Archive for August, 2014

Merindukan Ketinggian

Posted in Blogger Kampus, Having Fun, Petualangan with tags , , , , , on August 24, 2014 by mr.f

lembah ramma

Sekecil apapun rindu, serendah apapun levelnya, tetap harus dilunasi. Serupa utang yang selalu mengganggu pikiran. Dari tanah yang cukup jauh, kutabung rindu hingga pada waktu yang tepat. Bukan kepada seseorang, bukan kepada sebuah benda. Tapi kepada suatu sensasi yang menyerap begitu banyak partikel kebahagiaan.

Kerinduan itu tertuju pada alam yang menjadikan bintang begitu akrab di cakrawala. Pada alam yang menjadikan udara begitu lembut mengisi ruas-ruas pernapasan. Pada alam yang menjadikan tanah sebagai sahabat yang menguatkan. Pada alam yang menerbitkan mentari begitu mempesona. Alam itu menerbitkan kerinduan pada ketinggian.

Ketinggian adalah sensasi yang tertukar oleh tantangan dan keberanian. Kecenderungan yang selalu ada pada jiwa seorang pejuang, mencapai ketinggian. Menaklukkan ketakutan, merawat keingintahuan. Itulah kerinduan pada ketinggian.

Berada di puncak gunung. Memeluk bintang yang dekatnya serasa tinggal sejengkal. Menghirup udara segar dari pepohonan tanpa polusi. Menikmati kesunyian bersama serangga malam. Melihat dengan bantuan cahaya bulan. Semuanya pernah menciptakan sensasi yang mengisi memori, lalu menumpuk menjadi sepotong rindu yang tergenggam.

pendaki bawakaraeng

lembah ramma

mendaki ramma

lembah ramma

pendakian ramma

mendaki lembah ramma

ppenurunan lembah ramma

Pengalaman melintasi alam dan menerobos hutan terakhir kali terjadi hanya karena ketidaksengajaan. Lintas alam ketika masih kelas dua SMA, waktu itu mewakili sispala sekolah yang tidak punya struktur kepengurusan.  Menerobos hutan karena tersesat terjadi saat melaksanakan tugas mensurvei lokasi pengukuhan anggota baru di organisasi kampus, tahun 2012 silam.

Hidup di punggung gunung selama beberapa hari, pada pertengahan tahun 2013. Lalu, merasakan berada di puncak kawah Gunung Bromo pada akhir tahun 2013. Pengalaman di gunung adalah candu yang tidak sembuh hanya dengan sekali menebusnya. Candu dan kerinduan pada gunung dan ketinggian mungkin akan terus tumbuh hingga rentah dan tak mampu lagi melangkah utuh.

Semestinya, tulisan ini saya buat ketika baru saja mendaki gunung, tepatnya sepulang dari mendaki Lembah Ramma. Sebut saja mendaki, meskipun menurunnya lebih hebat daripada mendakinya.

Lembah Ramma sendiri adalah jalur pendakian yang berbeda dari jalur pendakian ke puncak Gunung Bawakaraeng. Lembah Ramma menjadi pilihan yang jinak bagi pendaki pemula. Track yang tidak terlalu menanjak. Durasi perjalanan yang tidak terlalu lama. Sumber air yang dilalui tersedia di sepanjang lintasan pendakian. Lokasi pendirian tenda yang sangat strategis. Pemandangan alam yang mengesankan.

Bersama dengan dua saudara kandung, serta tiga sepupuh yang kebetulan stay di Makassar. Saya meng-agitasi mereka lalu akhirnya berhasil benar-benar melakukan pendakian yang pertama bagi mereka.

Kami ber-enam belum ada satupun yang pernah ke Lembah Ramma. Mengandalkan himpunan informasi dari internet dan teman-teman. Karena masih punya rasa takut tersesat dan nanti dimangsa binatang buas. Maka, kami harus menunggu kelompok lain yang ingin mendaki kurang lebih satu setengah jam di Desa Lembanna, desa terakhir sebelum pendakian.

merindukan ketinggian

lembah ramma bawakaraeng

tenda di ramma

Kenyataannya kami hanya wasting time menunggu. Menunggu hanyalah pekerjaan seorang pecundang yang takut mengambil resiko. Ketika baru saja mengekor dengan rombongan lain, di pos-pos pertama jalur pendakian ternyata sangat ramai. Serasa berada di jalan raya yang dipadati kendaraan. Bedanya, di sini taka ada kendaraan. Manusia nampak begitu ramah dan sangat sosialis. Saling sapa dan senyum  melengkung setiap berpapasan atau saat saling mendahului.

Pengalaman seperti ini jauh berbeda dari keseharian masyarakat yang kita temui di perkotaan. Sayangnya, hujan turun tak berkompromi dan membuat kami semua kuyup saat perjalanan mungkin baru setengah. Untungnya, hujan tidak berlangsung lama. Bekas hujan yang deras itu membuat lintasan pendakian menjadi becek dan menyeramkan. Apalagi ketika menuruni jurang, yang pendaki sebut dengan “turunan sungai empat”. Kemiringannya mungkin di atas 70 derajat.

Ada juga pengalaman lucu dari kami ketika sampai di Puncak Talung. Saat kami tiba di puncak, kabut tebal menyelimuti. Hanya ada tiga kelompok pendaki. Gerimis memaksa kami mencari inisiatif tempat berteduh. Lalu kami mendirikan satu tenda. Awalnya, kami mengira di sinilah semua pendaki akan mendirikan tenda dan menyangka hanya tiga kelompok inilah yang tersisa di sini.

Kami baru tersentak dan malu sendiri. Ketika kabut mulai hilang dan terlihatlah puluhan tenda warna-warni di bawah sana, yakni di Lembah Ramma. Secepat mungkin kami membongkar tenda tadi lalu kembali berpura-pura hanya memasang tenda tadi karena terpaksa. Pesan, baca baik-baik semua detail rute pendakian sebelum mendaki.

puncak talung bawakaraeng

talung bawakaraeng

puncak talung

TALUNG

Turunan dari Puncak Talung ke Lembah Ramma juga tidak kalah mengerikannya. Ngeri, karen medannya menjadi licin dan berbahaya, salah-salah kita bisa terhempas ke jurang. Tapi kami harus sampai di Lembah Ramma, meskipun ada beberapa orang yang memilih menunggu medan turunan itu lebih jinak.

Lembah Ramma, seperti sebuah kampung di tengah rimba. Terang karena bintang, ramai karena damai. Hitungan saya, setidaknya lebih dari seratus tenda yang membumi di sini. Alam malam yang bertabur gemintang. Tirai mentari yang membuka misteri pagi di sela-sela gemunung.

Nasihat dari @pendakibudiman, saat kau di ketinggian; jangan bunuh apapun selain waktu, jangan ambil sesuatu selain gambar, dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak.

Advertisements

Bukan Hanya Janji

Posted in Blogger Kampus, Having Fun with tags , , , on August 24, 2014 by mr.f

Bukan Hanya Janji

Banyak sekali cara kita menyakiti teman sendiri, sahabat karib, saudara sedarah atau bukan. Bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Manusia terlahir tidak hanya bersama dengan keinginan-keinginannya atau kebutuhan-kebutuhannya. Manusia bersama dengan perasaannya yang sangat rentan teriris dan sangat sensitif menerima ransangan.

Perasaan bukan lawan dari pikiran. Perasaan adalah pasangan dari pikiran-pikiran. Tuntunan naluri kemanusiaan bisa saja menjadi muara terciptanya perasaan yang melegakan. Dalam fitrahnya, naluri dan mengabaikannya adalah sebuah keputusan yang diambil berdasarkan olahan dari rasa. Itulah sebabnya seringkali kita mendengar frase “kamu tidak berperasaan!”.

Perasaan yang kita abaikan, tidak kita sadari ternyata menjadi sampah bagi perasaan orang lain. Orang lain menyimpulkan, kitalah orang yang diartikan telah menyakiti perasaannya. Kehidupan sosial ini, sungguh sulit terlepas dari pengabaian-pengabaian itu. Olehnya, sangat tidak bermasalah jika kita sesering mungkin meminta maaf pada orang-orang dekat kita.

Maaf, tidak karena alasan pengabaian perasaan orang lain itu. Tapi lebih kepada untuk memenuhi ruang-ruang kebahagiaan yang bisa saja diisi oleh kebahagian dan kelegaan perasaan orang lain. Kita penting untuk bahagia dan sebisa mungkin membahagiakan orang-orang terdekat.

Kita tahu, pada janjilah kita sering ingkar. Pada kata bukan janji kita sering abai. Itu sama saja. Pada intinya, kita banyak dan sering menyakiti perasaan orang lain. Disadari atau tidak. Kebahagian orang lain terusik karena pengabaian kita.

Di kehidupan yang berperasaan ini, semestinya memang hidup saling mengerti. Inisiatif memperbaiki kesalahan adalah insting kemanusian kita. Tidak perlu menunggu orang lain mengetuk pintu maaf, juga tidak etis berlebihan memaki diri sendiri.

Desa Tamuku, 08/08/14

gambar: hmichaelbailey.com