Sebelum Ulang Tahunmu

sebelum ulang tahunmu

***

Aku tak pandai membuat kejutan untuk orang lain. Tapi, bagi diriku sendiri, aku sudah menikmati banyak kejutan yang dikaruniakan Tuhan atas kesiapanku. Kalimat di atas hanyalah kode, jikalau nanti di hari ulang tahunmu, kau tak berharap lagi kejutan dariku.

Tentang ulang tahunmu yang tak lama lagi. Mungkin perlu kusinggung sedikit soal waktu yang kita jalani dalam masa kita sebut “hubungan”. Jika tak mengapa, dalam kurun waktu yang telah lalu itu, aku patut berterima kasih padamu. Aku menjadi penikmat waktu yang kurasa kadang bergerak cepat kadang pula merangkak lambat.

Akan semakin bertambah kebahagiaanku, bila kutahu kaupun juga merasakan keindahan dalam kebersamaan itu. Namun di balik semua kesenangan yang kurasakan, dalam momen yang tidak tepat ini, akan kuselip maaf, karena belum terbiasa menuliskan namamu secara terang benderang dalam setiap tulisan yang kubuat.

Kamu atau kau yang kugunakan sepenuhnya adalah dirimu dalam semua kasus dan kegalauan yang aku tulis di blog ini. Aku tak mengapa, jika seandainya ada orang lain yang membaca tulisan berasa cengeng ini. Tidak semua orang akan berani mengakui dirinya telah tertusuk panah asmara di hadapan dunia.

Mungkin saja, kau tak pernah sekalipun mengintip laman ini. Atau pernah, tapi pada saat aku sedang bermain diksi. Kata temanmu, kau tak suka berfikir dua kali perihal sebuah metafora. Kau menyukai kalimat lugas dan mungkin bernada bijaksana. Poin ini, aku belum terbiasa meruntuhkan keegoisanku untuk keperluanmu.

Banyak kerabatku yang pernah berkunjung, membaca beberapa postingan di blog ini. Hampir semuanya, mual dan muak dalam kalimat gombal yang ditafsir oleh mereka sendiri. Aku menangkis, karena tak rela disangka melankolis. Kubela diriku, kutegaskan bahwa seorang penulis kadang tak harus memasuki dirinya untuk menggali imajinasi sebelum menemukan susunan diksi yang baik. Penulis perlu beranjangsana pada hati manusia lain yang sedang patah atau justru sedang mekar.

Apalogi itu berhasil mendongkrak kepercayaan diriku untuk semakin jelas menyusuri relung jiwamu. Aku tak suka dihakimi dan direndahkan karena alasan cinta. Di hampir semua tulisan di blog ini, aku sangat berhati-hati meletakkan kata cinta. Untuk itulah, kupikir aku harus menebus ketidakterusterangan ini kepadamu di suatu momen yang lebih tepat.

Berhentilah menunggu. Laluilah harimu tanpa ragu, aku sudah bersatu dengan banyak ancaman kemungkinan terburuk. Sekali saja kau titip hatimu, selamanya akan terjaga. Waktu yang kusinggung ini semoga adalah drama yang kau nikmati, dan di hari esok, kau akan melakoni hidupmu sebagaimana yang telah kau rencanakan di momen ulang tahunmu.

Aku suka mengaminkan doa-mu yang panjang-panjang itu. Aku berharap, aku bisa terlibat dan mengambil sedikit peran dalam mewujudkannya. Kupikir semua doa-mu memang layak untuk didapatkan oleh orang sepertimu. Sekarang ini, aku masih harus tertunduk untuk mengatakan bahwa dunia perlu berputar beberapa kali lagi sebelum semuanya menjadi halal.

Selamat menyambut ulang tahunmu dengan suka cita. Percayalah bahwa kejutan tak ada pada diriku, tapi Tuhan menjaminnya bila kau telah benar-benar siap mendapatkannya. Bila betul, setiap tulisan ada pembacanya, semoga bukan kamu yang membacanya sampai aku yang membacakannya untukmu.

***

Gambar: id.wallpapersus.com

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: