Archive for November, 2014

Gairah Sepi (Bersetia)

Posted in Blogger Kampus, Sajak with tags , , , , on November 25, 2014 by mr.f

bersetia

Ternyata kesepian tidak selamanya berkarib dengan meranggasnya nasib. Kesepian memang dianggap crumb, remah keadaan yang selalu dipinggirkan, dibuang karena dianggap bertolak belakang dengan semangat kehidupan, tapi ia menyimpan energi potensial yang menunggu disentuh-diolah. Energy potensial itu bersembunyi dengan khidmat dalam celah-celah yang bernama ruang dan waktu. Ia selalu datang tanpa disangka-sangka dengan memperalat nostalgia sebagai kereta kencananya. Bila sudah begitu, kesepian sejatinya juga menguar energi lain, energi yang lebih tampak, bergerak, dan hebat.

Energi kinetik.

Kesepian yang mengamuk memapu meredam gejolak kenyataan yang berseberangan dengan impian, mampu memutar sifat dan tabiat puluhan derajat hingga tanpa sadar seorang terlempar ke titik yang tak pernah terbayangkan;entah itu harapan, atau juga sesuatu yang dihindarkan. Tanpa sadar, diri pun bagai menemukan belahannya yang lain. Dan kekuatan dari kesepian ternyata mampu menyatukan belahan-belahan itu hingga menjadi sesuatu yang baru.

Sesuatu yang baru. Bukan sesuatu yang utuh.

Mungkin karena kesepian adalah keadaan yang paling mampu menciptakan ruang percakapan mahaluas tanpa gangguan radar. Mungkin juga karena kesepian mampu membiaskan pikiran yang tegang, memiuhkan ego yang saklek, dan mengubah perilaku yang mendarah daging.

Kesepian juga keadaan yang palig mustajab untuk merenung. Merenungi apapun. Termasuk masa lalu. Termasuk makna hidup. Termasuk membongkar-bangun ulang rangka jiwa menjadi lebih bersenyawa dengan kebaikan dan kearifan. Untuk menjadi lebih baik, lebih matang, lebih bijak. Lebih ….

Potongan Novel Bersetia karya Benny Arnas, halaman 165-166

Jujurlah Pada Hatimu

Posted in Blogger Kampus, Sajak with tags , , , , on November 5, 2014 by mr.f

maruf

Belum terlalu lama setelah ulang tahunmu. Aku kembali dari tempat yang jauh. Kusebutnya sebagai kepulangan yang terpaksa. Tapi tidak juga mengartikan, semua itu karena kamu. Aku hanya diterpa angin rindu yang beradu jenuh.

Kita sekarang riang pada rutinitas. Aku yang berpura-pura lupa ulang tahunmu, terbalas dengan ketidakpedulianmu pada tiga september-ku. Cepat atau lambat keadaan akan menjelaskan kebenaran. Penyesalan menyertai setelahnya.

Tidak ada yang terlalu kuat untuk berkata jujur atas perasaan. Kecuali pada hati yang terbiasa tak berbudi luhur.

Aku yang terlambat menyadari kejujuranku, semakin merasa lubang jarak yang mengangah. Hingga semuanya menjadi sangsi untuk memulai lagi saling menyapa.

Soal surat-surat yang belum rampung itu, aku tak mau memberatkan jiwaku karena alasan transaksional. Selalu menuntut balasan.

Untuk kesekian seringnya, pengakuanku tak lebih dari sebuah udara yang memenuhi ruang. Ada dan terasa tapi selalu terlambat untuk disadari.

Wahai pujangga, jujurlah pada hatimu.

 

Makassar, 27 Oktober 2014