Hujan Tanpa Suara

mendaki bulusaraung

Saya mungkin tengah berada di tempat hujan jatuh. Hujan yang tak bersuara. Hujan yang tak sama di tempat dimana banyak sekali orang membencinya. Hujan yang tak diributkan. Hujan di puncak Bulusaraung. Di puncak, saya seperti menyatu dengan awan gelap yang menutup semua alam dari pandangan. Di puncak yang mengajarkan banyak sekali cara memahami suatu titik problema. Inilah langit yang tersentuh sedang kaki masih membumi. Langit dan bumi yang memang adalah sepasang kekasih.

Titik titik serupa hujan ini, misalnya. Parner mendaki saya berkata, “apakah mungkin seperti ini gambaran tentang akhirat? dimana tak ada hal lain di depan mata selain titik-titik hujan tidak jelas yang sedang jatuh ini”. Hanya kelabu yang padu dan tak tahu apa nama tepatnya. Alam yang dinikmati dengan mata hati.

Saya senang sekali mendengar anekdot tentang akhirat. Saya seperti menangkap aroma kemenangan di lelahnya pendakian. Suatu upaya meneguhkan keyakinan bahwa ada alam yang suatu saat nanti kita betul-betul sendiri. Terhakimi sendiri. Menanggung sebab dan akibat sendiri. Alam di luar akal dan sentuhan indrawi.

Di puncak dan hujan tanpa suara seperti itu, tak pernah ada yang lebih baik selain merasakan semua kemenangan batin. Penaklukan dan klimaks. Kontemplasi tingkat tinggi. Seolah menjadi jawab atas satu frase dalam agama, jagalah hubunganmu dengan Tuhan, hubunganmu sesama manusia, dan hubunganmu dan tanggung jawabmu terhadap alam.

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: