Jujurlah Pada Hatimu

maruf

Belum terlalu lama setelah ulang tahunmu. Aku kembali dari tempat yang jauh. Kusebutnya sebagai kepulangan yang terpaksa. Tapi tidak juga mengartikan, semua itu karena kamu. Aku hanya diterpa angin rindu yang beradu jenuh.

Kita sekarang riang pada rutinitas. Aku yang berpura-pura lupa ulang tahunmu, terbalas dengan ketidakpedulianmu pada tiga september-ku. Cepat atau lambat keadaan akan menjelaskan kebenaran. Penyesalan menyertai setelahnya.

Tidak ada yang terlalu kuat untuk berkata jujur atas perasaan. Kecuali pada hati yang terbiasa tak berbudi luhur.

Aku yang terlambat menyadari kejujuranku, semakin merasa lubang jarak yang mengangah. Hingga semuanya menjadi sangsi untuk memulai lagi saling menyapa.

Soal surat-surat yang belum rampung itu, aku tak mau memberatkan jiwaku karena alasan transaksional. Selalu menuntut balasan.

Untuk kesekian seringnya, pengakuanku tak lebih dari sebuah udara yang memenuhi ruang. Ada dan terasa tapi selalu terlambat untuk disadari.

Wahai pujangga, jujurlah pada hatimu.

 

Makassar, 27 Oktober 2014

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: