Diam-Diam

diam-diam-mr.f

***

Rasanya semakin sulit untuk menemukan keberadaan diriku di hamparan kemungkinan-kemungkinan yang begitu luas di hatimu. Aku berjuang sekuat yang kubisa, menaklukan dosa-dosa yang ditawarkan iblis dalam bentuk yang paling indah.

Kondisi ini serupa isyarat yang pernah kau ceritakan, bahwa kita akan mengalami masa yang tidak menyenangkan. Lalu kau menyimpulkannya sendiri. Katamu, itulah ujian kesetiaan pada apa yang kita yakini kebenarannya.

Jarak yang dulu pernah membuat jurang berganti menjadi sikap saling mendiamkan saat perjumpaan sudah di depan mata. Keinginan-keinginan yang muncul begitu sulit diterka. Saat april meradang di penghujungnya, kita masih saja buta pada arah yang akan kita lalui.

Air mata yang mengkristal, penanda ketulusan, meleleh disapu keraguan. Bila memang sudah tak perlu lagi semua suara, biar kubungkam mulut ini, selamanya. Dan izinkan pena menggores lantai-lantai penantian yang kau biarkan usang.

Menurutku, kita tak mesti diam-diam seperti ini. Karena kita diam-diam saling memendam. Aku yang menunggu, sementara kau masih selalu ragu. Alur ini berulang seolah kita bukan pembelajar. Kau menghindar dan merasa menikmati proses yang tidak jelas seperti ini.

Kita berharap semoga betul kalau ini memang hanya persoalan siap atau tidak siap. Sekarang, belum ada keputusan. Mari kita jalani saja ini semua dengan diam-diam.

***

Makassar, 29 April 2014

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: