Penutup Kisah

being-alone

Aku sedang meneteskan air mata saat menulis ini. Aku sedih, karena kupikir dunia tidak memberikan kita ruang untuk mengurai benang kusut yang terus kita lilit tanpa kita sadari. Aku sedang serius melukiskan bayangan masa depan, lalu terusik dengan ketidakmungkinan yang sangat realistis.

Saat akan kueja kalimat penegasan pada rindu. Seketika batinku membatu dihantui keraguan yang memilukan. Aku bertarung melawan keyakinan. Di sekian banyak waktu yang terbuang di sungai penantian, sebetulnya di sanalah ada peluang untuk menumbuhkan kepastian.

Apa yang harus kulakukan bila sudah terlanjur basah. Terendam oleh perasaan yang tidak mengenal batas-batas indera. Tertekan oleh kekuatan tak terkatakan. Sekali lagi kukatakan, aku sedih. Naluri menuntun pada cerita yang lain. Bergerak bebas, tidak peduli seberapa lemah aku menentangnya.

Pada kesempatan yang harus kucuri. Aku ingin sekali memberimu sesuatu yang sangat kusanyangi. Serupa balasan untuk semua penjelasan yang belum terungkap. Aku ingin sekali menutup kisah ini dengan wajah yang berseri. Mungkin sekali itu akan kusentuh jarimu dengan genggaman yang meyakinkan.

Rasa-rasanya, tidak lama lagi aku akan berhenti untuk membiarkan ini semua mengisi sudut-sudut imajinasi. Aku lelah bermain-main dengan prasangka-prasangka yang semakin mengacaukan pikiran jernihku. Untuk kesekian kalinya, semoga kau belum membaca semua ini.

Bone-Bone, 21 Juli 2014

gambar: kisahmuslim.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: