Archive for December, 2014

Senja Terakhir

Posted in Blogger Kampus with tags , , , , on December 11, 2014 by mr.f

senja terakhir

Senjaku kelabu,
namun kulihat warna jambu di seluruh penjuru
Akhirku di ujung tanduk,
di sela ucapan hati yang mengalir.

Senjaku tak kulihat lagi
tertutup tudung langit yang mendung.
Inilah akhirku.
Prosesi pembeda dua dunia.
Garis tipis yang memulai dan mengakhiri.
Mautku menjemput.

Senja terakhirku,
aku datang memeluk takdir.
Menyempurnakan hidup.

Kutitip dunia yang kugarap lama.
Kubekaskan tinta peradaban di ubin tua.
Kusisakan yang baik tanpa pamrih.
Kuwariskan banyak ilmu di seribu lapis generasi.
Kuwasiatkan kebenaran.
Kukecam kebodohan.

Jenguklah aku di telapak doa.
Sembari duduk bersila mengadap wajah ilahi.
Aku di situ.
Di persinggahan dunia lain.
Menanti banyak sekali amal jariyah.
Menanti kebaikan dari seluruh yang kutinggalkan.

Di senja terakhir.
Janganlah sedih menutup hari.
Aku bersuka menatap malam.
Aku bersiap kembali pulang.

Ungkapan belasungkawa untuk kepergian Kakek Terhormat, Sang Imam sepanjang masa. Segera setelah mendengar kabar duka. 11/12/14

Gambar; melindayunida-sciencethree-duablas.blogspot.com

Senyum Yang Hilang

Posted in Blogger Kampus with tags , , , , , on December 11, 2014 by mr.f

senyum yang hilang

Hujan semakin jatuh tak terputus, bagaikan triliunan benang panjang yang menjuntai ke bumi. Hujan menghias di sana sini. Di dinding dunia yang maya dan nyata. Hujan membasahi akhir tahun. Banyak sekali. Menggenangi kubangan dan kenangan. Hanya satu tema yang sebanding dengan tema hujan di penghujung tahun, senyummu.

Entah kenapa di akhir tahun, senyummu begitu sulit ditemukan. Mungkin banyak kau sembunyikan di balik sunyinya malam yang kau dekap demi doamu. Bersama air mata yang kau aduk-aduk dalam cawan pengharapanmu. Senyum yang hanya imajinasi dan Tuhan yang tahu. Atau justru senyummu kau ukir di tempat lain. Di tempat yang begitu kontras dengan senyum itu sendiri. Sebuah kamuflase.

Tulisan ini sejujurnya ingin kusembahkan sebagai kado penutup tahun. Sebagai balasan atas banyak tanda tanya yang menggantung di kepalaku. Benarkah sebuah pertikaian begitu muda merubah raut wajah seseorang. Melenyapkan senyum sapa di semua ruang pertemuan. Seseorang yang begitu lekat dengan kebaikan. Seseorang yang telah melilitkan tali emosionalnya sebegitu erat di tiang kebersamaan. Seketika menjelma diam meninggalkan tanda tanya.

Sejauh yang kupahami. Amor platonicus akan selalu berakhir dengan kecuriagaan-kecurigaan dan pengabaian. Namun, pengabaian kali ini belumlah kusangkakan akan menjadi akhir dari semuanya. Kuyakin, kita masih punya banyak kesempatan untuk mengurai satu per satu kekusutan ini.

Sampai Desember ini berakhir, kuharap akan kujumpai senyuman itu mekar kembali. Senyum yang menebarkan semangat. Senyum yang menginspirasi gerak perubahan. Aku masih akan setia pada alur yang menyenangkan ini. Seraya menunggu Tuhan mengijabah permintaanmu. Lalu, dunia akan merangkulmu. Menyempurkan keelokan penciptaanmu. Bersama hujan yang memberkati. Senyummu tulus.

Makassar, 11 Desember 2014

Gambar; jemari-jalanan.blogspot.com

Isyarat Langkah

Posted in Komunitas Daeng Blogger, Sajak with tags , , , on December 6, 2014 by mr.f

Isyarat Langkah

Ada keseriusan pada tema percakapan bayanganku sendiri di penghujung malam yang gerimis itu. Percakapan yang mendialogkan masa depan dengan khayalanku seorang diri. Suasana penuh keasingan dan teror dari banyak penjuru. Suasana yang mempersoalkan caraku menjadi bahagia -sendiri. Tidak ada tirai yang membentang. Tak ada batas dimensi ruang.

Kegelisahan-kegelisahan itulah yang lalu berani meloncat kesana-kesini di kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang penuh absurditas. Kehidupan yang menolak rencana-rencana manis dan terbumbu rapi.

Percakapan bayangan itu pulalah yang pada akhirnya menjadi meriam yang akan menghentak tembok-tembok persoalan. Lalu kuyakini akan mampu menembus jantung kebodohan dan kesia-siaan. Merobek sensor ketidakpekaan dan egoisme sosial. Sungguh hanya sisi spiritualitaslah yang membuatnya terang-benderang seperti cahaya lampu senter yang menemukan ruang gelap yang geram diserang ketakutan.

Dalam ketidaksudahan tanpa penjelasan makna, seorang diri dalam sepi adalah tempat menatap dan mencari setitik berkas cahaya yang tertelan oleh kebisingan dan ketidakpedulian. Siapapun dalam sepi dan gerimis di tengah malam, akan menemukan dirinya sendiri memeluk mimpi. Akan meresapi setitik demi setitik darah mendidih yang mengaliri harapan hidupnya.

Siapapun dia yang masih menyisakan sedikit takdir dalam kenyataan hidupnya, maka dia layak menundukan dirinya, memulai percakapan dengan bayangan sendiri. Seperlunya akan berakhir menjadi kristal bening tanpa muara.

Bayangan diri sendiri bisa saja adalah masa depan yang menyublim dan memberi isyarat langkah. Mengingatkan tantangan. Mengingatkan kesalahan masa lampau yang terlanjur. Mengingatkan seperti apa wujud diri ini dalam bayangan.

Setiap kita, tak pernah terlalu gagal  dan terlambat membincangkan itu semua. Pada diri kita sendiri. Pada dingin sepi malam di musim penghujan yang baru saja tiba ini. Aku, kamu, dan siapa saja yang ingin mengenal mimpi dan sedikit meratapi punggung dosa-dosa, maka sering-seringlah bercakap dengan bayanganmu sendiri.

Gambar;  videohive.net