Archive for February, 2015

Hujan Tanpa Suara

Posted in Blogger Kampus, Having Fun with tags , , , on February 25, 2015 by mr.f

mendaki bulusaraung

Saya mungkin tengah berada di tempat hujan jatuh. Hujan yang tak bersuara. Hujan yang tak sama di tempat dimana banyak sekali orang membencinya. Hujan yang tak diributkan. Hujan di puncak Bulusaraung. Di puncak, saya seperti menyatu dengan awan gelap yang menutup semua alam dari pandangan. Di puncak yang mengajarkan banyak sekali cara memahami suatu titik problema. Inilah langit yang tersentuh sedang kaki masih membumi. Langit dan bumi yang memang adalah sepasang kekasih.

Titik titik serupa hujan ini, misalnya. Parner mendaki saya berkata, “apakah mungkin seperti ini gambaran tentang akhirat? dimana tak ada hal lain di depan mata selain titik-titik hujan tidak jelas yang sedang jatuh ini”. Hanya kelabu yang padu dan tak tahu apa nama tepatnya. Alam yang dinikmati dengan mata hati.

Saya senang sekali mendengar anekdot tentang akhirat. Saya seperti menangkap aroma kemenangan di lelahnya pendakian. Suatu upaya meneguhkan keyakinan bahwa ada alam yang suatu saat nanti kita betul-betul sendiri. Terhakimi sendiri. Menanggung sebab dan akibat sendiri. Alam di luar akal dan sentuhan indrawi.

Di puncak dan hujan tanpa suara seperti itu, tak pernah ada yang lebih baik selain merasakan semua kemenangan batin. Penaklukan dan klimaks. Kontemplasi tingkat tinggi. Seolah menjadi jawab atas satu frase dalam agama, jagalah hubunganmu dengan Tuhan, hubunganmu sesama manusia, dan hubunganmu dan tanggung jawabmu terhadap alam.

Road Trip Toraja

Posted in Aliansi, Blogger Kampus, features, Having Fun with tags , , , , , , , , on February 21, 2015 by mr.f

road trip toraja

Aroma kopi adalah aroma yang paling meransang naluri menulis saya. Apapun kopinya, saya selalu tersugesti akan kehadiran ide dan lenturnya jemari menari. Sudah berbulan-bulan beberapa rangka aktivitas hanya berbangkai gambar. Tak satupun tersentuh narasi. Tabiat instan sulit terbendung. Semuanya menjadi terlalu lama untuk dituliskan.

Merawat Wacana

Di bagian ini, ingin sekali saya berpanjang-panjang soal road trip akhir tahun 2014 saya yang tak menyisakan resolusi. Sudah terlalu banyak orang yang menuliskan tentang perjalanan mereka. Apalagi kalau hanya berkisar travelling dan road trip yang biasa-biasa saja tanpa kasus spesial atau sekaligus cerita perjalanan yang menyenggol kisah asmara.

Perjalanan ke Toraja akhir tahun itu memang bernama Road Trip Toraja. Banyak sekali yang menyangka kami –Aliansi (Aliansi, akan diceritakan pada bagian lain) – bertamasya ria ke Toraja dalam tujuan khusus meramaikan Lovely December yang memang sudah menjadi agenda rutin Pemerintah Daerah Tana Toraja dan Toraja Utara. Sangkaan itu tak sepenuhnya benar, tapi tak juga sepenuhnya keliru. Setidaknya kami memanfaatkan beberapa kebetulan untuk membenarkan bahwa kami ke Toraja bukan untuk menghadiri Lovely December. Apalagi, Lovely December itu amat erat kaitannya dengan puncak perayaan salah satu hari raya agama.

Bagi saya, dalam setiap trip bersama, semua orang adalah penting. Tak ada satupun personel trip yang boleh diabaikan. Susah senang, bersama. Konsep intinya, kebahagian ada di kebersamaan. Lapar, lapar bersama. Kenyang, kenyang bersama. Semuanya harus menjadi bahagia. Alasan sebuah tamasya adalah sebuah pencarian rasa puas dan bahagia. Tidak peduli sebagaiman lelahnya kita mengejarnya.

