Merasa-i Kehilangan

kehilangan

Beberapa waktu lalu, saya mendengar berita kehilangan yang begitu mencengangkan. Hampir bersamaan, beberapa kerabat saya mengalami derita kehilangan. Kejadian-kejadian serupa itu, secara tidak sadar akan menimbulkan kesedihan yang berantai.

Harta benda yang kita sayangi akan menjadi alasan yang kuat untuk menangis. Kepemilikan yang begitu erat dan melekat sangat sulit menekan rasa kehilangan. Seberapa pun bagusnya sebuah kalimat motivasi dan penguatan yang datang menghibur.

Setelah mempelajari banyak kehilangan, harta, teman, orang terdekat ataukah paling tidak peluang. Maka, sebaiknya kita memang bersiap untuk apapun jenis ancaman kehilangan. Kesiapan itu akan membuat kita lebih menjadi seorang pribadi yang teliti, rapi, dan kuat.

Sebaiknya memang, kita banyak belajar dari kehilangan orang lain bukan dari kehilangan yang kita alama]I sendiri, meskipun sensasi kehilangan itu tidak sama. Setidaknya, mencoba belajar dari pengalaman orang lain akan lebih mengasa kepekaan kita kepada sesama, apatah lagi terhadap kerabat atau teman sendiri.

Kehilangan apapun itu adalah sebuah jendela yang akan membuka mata, bahwa rasa kepemilikanlah yang sebenarnya paling sering membuat kita bersedih hingga menangis. Makanya, dalam sebuah hubungan apapun jenisnya, sangat diutamakan untuk menumbuhkan sense of belonging itu. Sehingga, setiap kehilangan akan dirasakan secara bersama, dan cara memulihkannya pun bisa secara bersama pula.

Agak sufistik memang, ketika kita berani mengatakan bahwa kehilangan adalah makna dari sebuah kepemilikan. Bahkan segala hal yang kita miliki, kadang-kadang baru kita sadari keberadaannya setelah hal itu menghilang.

Dunia ini tempat belajar, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Kita diajak sesering mungkin untuk membaca tanda, membaca ancaman, membaca kegagalan–kegagalan masa lalu, menafsir-nafsir makna kehilangan.

Tulisan ini sebagai ungkapan turut rasa “kehilangan” saya atas kejadian kehilangan beberapa kerabat itu. Pada kuncinya, kembalilah kepada sumber segala kepemilikan, kepada Tuhan yang member apapun yang kta miliki di dunia inia dan jangan pernah jauh-jauh dari-Nya.

Makassar, 18 Mei 2014

Gambar: aboutjewels.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: