-raba padat dan sibuknya kau mengurusi kuliah dan organisasi. Selain itu, semuanya saya cerminkan ke diri saya kembali. Manusia berhak berbeda cara pandang tentang agama, tapi agama punya hak untuk dijaga. Umur kita, tubuh kita, nafas kita, waktu kita, harta kita, jabatan kita punya kewajiban terhadap agama. Karena agama bukan milik nabi dan alim ulama, agama kita adalah tanggungan hidup kita.

Hal kedua dan terakhir, selalu-lah berniat baik. Baik pada apa saja dan siapa saja. Terlebih pada agama. Niat baik ini perkara penting dalam agama. Diperdebatkan dari jaman manusia baru ada sampai manusia lupa dirinya ada. Niat baik adalah frase berisi dua kata, niat intinya dan baik penjelasnya. Niat di dada dan baik di aksinya. Niat hakikatnya dan baik syariahnya.

Berniat menjadi baik. Berniat berhjirah pada kebaikan. Dan jangan berhenti berniat hijrah. Hijrahlah dalam hati terlebih dulu. Dari yang dirasa buruk ke hal yang sedikit baik. Dari yang dianggap jelek menjadi bagus. Dari yang salah ke pada yang benar. Kita kan tidak pernah tahu kapan hidup kita berakhir. Tapi bila sudah ada niat, kita tidak perlu lagi takut pada akhir dunia.

Bila sudah berani niat berhijrah. Jangan lupa ajak teman-temanmu menjadi baik. Dalam niat dan tindakan. Tak ada salahnya mengajak. Supaya bisa saling ingat mengingatkan. Bisa saling nasehat menasehati pada kebaikan. Supaya kita tidak perlu lagi menyesal karena waktu berlalu tanpa kebaikan dan kesalehan pada agama. Supaya kita tidak menjadi manusia yang merugi.

Semoga selama ini selalu ada niat baik di korespendensi kita. Dari saya selalu ada. Berharap pada Tuhan adalah satu cara agar pesan religius ini bisa mewujud. Cara satunya adalah memulai dalam ikhitar. Sekali lagi, saya tidak sepenuhnya seperti yang pesan-kan. Saya punya masa lalu, masa kini dan masa depan yang layak dipertanyakan sebagai pemberi wasiat. Kali ini saya mengaku hanya mengajak pada kebaikan. Bila memang ada pesan kebaikan. Sebatas mengajak.

Dua pesan religius di atas saya rasa cukup mencakup banyak hal dalam hidup. Cukup mewakili hal-hal yang sesuai kapasitas saya sebagai teman menyurat dan mengabari. Saya yakin kamu juga punya pretensi lain terhadap agama dan kehidupan religi yang tidak saya pahami sama sekali. Bagian yang tidak saya pahami itu anggap saja sebagai kelancangan yang masih bisa kau terima dan maafkan.

Setelah surat ini, tersisa dua lagi. Saya masih terus menimbang draft surat lama yang ingin menjadi penutup. Bila draft itu terposting, tentu akan ada perubahan konstalasi terhadap persepsi korespondensi kita. Bila besok kondisinyasaya anggap kurang tepat, berarti saya masih punya dua kesempatan untuk mencari ide masa depan. Sekaligus surat pamungkas pengganti draft surat yang lalu sebagai khatimah korespondensi sahabat pena.

Makassar, 31 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Gambar; muji0n0.wordpress.com

Hasrat Avonturir (27)

Posted in #30surat with tags , , , , , on March 30, 2015 by mr.f

bulsar

Surat ke-27 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat malam

Keseluruhan surat ini saya tulis tadi pagi terkecuali paragraf pembuka ini. Kata-kata yang digunakan kebanyakan adalah perulangan dari surat-surat sebelumnya. Bagian inti yang saya sampaikan hanya soal keinginan menjelajahi Sumatra dan India. Sayangnya, saya belum lihai membuatnya paragraf panjang. Jadinya, prolog tidak jelas hampir sama tidak jelasnya dengan poin yang ingin saya kabarkan.

Belum cukup 12 jam yang lalu surat terakhir saya tulis. Saya segerakan surat ini sesaat setelah membaca surat ke-25-mu. Kamu memprotes kebingungan-kebingungan yang saya lemparkan, hasilnya kamu juga terlihat bingung dan mulai berpikir gila. Tapi saya membuka ruang lapang untuk kamu bertanya dan mempertanyakan diri. Semoga ini bukan dalam kategori terminologi inkonsistensi yang kau pahami. Saya lebih nyaman menyebut realitas ini sebagai takdir. Kejadian setelah rencana dan usaha.

Tapi sudahlah, saya ingin bergeser dari hal-hal kering yang membingungkan itu. Saya merasa baik setelah menulis. Sama sekali tidak menyesal. Semalam saya menemukan salah satu website-wordpress yang saya ikuti. Ada benang cahaya disana. Benang cahaya yang akan menuntun menuju jalan “akan” membaca dan menulis cerpen. Di web itu ada ribuan cerpen –mungkin lebih dari penulis kaliber Indonesia. Cerpen yang mungkin saja sudah lama. Tapi bukankah diksi tak pernah punya zaman. Diksi itu selalu hidup.

Jadi saya tak perlu membeli semua buku kumcer untuk menggenapkannya seribu cerpen. Seperti keinginan saya di surat 25. Bila kamu tertarik, kamu bisa menggunakan kata kunci “cerpen kompas” untuk menemukannya di mesin pencari.

Di waktu-waktu tak diduga saya begitu bisa menyebut diri sedang bahagia. Seperti ketika menghubungkan kenyataan yang saya hadapi dengan keinginan yang ada di kepala. Sesuatu yang klop. Sesuatu yang pas. Sepenuhnya di suatu titik, di suatu momentum yang tepat, saya dekat sekali dengan perasaan ingin segera mati. Saat seperti itulah sejujurnya saya sedang bahagia. Keliru kalau keinginan mati hanya hadir saat kita penuh masalah dan penyesalan. Karena mati adalah bahagia paling puncak.

Kita tidak pernah punya ukuran dimensional untuk tahu kapan kita bahagia. Bukan saat tertawa, bukan saat berharta, bukan saat bertahta atau saat kita punya semua yang kita mau. Kebahagiaan kita selalu tak terukur dan tak bisa diukur. Pesan itu saya tangkap dari semua bacaan tentang pencarian. Dari semua tontonan dan hasil pendengaran. Dari semua kontemplasi dan ibadah-ibadah yang di-khusyuk-kan.

Kebahagiaan adalah kebebasan pikiran tanpa kekangan. Kekangan pikiran. Orang yang sepaham dengan saya ini banyak sekali di luar sana. Sepaham tapi dengan pendekatan yang berbeda. Banyak orang ingin bahagia dengan bebas, maksudnya tanpa aturan. Bahagia tanpa norma atau agama. Bahagia karena tidak terikat. Bahagia yang egois. Kita bisa menemukan definisi ini pada kaum hippie. Saya senang tahu ada orang seperti kaum hippie, tapi saya tidak mau sepenuhnya bahagia seperti mereka.

Saya ingin membeberkan lagi satu “akan” yang dulu-dulu hanya saya lisankan di telinga orang-orang dekat. Akan yang telah menunggu. Akan yang membahagiakan. Akan yang ada hubungannya dengan kebiasaan kaum hippie. Mengembara jalanan. Hampir searti dengan backpacker. Tapi punya perbedaan cukup kontras.

Tahun ini semestinya saya menunaikannya, “akan” itu. Menelusuri jalan berkelok lintas Sumatra. Mengunjungi tempat banyak kerabat saya. Sudah pernah saya buatkan itinerary-nya. Perjalanan dua minggu. Yang dimulai dari Jakarta ke Lampung, Pelembang atau Bengkulu, ke Jambi, Padang, Medan, Aceh dan terakhir di Pulau Weh, pulau terbarat. Saya punya rencana yang baik untuk melakukannya.

Rencana itu tidak baru dan spontan. Dulu, sepulang dari Pare saya menemukan banyak keluarga baru. Punya saudara baru. Saya investasi banyak cerita dan hubungan baik ke mereka. Teman-teman alumni Sail Belitong, Lintas Nusantara Remaja Pemuda Bahari 2011 juga pernah saya wacanakan. Saya mengumpulkan keberanian walau hanya sekadar berencana menjadi avonturir yang akan menjelajahi lekuk Sumatra. Saya kabarkan ke mereka, teman-teman Jawa dan Sumatra itu bahwa saya akan menaklukan Sumatra sebentar lagi. Sekarang, saya tak tahu apakah mereka masih ingat dengan rencana itu, atau bahkan pertanyaannya, apakah mereka masih ingat dan cukup dekat dengan saya saat ini.

Saya cukup akrab dengan banyak kegagalan. Kegagalan mengeksekusi rencana. Analisis saya, kegagalan demi kegagalan itu adalah bermuara di menunda-nunda. Aproksinasi. Sekarang, belum saya mewujudkan ingin itu, di kepala saya berkecamuk ingin baru yang datang dari ajakan kawan seperjalanan saya melakukan 4 Islands Journey akhir 2013 lalu. Dulu memang pernah perbincangan kami diisi oleh keinginan-keinginan menaklukan benua.

Barulah akhir Februari lalu, saya kembali dikirimi pesan singkat untuk mempersiapkan diri untuk menaklukan India. Perjalanan darat ke India. Saya bilang saya tidak punya masalah besar selain budget. Menabung untuk perjalanan seperti itu sejak dulu mendapat respon positif dari Mamak. Baru-baru ini saya dikonfirmasi akan dibantu oleh Mamak memenuhi ajakan itu. Soal Sumatra, saya tidak membekukannya. Saya tetap ingin melakukannya selagi sendiri. Selagi tanggungan dan beban finansial belum melebihi daftar keinginan. Meskipun, saya tidak mengingkari, keajaiban seringkali turun pada sepasang kekasih halal.

Semoga saya mendapat amin yang tulus dari orang yang membaca tulisan ini. Tak perlu sepaham dengan paham bahagia yang sedikit saya urai di atas. Kepada Perempuan Pembaca, baru di kesempatan ini saya gunakan untuk mengaminkan “akan”-mu ke Jogja sebagaimana yang kau tulis beberapa waktu yang lalu.

Makassar, 30 Maret 2015

Tertanda, Lelaki Optimis