Oke, saya akan kembali menulis bagaimana sebuah wacana trip menjadi nyata dan terlaksana. Saya akan mengawali semua dengan sebuah perkenalan personel. Saya sendiri, bukanlah inisiator Road Trip Toraja. Saya enggan menentukan siapa yang paling berhak saya tulis sebagai pendobrak wacana. Kalau soal nama, ya itu hanya pelabelan saya untuk sebuah momen.

Aliansi trip2

Kanda Iqbal

Orang yang punya peran dalam mewujudkan wacana ini, tak boleh juga lepas dari nama Kanda Iqbal. Senior keren yang sangat terkenal loyalitasnya di organisasi. Sekaligus, senior yang paling royal yang pernah saya kenal. Tidak pernah tanggung dalam berbagi. Mungkin bulir keringatnya saat ini juga tengah mengalir di darah para orang terdekatnya, termasuk saya. Walaupun sudah menjadi super senior di antara kami, beliau tidak pernah menutup telinga terhadap saran dan masukan. Tak boleh dikesampingkan, bahwa Road Trip Toraja kemarin adalah sebuah penghargaan terhadap Kanda Iqbal yang dalam masa reses anggota dewan berhasil menyempatkan pulang kampung dan ikut trip. Orang type beliaulah yang berkarakter easy going.

Daeng Ewing dan Asyraf

Daeng Ewing dan Asyraf

Orang selanjutnya adalah Daeng Ewing. Semangat traveling-nya luar biasa kuat dalam pola pengaturan waktunya. Senior ganteng ini, sangat tepat berada di depan rombongan trip. Pengalaman touring dan tripnya mumpuni menjadi leader trip. Oh, iyya, urusan diplomasi dan negosiasi serahkan saja pada beliau.

Kak Cecep

Kak Cecep

Lalu ada Kak Cecep, super senior yang gokil dengan wawasan yang luas. Ada banyak hal yang diketahuinya dan sulit dipahami orang lain. Termasuk wawasan tentang nama-nama batu mulia atau batu cincin yang sedang tren. Dan masih banyak hal lain yang membuat personel trip tidak menyesal dengan keikutsertaannya di trip. Ah, yang paling gokil kemarin adalah sulap menghitung jemari yang memainkan intonasi dalam menyebut angka. Sulap yang bukan sulap ini sontak membuat rombongan terbahak-bahak menikmati udara di ketinggian Enrekang.

Juju

Juju

Wahyu

Wahyu

Tiga Koleganya Wahyu

Tiga Rekannya Wahyu

Najib, Saya, Nuge, Mardi, dan Evi

Najib, Saya, Nuge, Mardi, dan Evi

Najib

Najib

Nuge

Nuge

Personel lainnya, ada Najib, Juju, Evi, Asyraf, Nugroho, Wahyu bersama tiga rekannya. Total tiga belas orang personel dengan tujuh motor.

Trip Toraja berhasil menelorkan banyak bahagia. Tapi bukan trip namanya tanpa masalah. Perihal besar ada di bagian akomodasi dan tempat tinggal. Trip dengan durasi empat hari tiga malam ini, mesti dipersiapkan dengan matang soal tempat tidur itu. Rencana tetap rencana, kenyataan boleh saja sama atau tidak sejalan.

Spekulasi ala Backpacker

Identifikasi relasi dan kolega dijejal pada masing-masing personel. Siapa punya kenalan dan teman sekawan yang bias menjadi check point. Akhirnya tertulislah dalam agenda awal, akan bersinggah dengan penuh spekulasi soal silaturrahim di check poin pertama di Pangkep, di Warung Makan Hayati, tepat di tepian Sungai Kali Bersih yang berseberangan dengan ikon kota Pangkep, Bambu Runcing. Rencana ini mewujud namun sepertinya kurang matang dalam permainan umpan mengumpan wacana.

Di rencana selanjutnya adalah bersilaturrahim di rumah salah satu junior di Kota Barru. Akan dipersiapkan sebagai check poin kedua sekaligus pengisian kantong energi di poros tengah. Ada opsi lain bila misi di balik silaturrahim itu gagal, kami akan berspekulasi di relasi dan adik-adik junior di Kota Pare-Pare. Kenyataannya, konfirmasi di hari-hari jelang berangkat, dua opsi tidak berlaku. Akhirnya, karena umpan matang di Kota Pangkep gagal tereksekusi dengan baik hingga matahari hampir tepat berada di ubun-ubun, maka inisiatif action yang ditawarkan Kanda Iqbal betul-betul mujarab mengganjal perut. ikan bakar dan sop saudara menjadi santap siang yang sepenuhnya ditanggung beliau.

Kekenyangan di Kota Pangkep adalah perangkap perjalanan, kami terkantuk-kantuk karena kantong tengah telah berisi maksimal. Tapi perjalanan terus berlanjut. Rupanya hujan sudah menunggu setelah kami menunaikan sholat dhuhur tidak jauh dari Kota Pangkep. Kami sudah bersepakat, hujan bukan alasan untuk berhenti. Hujan hanya membasahi, tidak menghalangi. Setiap personel telah dipesan khusus untuk membawa jas hujan sebagai peralatan bawaan wajib.

Dengan hujan yang tak seirama sepanjang jalan dari Pengkep hingga perbatasan Barru dengan Pare-pare. Kami lebih memilih tetap memakai jas hujan di beberapa daerah yang sama sekali panas dan matahari benar-benar jujur menerangi bumi. Hingga dengan beberapa miskomunikasi, tibalah kami di Kota Pare-Pare saat senja dan hujan saling berebut tempat mengisi penghujung hari.

Nah, malam pertama trip akan menyepi di daerah Manisa, sebelum Kota Rappang, Sidrap. Untuk rencana ini sudah fix seratus persen, empunya sudah siap sedia dan mengiyakan jauh hari sebelum trip. Kami betul-betul tiba di Manisa dengan segenap harapan yang tidak muluk-muluk, hanya makan malam dan tempat meluruskan badan untuk menjemput hari esok yang masih setengah perjalanan ke Toraja.

Lia

Lia

Di Manisa, di kediaman Lia, salah satu junior patuh yang tak banyak neko-neko. Kami dilayani dengan total dan penerimaan yang maksimal. Semua wajah di keluarganya menyambut dengan senyum tulus dan keramahan yang tak dibuat-buat. Maka kami pun nyaman menikmati malam di sana. Oh iya, santap malam yang tak terlupakan adalah hidangan khas dari Kabupaten Sidrap, apalagi kalau bukan Nasu Palekko.

Yang belum saya ceritakan sampai di sini adalah bahwa, rombongan trip hingga santap malam itu hanya ada delapan personel. Daeng Ewing, Wahyu dan tiga koleganya menyusul belakangan. Dan akhirnya mereka tiba di Manisa, lewat tengah malam. Jam yang sangat sensitif bagi anjing-anjing penjaga rumah di sana.

Rencana esok harinya, adalah melakukan silaturrahim di salah satu junior di Kabupaten Enrekang, tepatnya di Kecamatan Baraka. Jumat semakin dekat, kami agak telat bertolak dari Manisa. Sebelumnya ada view poin yang tak boleh lewat tanpa rekaman kamera. Background Gunung Nona adalah sebuah pemandangan unik. Tak perlu bersusah payah tracking untuk bias berfoto dengan latar gunung. Cukup menepi dan nikmati secangkir kopi murah di warung yang berjejer banyak saling menawarkan spot berfoto.

Aliansi trip 6

Menyusuri Sunyi

Lewat jam sebelas siang, kami bergegas meninggalkan warung. Waktu jumat semakin merapat. Penanda lokasi untuk memasuki destinasi ketiga adalah Pasar Cakke. Dari junior yang di Baraka tersebut, kami diberi tahu, kami mungkin akan menyusuri jalan sepi sekira 7 kilometer jauhnya. Kenyataannya, jarak itu jauh lebih dekat dibanding jalan yang benar-benar kami tempuh untuk sampai di rumahnya.

Setelah menyebut nama desa dan bertanya beberapa kali, kami tiba dengan sedikit keluh soal jarak yang orang di pegunungan sering sekali menggulung-gulungnya. Standar jauh yang digunakan memang beda dengan jauh yang dimaksud oleh orang yang lama menjajal jalanan kota. Sebenarnya tidak terlalu sulit menemukan rumah junior kami ini, katanya kepada kami. Cari saja rumah Papa Dilla, atau Papa Kembar Tiga. Betul saja, setelah berada di desa yang dimaksud, hanya sekali tanya warga, kami ditunjukkan sebuah rumah panggung yang di bawahnya ada anak kembar sedang bermain air dari selang yang mengalir lambat. Tak salah lagi inilah rumah Papa Dilla.

Kembar Tiga

Kembar Tiga

Sempat bersalaman dan belum banyak basa basi, segera kami ke masjid terdekat mendengar khotbah yang bahasanya sebagian menggunakan bahasa daerah. Inti khotbah, mengajak semua jamaahnya beramai-ramai ke Tanah Suci. Yang kebetulan sekali, khatibnya adalah seorang ustadz yang punya usaha travel. Dan kebetulan lagi, nama ustadznya terpasang di spanduk ajakan umroh yang ada di rumah salah seorang warga tepat di depan masjid.

Ibadah jumat usai. Sampai rumah Papa Dilla, kami masih sedikit menyinggung soal isi khotbah disisipi canda tawa yang renyah, serenyah penganan pisang goreng yang dinikmati bersama teh hangat. Di sinilah, kali pertama saya bertemu muka dengan kenyataan, manusia yang ber-kembar tiga. Nama adiknya Dilla ini, Amma, Anna, dan Anni. Nama panggilan yang betul-betul Enrekang.

Aliansi trip b

Aliansi trip f

Aliansi trip bgh

Sekira jam tiga jelang matahari serong ke barat, kami sudah kembali ke poros Enrekang Toraja. Tentunya setelah makan siang yang enak di rumah Papa Dilla. Sebelum sampai di jalan poros, tak baik rasanya melewatkan pemandangan alam, yang bentuknya menyerupai irisan kue lapis. Ada juga yang bilang, irisan-irisan gunung ini mirip sekali dengan setting desa di komik Naruto. Tepat di pinggiran bawahnya, mengalirlah sungai yang katanya pernah menjadi lokasi arung jeram beberapa waktu lalu oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional. Terlihat juga, kuburan orang dulu, yang seolah sengaja terpajang di tepian tebing. Indah kan, apalagi bila langit biru cerah bermain awan.

Hidup yang dinikmati dengan gurau dan banyak tersenyum rasa-rasanya jauh lebih berkualitas dibanding hidup yang dilewati dengan keluh dan mengutuk masa lalu. Kami tak pernah jauh dari senda gurau, kadang tak mengenal tempat. Di jalan raya, di wc masjid, di warung, di tugu batas kota, di mana saja kami tak boleh lupa untuk melebarkan senyum. Karena dengan senyum yang dibersamai, di sanalah lahir rasa bahagia yang tak sedikit orang mengejarnya jauh sampai ke langit. Kami simpel saja, di trip begini, asal kami bersama, maka kami sudah layak berbahagia. Tidak peduli itu kondisi yang susah atau kondisi yang menyenangkan. Bahagia itu, susah bersama.

Aliansi trip bn

Selamat Datang di Toraja

Saya lanjut lagi soal trip ini. Sekali lagi, di penghujung hari, hujan dan senja berselisih tipis. Keduanya menjadi kemestian yang harus dilewati. Kami masih sempat berfoto bersama di gerbang selamat datang Tana Toraja, sebelum kami dituntut untuk terus berjalan sampai pada posisi aman. Destinasi. Sebaiknya jangan selalu bertanya kapan kita sampai di destinasi, di mana lokasi destinasi? Mari bertanya tentang bagaimana kita sampai di destinasi? Supaya kita bisa lebih memahami hakikat sebuah perjalanan.

Jauh atau dekat itu hanya soal persepsi. Jarak itu adalah rentang keinginan dan kenyataan. Seberapa optimis dan antusias kita mewujudkan keinginan akan mengalahkan jarak yang terukur oleh satuan panjang.

Bagi muslim, salah satu tantangan ketika kita berada di Toraja adalah sulitnya menemui masjid. Adzan maghrib berkumandang dari satu-satunya masjid di Kota Makale, tepat ketika kami berhasil meng-ada di pinggiran kolam yang menjadi central poin Kota Makale. Sekejap setelah benang cahaya matahari tertelan gelap, maka seketika itu terganti oleh lampu-lampu buatan yang menerangi penjuru kota.

Aliansi trip vc

Aliansi trip 23

Yang paling tidak terlupakan adalah suara letusan dari banyak sekali arah. Ada ratusan atau bahkan mungkin ribuan Baraccung Bambu yang berusaha menyerang kokohnya Patung Heroik Lakipadada di tengah kolam. Bunyi yang sulit teridentifikasi dari Baraccung mana bersumber. Bunyi yang sungguh mengagetkan jantung. Karena malam itu juga bertepatan dengan malam puncak perayaan Lovely December, maka kami tak mengapa sedikit berfoto-foto di sana.

Salah satu tuntutan dari poros tengah kembali bergema, kami tak diizinkan berlama-lama di tengah keramaian ini. Kendaraan padat merayap. Mengitari setengah lingkaran kolam. Saya terpisah dari rombongan, sedikit melaju menuju arah Rantepao. Hujan menghadang di perjalanan. Tapi sekali lagi, tidak menghalangi. Rombongan menyatu kembali sebelum kota Rantepao.

Aliansi trip 49

Sesuai target, kami akan menginap di salah satu rumah junior kami yang lain. Rombongan meghajar jamuan makan malam yang ekstra pedas, ikan bakar dengan cobek lombok-cabe Kato’kon. Sumpah bikin lidah bergetar cetar membahana. Dan saya lupa berhenti makan. Sampai menyadari saya sudah nambah berkali-kali. Di rumahnya Mardi yang baik hati ini, hak-hak kami sebagai pejalan semua terpenuhi. Dingin dan nyaman. Ibu bapaknya mengerti jiwa muda kami. Saat senggang di pagi hari, giliran diplomat dan para kanda senior yang mengambil peran. Bertukar cerita kepada tuan rumah, memberitakan aktivitas Mardi, anaknya yang sudah di tingkat akhir. Mewacanakan soal pentingnya sang anak bersekolah tinggi-tinggi. Mengikuti banyak seniornya. Percakapan serupa itulah yang saya curi dengar dari ruang tamu.

Rencana awalnya, kami hanya akan menginap di rumahnya Mardi cukup semalam saja. Pertimbangan tidak enak merepotkan terlalu banyak. Apalagi dengan jumlah belasan orang, yang kadang-kadang lupa diri. Kadang-kadang lupa menjunjung langit di mana bumi dipijaknya. Karena tidak semua karakter mampu dikomandoi dengan satu perintah. Sesekali ada pembelotan. Hal-hal seperti itulah yang biasanya akan menjadi buah bibir dan oleh-oleh sepulang perjalanan. Kami berusaha saling mengerti, tapi selalu ada yang tidak satu hati.

Sabtu yang Lama

Hari sabtu itu, menjadi hari yang jauh dan panjang. Lelah dan basah. Berakhir di tengah malam yang ada sesalnya. Kami berpadat-padat gembira di beberapa objek wisata yang sudah familiar. Sempatlah terjadi perundingan untuk memutuskan, kemana langkah pertama akan menjejak. Lalu kemana lagi. Dan kemana lagi. Akhirnya, kami ke Kete’kesu dan Londa. Banyak sekali gambar yang terekam cantik di dua tempat itu.

Aliansi trip bg

Aliansi trip da

Aliansi trip r

Ah, perut kembali lapar di pertengahan hari. Sulit sekali mencari warung makan muslim di sini. Lagipula, harganya pasti akan melonjak. Melihat permintaan pasar yang semakin tinggi. Karena prediksi itu pulalah, anggota rombongan diintruksikan membawa Pop Mie. Sayangnya, kami tak serentak dan tak semua mudah menerima intruksi. Lalu, Mardi kembali jadi penyelamat. Kami ditawari untuk kembali ke rumahnya. Katanya, ibunya sudah menyiapkan makan siang untuk kami.

Lelah. Kenyang. Ngantuk. Istrahat sejenak. Personel trip meminta waktu istrahat sampai pukul empat sore setelah ashar, untuk lanjut bila masih ada destinasi alternative yang akan didatangi. Kami mendapat info, sore itu ada pegelaran pesta adat Mappasiraga Tedong, di utara Rantepao. Kami meluncur, mencari lokasi termaksud. Belum sampai lokasi, hujan deras sekali. Tertumpah ruah dari langit. Pada akhirnya, sebelum benar-benar menuju lokasi pesta adat, kami bertanya di warga dan jawabannya sangat mengecewakan. Pestanya telah usai. Ahha, kepalang tanggung dan beberapa orang tertembus basah. Kami tetap lanjut jalan, meski gelap sudah mengancam akan menutup tirai hari.

Aliansi trip ade

Tidak baik terlalu lama bersedih atas kegagalan. Keindahan yang lain juga tak kalah memuaskan mata. Ada kompleks Megalitikum. Puluhan batu purba menjulang ke udara. Di atas kompleks batu, ada pekuburan pohon. Kuburan untuk mayat bayi. Kami terbayar tuntas sampai di sini. Sebelum gelap menyergap dan dingin menusuk tulang belulang kami. Kami pulang ke Rantepao, ke rumahnya Mardi.

Setelah lelah. Apalagi? Kami tak pantas istrahat terlalu puas di destinasi trip. Sudah jadi keniscayaan, puaskan lelah di perjalanan, karena selalu ada rumah tempatmu pulang dan tertidur pulas setelahnya.

Waktu berjalan serasa cepat sekali. Seperti melangkahi jam-jam tertentu. Misalnya, jam enam sampai jam delapan itu. Serasa tiada pernah ada di malam itu. Tetiba sudah jam Sembilan malam. Saya mencoba agitasi, mengkonfrontir personel untuk keluar rumah, bergeser sedikit ke kordinat keramaian, ke Makale. Beberapa orang iya, beberapa orang enggan lagi berjalan malam. Tawaran ini adalah pertarungan resiko. Melawan gelap dan dinginnya jalan. Tapi keputusan atas perkara seperti ini harus dipahami secara bersama. Harus kolektif. Tak boleh ada setengah hati menerima hasil perundingan.

Sekali lagi, waktu mengambil perannya. Terus meninggalkan kami yang masih berdiskusi di balik selimut. Ada yang sudah tertawa karena menyadari, kami terlalu banyak kompromi. Bahkan ada yang sudah meng-update status BBM, kalau dia tengah berada di pusat keramaian Kota Makale. Padahal dia sedang terbaring malas di tengah ruang tamu. Ah, tak usah sebut namanya. Hal-hal yang disesali seperti ini akan menjadi pelajaran berharga pada trip selanjutnya.

Pulang

Yang ingin kembali saya ceritakan di bagian ini. Sebenarnya, malam minggu itu, menurut run down acara yang kami susun. Kami semestinya menginap di Kota Makale, rumahnya Tante-nya salah satu junior yang lain. Namun apalah daya, konfirmasi terakhir tak sesuai espektasi. Jadinya, kami dengan sangat tidak ingin merepotkan, kembali menginap di rumahnya Mardi. Beruntungnya, kami mampu dipahami. Dari banyak sisi. Kami harus banyak berterima kasih di keluarga ini. Terutama soal tempat tidur ini. Dari hasil curi dengar saya saat di keramaian siang tadi, hotel-hotel dan penginapan semuanya penuh. Trims Mardi.

Penting sekali merawat teman. Bukan untuk hal-hal pragmatis dan sesaat. Kita perlu kadang-kadang mengorbankan keegoisan untuk memahami rumitnya sebuah jalinan pertemanan terangkai. Bukan soal, kita akan mendapat apa dari pertemanan. Semua soal hubungan sosial yang tidak kita tahu akan bermuara seperti apa nantinya.

Pagi cerah di hari minggu itu. Kami pamit untuk pulang. Banyak sekali yang saya lupa untuk saya tuliskan di bagian sebelum ini. Jalan yang meliuk-liuk di sepanjang poros Toraja – Enrekang adalah tantangan perjalanan. Kami berhasil melewatinya dan kembali menepi sambil menyeruput segelas kopi pekat di view poin Gunung Nona. Sebelum akhirnya tiba di Makassar yang hujannya deras sekali, kami menyempatkan diri singgah makan malam di rumah yang sudah beberapa kali kami kunjungi, rumah salah satu personel trip, di Kabupaten Pengkep. Rumahnya Wahyu.

Pada awal dan akhirnya semua mesti dilakukan di atas landasan untuk mengejar kebaikan dan menghindari kesia-siaan. Bukankah terjalinnya silaturrahim adalah sebuah alamatulkhoir. Sebuah tanda-tanda kebaikan. Semoga masih masih bisa terus bersilaturrahim di trip selanjutnya. Nantikan kami, mengunjungi kotamu. Aliansi Trip.

Gambar: Dokumentasi Pribadi