Laskar Nalar di Puncak Bulusaraung

bulsar13

Dingin sudah mulai terasa, seperti ada yang menusuk-nusuk jaket tipis yang kukenakan. Lima motor beriringan mengikuti kelok jalanan. Perlahan, meski dengan suara serupa jeritan, motor-motor kami tetap merengek di jalanan yang seperti rambut keriting. Kondisi jalan termasuk bagus, kelokan dan tanjakannnya yang membuat kami sempat menurunkan boncengan.

Kami sedang menuju Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Desa starting point para pendaki gunung Bulusaraung. Kami akhirnya tiba juga di Desa Tompobulu, memakan hampir satu jam perjalanan dari jalan trans Sulawesi.

Desa ini memang berada cukup tinggi dari permukaan laut, lebih dari 900 meter dpl. Wajar kalau kami sempat merasa disengat dingin dan ditinggalkan oleh matahari. Padahal kami tiba di desa ini sekitar jam 10 pagi.

Dari kiri: Om erwin, Yudi, Udin Ghibran, Fitto, Karim, Lidya, Icha, Salim, Om Ikko, Saya

Dari kiri: Om erwin, Yudi, Udin Ghibran, Fitto, Karim, Lidya, Icha, Salim, Om Ikko, Saya

Biar kuperkenalkan dulu para personel Laskar Nalar yang ikut mendaki kali ini. Pertama, dari yang paling senior, Om Iqbal alias Kak Ikko, tidak banyak neko-neko tapi banyak inisiasi. Tidak ragu bertindak dan sangat egaliter, padahal semua kawanan laskar nalar yang ikut mendaki terpaut umur. Hasil penjajakan karakter selama di gunung, Om Iqbal termasuk orang yang kalem (versi Dya Puspitasari)

Kedua, Om Erwin a.k.a Daeng Ewing alias Kak Erwin. Membawa kamera DSLR, salah satu perlengkapan yang sangat diutamakan dalam pendakian. Modis dan selalu tampak tampan, dimanapun dan kapanpun, termasuk ketika di gunung. Punya kemampuan mengelola dapur, alias rajin masak. Sayangnya, saat di gunung, potensi beliau tidak terlalu ter-explore.

Ketiga, Udin Ghibran a.k.a Wahyuddin M Yoka popular dengan panggilan Kak Udin, punya selera humor. Tidak asing dengan pendakian gunung. Katanya, tempat tinggalnya di kampung adalah gunung. Kuat membawa dua tas sekaligus, karena ditopang dengan postur tubuh yang proporsional.

Keempat, Soma Salim, pantang dipanggil Soma, karena Soma adalah nama Kakeknya, jadi panggilannya Salim. Sangat mudah ketawa mendengar humor Kak Udin. Sanggup mendaki meskipun pakai sepatu pantopel. Tidak suka kotor-kotor.

Selanjutnya, saya Upi Maaruvi a.k.a Ma’ruf M Noor, pendaki amatir meski banyak berniat mendaki gunung, mulai dari berniat mendaki Gunung Semeru, Rinjani, Bawakaraeng, sampai Lompobattang. Prestasi pedakian terbaik adalah ketika sampai di puncak kawah Gunung Bromo.

Keenam, Yudi Arianto. Sapaannya Yudi bukan Judi, karena judi dilarang agama. Tangkas dan tidak suka protes. Orang yang berjasa karena banyak mengabadikan gambar selama pendakian. Pendakian ini merupakan pendakian pertamanya, padahal faktanya dia lahir dan tumbuh besar di kaki Gunung Bawakaraeng.

Ketujuh, Doel Abd. Karim, sangat ingin dipanggil Doel, tapi orang-orang lebih senang memanggilnya Karim. Lincah dan sangat interest dengan air gunung. Kuat menggendong carrier 80 liter, padahal badannya tidak terlalu kekar.

Selanjutnya, Fitto a.k.a Fitri Rachmawati. Diurapi darah pramuka. Mengambil peran sebagai juru masak selama pendakian.

Kesembilan, Lidya, nama sebenarnya Dya Puspitasari. Naik gunung pakai sandal gunung yang kebesaran. Digerakkan oleh semangat yang sangat tinggi untuk sampai di puncak. Banyak menilai karakter selama berada di gunung. Kuat mendaki tapi sedikit getir kalau menurun.

Terakhir, Icha alias Khairunnisa Adri. Kawanan yang tas bawaannya paling ringan. Patuh perintah dan pantang mengeluh. Selalu merasa cantik di antara kami. (karena kami lelaki)

Oke, saya lanjutkan. Kami bersepuluh, tujuh lelaki dan tiga perempuan. Membawa dua carrier 80 liter, digendong bergantian. Di antara kami, kebanyakan pendakian ini merupakan pendakian gunung pertama. Hanya saya, dan Om Iqbal yang pernah mendaki sebelumnya.

Kami beruntung, hujan telah berlalu beberapa jam sebelum kami mulai mendaki. Tanah pun hanya tersisa sedikit basah. Di belakang kawanan kami, ada juga pendaki yang sama dengan kami, baru pertama kali mendaki Gunung Bulusaraung.

Benar saja, baru beberapa ratus meter dari starting point atau pos 0, tanah miring sudah kokoh menantang. Total ada 10 pos sampai di puncak. Kecut juga nyali membayangkan pendakian semacam ini sampai pos 10. Tapi kami tidak katro, kami sudah mengumpulkan informasi sebelum mendaki. Bahwa, medan yang menantang itu hanya sampai di pos 4. Selanjutnya, sampai di pos 9 atau tempat mendirian tenda sudah termasuk kategori landai.

Informasi itu tidak bohong. Kami berhasil sampai di pos 9 dengan baik, walau sedikit memakan waktu, karena banyak beristrahat dan berfoto-foto. Pendakian sampai di pos 9 sangat ramai. Ada banyak pendaki yang pulang, namun ada pula yang masih menyusul di belakang kami. Jalur pendakian sangat jelas, dan menutup kemungkinan untuk tersesat.

Di pos 9, sudah bertebaran puluhan tenda. Tenda-tenda berada di antara pohon-pohon besar yang menjulang mencakar awan. Tak berselang lama setelah kami berhasil mendirikan tenda, kabut mulai mengaburkan jarak pandang. Hari juga mulai petang. Sang surya menarik diri dari cakrawala. Bersisa api unggun yang berpencar beberapa titik.

Malam akhirnya datang membawa dingin, tapi tidak meredam suara. Di sini ramai sekali. Ada banyak manusia. Masing-masing mengeluarkan suara yang membuat hutan ini berasa sedang berpesta. Ada banyak macam teriakan, ada banyak macam nyanyian, dan ada yang membawa speaker yang membuat hutan berdetak hingga subuh.

bulsar23

Kami, sudah mengakhiri aktivitas sebelum jam tujuh malam. Termasuk sholat maghrib yang sudah dijamak isya. Air di sini cukup jauh dan medannya menelan semangat. Saya tak sempat membasuh tubuh secara sempurna. Air sangat terbatas dan di-antri oleh banyak orang. Hanya sekali itu saja saya menjumpai sumber air itu, selebihnya saya urung angan. Sholat subuh pun saya hanya tayammum dengan pertimbangan sumber air itu.

Kawanan Laskar Nalar mungkin betul-betul lelah. Nyaris semuanya memulai tidur di jam tujuh malam. Akan menjadi rekor dalam hidup, tidur tercepat. Saya masih gelisah, tapi sedang berbaring. Alas tidur kami merentang di permukaan miring, membuat tubuh kami akan terperosot sedikit demi sedikit. Saya batal membuat rekor tidur tercepat.

Di kepala saya sedang melintas banyak pertanyaan. Saya memilih keluar tenda dan menyeduh kopi. Laskar Nalar sudah tertidur pulas. Ada yang mengorok dan ada juga terdengar beberapa kali suara kentut. Baiknya, karena saya tak sempat mencium kentut itu.

Di tengah hutan ini, sinyal handphone datang dan pergi begitu saja. Saya sempat mengirim pesan pendek, tapi tak mampu mengakses internet. Sempat mengira bahwa di tengah malam mungkin sinyal akan sedikit stabil, nyatanya itu hanya asumsi yang tidak sesuai fakta.

Jam satu malam, para laskar bangun hampir serentak. Lalu bersama-sama menikmati teh hangat di tengah malam. Hanya sejam setelah itu, semuanya kembali pulas. Dan mungkin kembali ke mimpi masing-masing.

Fajar sebentar lagi menyingsing. Kami berniat menyaksikan sunrise di puncak Bulusaraung atau pos 10. Sayangnya, perut dan hasrat ngopi tak semudah itu dikesampingkan. Barulah, setengah tujuh pagi kami memulai mendaki lagi untuk sampai di puncak.

bulsar7

bulsar2

bulsar15

Di puncak, ada ratusan orang yang mengambur. Alam yang disaksikan dari puncak ini memang sangat berbeda. Semua sisi menjadi begitu menakjubkan. Di sinilah salah satu kebahagiaan itu berada. Kami sempat menyanyikan salah satu lagu nasional yang saya lupa judulnya.

Jam setengah sebelas pagi, kami sudah berkemas untuk kembali. Perjalanan turun gunung sedikit lebih mudah menurut persepsi kami. Karena, hanya sekali beristrahat, yaitu di pos 5 untuk menambah persediaan air.

Pada saat turun gunung juga tak kalah ramai. Manusia mengalir hingga di pos 0. Di tempat registrasi dan pendataan pendaki sudah banyak sekali pendaki yang bersiap pulang. Beruntungnya, hujan deras yang mengguyur jatuh pada saat kami sudah tiba di pos 0.

Di depan kami, masih ada satu tantangan, yakni jalan pulang. Berkelok dan menurun, ditambah licin. Om Erwin jadi korban jalan pulang itu. Motornya tak terkendali dan menabrak pagar rumah penduduk. Bersyukur karena beliau tak mengalamai luka serius.

Fakta-fakta unik selama mendaki Gunung Bulusaraung, 21-22 Juni 2014:

  1. Fitto hampir pulang di pos 2.bul1
  2. Karim bernyanyi sepanjang pendakian, sambil menyebut-nyebut nama perempuan idamannya.bulsar19
  3. Lontong yang dimakan adalah lontong yang menyerupai bubur.bul2
  4. Ada tempat menggantung di pos 5.bulsar14
  5. Om Erwin terbanting beberapa kali.bulsar10
  6. Om Ikko selalu berjalan paling belakang.bulsar17
  7. Pemandangan keren di pos 8.bulsar16
  8. Tempat mengambil air menghabiskan waktu kurang lebih 40 menit pulang pergi.bulsar8
  9. Hanya satu orang di antara kami yang buang air besar.bulsar11
  10. Lututnya Lidya bergetar ketika penurunan.
  11. Om Ikko terpelanting beberapa kali ketika penurunan.

Pendakian gunung memang pertarungan keinginan dengan ancaman-ancaman keselamatan. Tapi sekali kau rasakan kebahagiaan di sana, kau akan tertagih untuk kembali menapak kaki di ketinggian. Alam punya caranya sendiri membuat manusia jatuh cinta. Pendakian 17 Agustus, puncak Gunung Bawakaraeng sedang menanti. Salam Rimba!

 

 

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: