Archive for October, 2014

Perempuan (Suci)

Posted in Having Fun, Sajak with tags , , , , , on October 9, 2014 by mr.f

perempuan suci

Untuk perempuan yang kucintai dengan suci. Aku mengenalmu lewat perbincangan hatiku sendiri. Tak ada kata-kata untuk mengantarkannya kepadamu. Kaulah perempuan pertama yang kusebut sebagai cinta.

Jangan tanyakan, dari mana benih cinta datang bertumbuh. Terkadang akupun heran. Setiap harinya dalam paruh hidupku yang ke dua puluh enam, kueja wajahmu di langit-langit kamarku. Kuretas bayangmu yang menghablur di sudut-sudut imajinasiku. Kulukis senyummu dari sisi yang sempurna. Kehidupanku telah tersusupi oleh keasingan yang nyata.

Di suatu malam yang panjang dalam gelapku. Kususur setitik demi setitik alur hidup yang akan kutempuh bersamamu. Tak pernah kusangka, bias warna dalam gelap itulah yang mempertemukan kita, di waktu yang tidak biasa.

Kepertaruhkan sekian banyak seleraku demi nama yang suci dalam benakku. Aku sedia memantaskannya untukmu. Kesepianku telah menemui akhirnya. Lalu tak perlu kujabarkan rasa malu ku menentang batas-batas. Menghinakan diriku atas nama cinta suci. Kurantai semua berontak yang menjadikan aku yang lalu. Tersebutlah sepotong namamu di belakang silsilah garis sejarahku. Kaulah perempuan, yang suci dalam jiwaku.

Dahulu, tak pernah kupandang dunia semanis ini. Hingga sebuah petaka mengabarkan ujung cerita yang berbuah derita. Aku patah hati karena perempuan yang kusebut suci. Aku jatuh hati pada orang yang salah.

Patah hati adalah cara terbaik menguji kesucian cinta. Saat kau lelah, datanglah menemuiku. Aku boleh jatuh cinta pada orang yang salah, tapi cintaku tak pernah salah. Aku boleh mengalah demi cinta, tapi aku tak pernah mengalah untuk lupa.

Aku patah, pada sucinya cinta. Tapi aku tak latah mencintaimu. Untuk kesucian ini, akan kubawa hingga mati. Cinta selalu bertemu.

Cinta tak bisa tumbuh bersama.
Cinta tak bisa tumbuh terpaksa.
Cinta tak bisa hanya sepihak.

Untuk perempuan yang akan terus suci.

Advertisements

Kunang-Kunang Malang

Posted in Having Fun, Sajak with tags , , , on October 9, 2014 by mr.f

kunang kunang malang

***

Seekor kunang-kunang, berpendar. Menelusuri tepi kota dengan segenap cahaya di punggungnya. Hidupnya tak berkoloni, seperti banyak kawan-kawannya. Dia saksikan satu persatu bola cahaya yang menerangi alam sekitarnya. Hingga ia temukan ada lampu pijar yang bermukim di satu pohon besar.

Kunang-kunang menyakini sebuah ambisi dalam hidupnya. Bahwa, suatu saat nanti, dia akan menjadi sumber cahaya yang sangat besar, mengalahkan sinar mentari di siang hari, dan cahaya bulan di malamnya. Ia percaya, energinya akan bertambah melalui keintiman yang tiada batas pada inangnya.

Bekerjalah kunang-kunang dibawa kendali ambisinya. Ia serap seluruh benang-benang cahaya. Ia pelajari bagaimana horison menelan spektrum. Ia amati bagaimana gelap menyergap warna. Bagaimana pagi mampu membuka mata.

Kunang-kunang jatuh dan bangun cinta yang semu pada sekelilingnya. Ia tumpahkan seluruh tetes peluh yang ia punya. Kunang-kunang mengejar ambisinya.

Lalu, datanglah suatu malam yang dingin dan kaku. Membius penjuru alam dalam diam. Bertransformasilah kunang-kunang menuju peluruhan yang ia bayangkan. Kunang-kunang melepuh membendung hawa panas dari tubuhnya. Ia terbakar oleh ambisi besarnya. Dan hancur melebur tak berbentuk.

Kunang-kunang kecil yang ambisius. Terkuburlah dia dalam tanah tanpa wujud. Ia lupakan perkara keseimbangan dalam hidup. Setemaram apapun pendaranmu, itulah cahayamu. Berpijarlah di tempat yang gelap, tak peduli seberapa jauh kau menerangi. Cahayamu tak lebih penting dari manfaatmu.

***