Kunang-Kunang Malang

kunang kunang malang

***

Seekor kunang-kunang, berpendar. Menelusuri tepi kota dengan segenap cahaya di punggungnya. Hidupnya tak berkoloni, seperti banyak kawan-kawannya. Dia saksikan satu persatu bola cahaya yang menerangi alam sekitarnya. Hingga ia temukan ada lampu pijar yang bermukim di satu pohon besar.

Kunang-kunang menyakini sebuah ambisi dalam hidupnya. Bahwa, suatu saat nanti, dia akan menjadi sumber cahaya yang sangat besar, mengalahkan sinar mentari di siang hari, dan cahaya bulan di malamnya. Ia percaya, energinya akan bertambah melalui keintiman yang tiada batas pada inangnya.

Bekerjalah kunang-kunang dibawa kendali ambisinya. Ia serap seluruh benang-benang cahaya. Ia pelajari bagaimana horison menelan spektrum. Ia amati bagaimana gelap menyergap warna. Bagaimana pagi mampu membuka mata.

Kunang-kunang jatuh dan bangun cinta yang semu pada sekelilingnya. Ia tumpahkan seluruh tetes peluh yang ia punya. Kunang-kunang mengejar ambisinya.

Lalu, datanglah suatu malam yang dingin dan kaku. Membius penjuru alam dalam diam. Bertransformasilah kunang-kunang menuju peluruhan yang ia bayangkan. Kunang-kunang melepuh membendung hawa panas dari tubuhnya. Ia terbakar oleh ambisi besarnya. Dan hancur melebur tak berbentuk.

Kunang-kunang kecil yang ambisius. Terkuburlah dia dalam tanah tanpa wujud. Ia lupakan perkara keseimbangan dalam hidup. Setemaram apapun pendaranmu, itulah cahayamu. Berpijarlah di tempat yang gelap, tak peduli seberapa jauh kau menerangi. Cahayamu tak lebih penting dari manfaatmu.

***

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: