Pergi – Kronik Borneo #1

kronik borneo

***

Bila umur panjang, sekali lagi kita tak boleh tersia-siakan oleh waktu. Masa muda tak baik digunakan untuk menyesal. Sesekali memang perlu kita kecewa. Kecewa pada harapan yang tak menuai kenyataan. Saya merindukan kegagalan besar sebagai panjar untuk kesuksesan yang besar pula. Jika tak seperti itu, tak usahlah kita menunggu, bahwa hidup kita akan bersua dengan keberhasilan.

Keberanian itu adalah tentang tentang penaklukan. Kenyataan itu adalah tentang harapan-harapan. Mimpi-mimpi adalah tuntutan hidup yang menggerakkan langkah kita.

Seminggu sebelum Maret berakhir, saya telah mencatat kronik baru seorang avonturir. Saya berhasil melihat wajah-wajah bumi bernama Borneo. Dataran asing yang baru kali pertama kudatangi. Sudah jadi kepuasan tersendiri. Berjalan sendiri, adalah lebih baik dibanding mencari parner pejalan yang betul-betul sepaham dalam melihat perbedaan.

Borneo, pada awalnya, di benak saya akan kujadikan tanah tempat melompat fase kehidupan. Menghabiskan beberapa waktu, mencatatkan pengalaman-pengalaman hidup. Kupikir, di Borneo ada kepingan puzzle kehidupan yang Tuhan belum tampakkan selama ini.

Juga, dari jauh sebelum saya benar-benar ada di Tanah Kutai itu. Sudah kuprediksi, di sanalah kerinduan akan menemui ujiannya. Di sanalah keputusan untuk benar-benar menjadi minoritas. Menjadi seorang pejuang yang terasing oleh dunia.

Kepergian adalah lawan terberat dari keraguan. Saya tak begitu tergesa-gesa mencapai kesibukan. Tak begitu banyak uang yang harus saya siapkan. Semuanya, telah terangkum dengan kata “sengaja”. Saya sendiri-lah yang harus mengukur sampai dimana derita dan kerinduan akan mampu saya pikul.

Dari Makassar, tak ada ritual perpisahan. Hanya hujan yang mengaburkan beberapa tetes air mata kerabat yang merasa haru atas sebuah perpisahan. Kapal Pelni, telah bertolak perlahan mengambil jarak dari daratan. Semakin menjauh. Saya sudah pernah merasakan pahitnya buah kehidupan di kapal Pelni.

Mungkin bagi sebagian orang yang punya standar penderitaan yang lebih rendah. Maka tak akan sungkan melontarkan kritik dan keluhan di kondisi kapal yang tak memuaskan. Bagi saya, setelah memastikan bahwa saya telah berada di dalam ruang kapal yang bermatras serupa bangsal, sudah tak ada lagi alasan untuk tidak segera bersyukur.

Deck 4. Deck atau lantai pertengahan. Posisi yang menguntungkan. Tak jauh dari sumber air panas. Kamar mandi yang hanya beberapa langkah. Loket antrian makanan yang tepat di belakang bangsal.

Dalam situasi seperti ini. Informasi tentang pentingnya menjaga barang berharga akan terdengar berulang dari pengeras suara yang ada pada tiap deck. Saya sudah sangat sering mendengar cerita buruk tentang kehidupan kapal penumpang semacam ini.

Saya butuh beberapa jam untuk memastikan bahwa “tetangga” bangsal saya adalah orang yang bisa dipercaya untuk menitip daypack yang tak begitu bernilai. Bila sudah berhadapan dengan kenyataan, kepada Tuhanlah doa-doa dan optimisme itu dikabarkan. Setelahnya, biarlah Tuhan melakukan pekerjaannya, yang kadang kita namai dengan keberuntungan.

Tak cukup 24 jam total lama pelayaran dari Pelabuhan Makassar untuk sampai di Pelabuhan Balikpapan. Segala puji bagi Tuhan, tak ada sedikit pun raga ini berkurang ketika kaki saya telah berhasil menapak di tanah Borneo.

***

Makassar, 4 Mei 2014

Satu Tanggapan to “Pergi – Kronik Borneo #1”

  1. […] ini adalah bagian kedua dari Kronik Borneo yang saya alami selama trip di Kalimantan […]

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: