Archive for May, 2014

Nama-Nama Pemberian – Kronik Borneo #2

Posted in Blogger Kampus, features, Petualangan, Run Away with tags , , , , , , , on May 21, 2014 by mr.f

nama-nama pemberian

Saya membiarkan perasaan khawatir berkembang. Perlahan, fikiran-fikiran negatif menyilang dengan antisipasi yang harus segera saya siapkan. Kepada siapa, saya akan berteduh bila hujan tak redah dan orang yang tidak kukenal itu tak juga datang menjemput.

Sms terkirim beberapa kali, belum terbalas. Kuulang panggilan, tidak terjawab. Kenapa juga saya harus menitipkan harap yang penuh pada orang yang belum pernah kujumpai sekalipun. Namanya Cepot, saya tidak terbiasa mengucap nama itu, jadi agak sungkan saat kali pertama kami bercakap via telefon. Terdengar kurang sopan, bagi saya. Firasat saya mengatakan, nama itu mungkin hanyalah nama yang digelari oleh orang-orang akrab dan tertentu saja. Tidak cocok untuk orang yang baru berkenalan seperti saya ini.

Kemarin sore, saat masih di kapal laut, si Cepot masih sempat mengabari dan memberi isyarat, kalau dia akan datang sepagi mungkin di pelabuhan untuk menjemput saya. Cepot, adalah junior yang direkomendasikan oleh kawan baik saya di Kalimantan, Bang Andi. Awalnya, pada Bang Andi-lah kuharap yang akan menampung saya sementara dalam trip Borneo yang akan saya lakukan.

Sayangnya, baru saya ketahui, kalau Bang Andi sedang tidak di Balikpapan. Beberapa pekan yang lalu dia mengikuti Ekspedisi NKRI di Maluku dan akan di sana kurang lebih empat bulan lamanya. Bang Andi, adalah kawan yang baik dan paham untuk persoalan tumpang-menumpang. Dua tahun lalu, dia pernah ke Makassar dalam rangkaian tripnya ke Nusa Tenggara. Sempat menumpang di tempat saya beberapa hari sebelum lanjut jalan.

Saya paham, Bang Andi di kampusnya bukanlah sembarang senior, pernah jadi ketua himpunan, pernah jadi ketua Mapala. Nama kampusnya STT Migas Balikpapan. Sekolah perminyakan. Atas itulah, saat kusebut nama Bang Andi ketika bertelefon dengan Cepot, Si Cepot segera taksim dan menyimpan hormat kepada saya.

Kapal laut, telat berlabuh sekitar dua jam dari jadwal yang terterah di website Pelni. Hampir jam sembilan pagi, saya berhasil menginjak tanah Borneo untuk kali pertama. Di saat itulah, saya mulai merasa tak bisa terhubung dengan Si Cepot. Tak betah berlama-lama di depan pelabuhan, setelah menyeruput segelas kopi di warung kaki lima, saya lalu angkat kaki mencari masjid terdekat. Mungkin tak sampai dua ratus meter, segera kusandarkan diri di tiang masjid. Dhuha beberapa rakaat, tadarrus beberapa lembar, lalu pasrah menunggu respon dari Cepot.

Hujan deras sekali, petir menyambar trafo yang tergantung di tiang listrik. Seketika listrik padam untuk beberapa rumah termasuk di dalam masjid. Tak berselang lama, Cepot membalas SMS saya bersama permohonan maafnya karena baru saja terbangun.

Fikirku, sekretariat Mapala ini tak cukup jauh dari pelabuhan, sesuai gambaran yang diberikan oleh bang Andi. Rupanya, sejak Cepot mengabari telah dalam perjalanan ke Pelabuhan, tak kurang dari setengah jam barulah kulihat pertama kali wajah si Cepot ini. Artinya, paling tidak ada 20 km jarak sekretariat mereka ini dari Pelabuhan. Hujan ternyata tak merata menyiram bumi di kota Balikpapan. Derasnya hanya di sekiataran Pelabuhan saja, sementara di daerah lain hujan masih sebatas ancaman. Setidaknya itulah yang dikabarkan Cepot saat kuminta untuk berteduh saja bila hujan, karena saya tidak sedang terburu-buru untuk sampai di suatu tempat.

Benar saja, kata Cepot, dia baru tersentuh hujan di sekitar seratusan meter dari masjid. Itulah mengapa dia tidak memakai jas hujan saat datang menjemput saya. Dari perangainya Cepot, saya menebak dia adalah orang yang baik dan patuh. Kami berkenalan. Lalu meninggalkan masjid ketika hujan mulai redah.

Sengaja rupanya Cepot melambatkan laju kendaraan, dia ingin sedikit berbagi tentang Kota Balikpapan yang sedang kami lintasi. Mengenalkan nama-nama tempat yang agak susah tersimpan di memori jangka panjang saya. Seketika itu, saya telah lupa hampir semua tempat yang dia sebutkan namanya. Mulai dari nama pantai, nama lapangan, nama masjid, nama Mall, nama persimpangan, apalagi nama jalan. Saya sedang fokus memikirkan diri saya menghadapi keterasingan.

Tebakan saya tak jauh meleset, memang lebih dari 20 km jarak dari tempat si Cepot dengan Pelabuhan Balikpapan. Selain itu saya keliru, sangkaanku tempat si Cepot adalah sekretariat Mapala. Ternyata hanyalah serupa base camp (bagi mahasiswa Makassar, base camp biasanya adalah sebutan untuk rumah kontrakan yang dihuni oleh orang-orang satu organisasi, tapi bukan sebagai kantor dan alamat adminitrasi persuratan).

Sekretariat Mapala mereka baru akan diusahakan untuk diadakan lagi, karena baru saja mereka menempati kampus baru yang dulunya hanyalah berupa gedung yang disewa oleh pihak yayasan. Pengakuan mereka, mereka belum genap satu minggu menempati base camp yang saya datangi ini.

***

Saya jadi tamu di rumah yang diisi oleh lima penghuni tetap. Semuanya anak Mapala STT Migas, tapi dari beberapa jurusan berbeda.

Untuk semua hal yang mereka tawarkan, yang paling tak bisa kulupa adalah nama-nama mereka semua. Kini tersingkap misteri dari sungkan dan sangkaan saya terhadap nama Cepot. Dari nama-nama mereka, satu persatu kuingat jelas sambil imajinasiku terbang mensinkronkan dengan informasi yang baru saja kuterima.

Nama pertama, Cepot, adalah popular pada salah tokoh wayang kulit yang giginya nongol hanya dua biji. Karakter lainnya tidak saya dalami, hanya coba menyanding-nyandingkan nama itu dengan rupa dan perangai Cepot di sini. Belakangan saya menambahkan kata Mas di depan nama Cepot tiap kali saya menyebut namanya.

Nama kedua, Obor, makna harpiahnya adalah alat penerang dari biasa terbuat dari bambu yang menggunakan sumbuh kain dan bahan bakar. Yang saya pahami selama di sini, Obor adalah anak yang lincah, ramah, rajin, dan bisa mengambil inisiatif. Obor berasal dari Pinrang, Sulawesi Selatan. Tidak banyak mengeluh, dan mengaku sayang sama orang tuanya.

Nama ketiga, Cicak. Nama binatang yang bisa merekat di dinding. Nama untuk anak yang berasal dari Tarakan, Kalimantan Utara, seletting dengan Obor, masih semester dua. Pengakuan rekan serumahnya, Cicak adalah anak yang tenang tapi sangat bisa diandalkan. Mungkin terinspirasi dari cara kerja Cicak yang diam tapi sanggup meng-hap mangsanya dengan pasti.

Nama keempat, Lipan. Nama untuk seorang mahasiswa yang berasal dari Banjarmasin, tanah kelahirannya adalah Enrekang, Sulawesi Selatan. Mapala sejati, baju hitam, celana bolong, rambut gondrong acak-acak, motor vespa, peminum kopi, perokok aktif, tangan penuh gelang, begitupula di kaki. Di tambah lagi, paling sering memainkan dan menikmati music reggae. Semua lagu yang dibawakan dengan gitar diaransemen menjadi reggae. Anak inilah yang paling banyak berkomunikasi dengan saya selama tiga hari di sini.

Nama penghuni terakhir, Kebo. Paling senior di rumah ini, semester delapan. Bawaannya tenang, gayanya sedikit lebih rapi dibanding penghuni lainnya. Sering menyinggung tugas akhir, tapi masih punya beberapa mata kuliah yang harus dituntaskan sebelum mengerjakan tugas akhir. Kuat bernyanyi sambil memainkan gitar dengan baik nonstop empat jam, paling serasi dengan lagu Iwan Fals. Makna filosofis namanya, mungkin memang sepadan dengan karakternya.

Pada sebuah malam, coab kutelisik lewat perbincangan santai dengan Obor dan Lipan, tentang nama-nama mereka. Mereka mengaku, nama itu adalah nama pemberian senior saat mereka dikukuhkan sebagai Mapala STT Migas, yang baru kutau bahwa nama Mapala mereka adalah Mapala CADAS STT Migas Balikpapan.

Mereka sebagai anak yang dilahirkan dan dibesarkan oleh Mapala Cadas, tak punya hak untuk menolak nama pemberian itu. Dalam suasana pengukuhan, hanya ada satu kata, patuh! Hebatnya mereka seolah lupa dengan nama asli yang sudah dibawanya belasan tahun. Dan mereka bersuka cita dengan nama itu. Tentunya, di absen kelas nama itu tak bisa terganti. Selain absen itu, semua nama mereka lekat dengan nama-nama pemberian senior itu. Cepot, Lipan, Cicak, Obor, dan Kebo. Tak ada yang risih dengan nama mereka sendiri.

Sebagai catatan akhir, meskipun tidak general, dari kehidupan Mapala ini sudah terjawab kenapa Mas Cepot telat menjemput saya. Mereka kuat terjaga hingga subuh datang, bernyanyi, berbagi kisah, atau menonton di layar laptop bersama-sama. Sayangnya, sisi spiritual dari kehidupan belum bisa secara konsisten mereka terapkan.

Saya harus berterima kasih pada setiap pelajaran yang mereka ceritakan. Kehidupan adalah sekolah terbaik untuk mendidik jiwa kita menuju insan kamil. Dari mereka saya mengenal, kerendahan hati, solidaritas, dan cinta alam.

*Cerita ini adalah bagian kedua dari Kronik Borneo yang saya alami selama trip di Kalimantan Timur.

gambar: www.tubasmedia.com

Advertisements

Menghidupkan Ide-Ide

Posted in Blogger Kampus, Opini with tags , , , , , on May 21, 2014 by mr.f

marufmnoor

Aku merasa sangat beruntung berjalan di keadaan semacam ini. Keadaan yang walau hanya ditumbuhi ide dan rencana besar. Keadaan inilah yang mungkin saja disebut sebagai masa transisi. Dari kondisi idealis ke keadaan sosialis realistis.

Diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menerapkan secara berkala banyak asumsi yang dulu begitu kuat dipegang erat, berupa nilai-nilai yang terintegrasi pada sebuah prinsip ideal seorang manusia. Masa yang menuntun pada pencarian ketenangan yang sesungguhnya. Saat kau sendiri seperti ini, kau akan menginginkan hal yang lebih kau butuhkan dari sekedar materi.

Walau agak rumit mencerna, makna bahwa ide tak lebih penting dari sebuah tindakan nyata. Tapi eksistensi ide adalah mutlak yang membuat kita berani maju melangkah menghadapi realitas. Janganlah sekalipun frustrasi dengan ide besar yang menghuni kepalamu. Bila waktu tak mampu menghibur nasibmu yang belum mujur, biarkan jiwamu menjadi sarang beternak ide-ide besar itu.

Kegagalan dalam tindakan adalah cerminan bahwa dunia inilah yang sedang memantaskan dirinya untuk ide yang telah coba kita nyatakan.Orbit ide-ide yang bermukim di kepala adalah realitas yang ditindaki dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Jangan bilang “percuma” pada ide, karena ide dan waktu kadang berjalan tak seiring.

Idemu, mungkin sekarang tak sejalan dengan waktu yang ada, tak sepihak dengan kemampuanmu. Tak seorbit dengan kenyataan yang ada. Ide itu sepaket dengan takdir yang digenggam Tuhan. Ide itu adalah kebebasan yang dikaruniakan Tuhan pada jiwa manusia. Ide yang besar adalah sebuah isyarat untuk mahluk yang besar.

Penghargaan Tuhan atas ide adalah dibukanya gerbang kemauan untuk melakukan tindakan memulai. Karena sebaik-baiknya ide adalah ide yang diawali dan dikawal oleh komitmen dan konsistensi. Setiap kita mesti beruntung bila ternyata masih hidup dengan ide-ide yang besar.

Makassar, 21 Mei 2014