Jas Merah Daeng Blogger

blogger kampus

Kita semua  mudah sekali dihadang lupa, apalagi kalau kita enggan membaca. Selalunya, yang telah lalu disangka tak perlu diingat. Padahal Soekarno, pendiri bangsa ini, sudah mewanti-wanti kita dengan istilahnya Jas Merah -jangan sekali-sekali melupakan sejarah-.

Jalan terbaik melawan lupa adalah lewat membaca dan menulis. Setidaknya ini pengalaman saya sendiri. Setiap waktu berlalu, memori kita disisipi informasi yang baru. Jika tidak menulis atau membaca (lagi) maka yang bisa kita ingat hanyalah informasi terbaru saja.

Ikhwal tulisan ini pun tak perlu jauh digali, yakni 11 januari lalu ketika Komunitas Daeng Blogger bertransformasi dan berganti nama menjadi Komunitas Blogger Kampus yang dihadiri oleh 50-an blogger dari berbagai warna almamater.

Komunitas sebelumnya “Daeng Blogger” adalah sebuah komunitas literasi skala kecil, semua membernya saling kenal, dan sering bertemu bukan ketika kopdar. Komunitas ini hanya selingkup kampus UNM, lalu mengembrio sebuah projek buku antologi puisi “Risalah Rindu” para penulisnya merayakan karya pertama itu dengan suka cita lengkap dengan sensasi “punya buku”.

Beberapa bulan setelah launching buku itu, digalakkan lagi projek buku kumpulan cerita, diberi judul “Coretan” -Sehimpunan Cerita Mini-. Naskah terkumpul, namun baru bulan ini akan naik cetak. Semoga.

Keseluruhan biaya penerbitan ditangani dengan gotong-royong. Sejauh ini, gotong-royong sangat memudahkan. Untuk buku “Risalah Rindu” dulu, setiap penulis secara bebas menyetor “uang cetak”. Ada yang cuma 75 ribu dan paling banyak 120 ribu per penulis. Hasilnya kami berhasil menerbitkan 100 eksemplar untuk dibagi secara proporsional.

Tidak sulit untuk berkarya, jika kita berkomunitas dan bergotong royong. Kami juga awalnya menyangka, akan kesulitan menerbitkan buku. Nyatanya, di luar sana, ada banyak sekali penerbitan murah. Rampungkan naskahnya, selesaikan layoutnya, percantik covernya, lalu serahkan ke penerbit. Penerbit di sanalah yang akan mengurus ISBN.

Mestinya, sekarang insan cita tidak perlu mengkhawatirkan soal penerbitan buku. Sudah bukan rahasia lagi, untuk mencetak buku setebal 200 halaman itu hanya butuh budget sekitar dua jutaan untuk mendapatkan 100 eksemplar buku. Murah kan? Apatah lagi kalau buku-nya dikeroyoki. Pasti lebih enteng lagi.

Nah, kembali lagi ke pembicaraan tentang komunitas Blogger Kampus yang sekarang jumlah membernya 485 facebookers-bloggers (pertanggal 4 april 2014). Ketika saya memberikan sedikit pengantar, sesaat sebelum nama Komunitas Blogger Kampus disepakati karena akan membuka diri untuk seluruh blogger-kampus yang ada di Makassar.

Ada beberapa point penting yang mungkin banyak diantara peserta pada waktu sudah tidak mendengarka dengan baik apa yang saya bacakan;

Kota Makassar kita sudah terlalu lama tercemar limbah kata “anarkis” yang melekat secara tak pandang bulu pada mahasiswa-orang asal Makassar.

Padahal kita semua mafhum, limbah itu adalah setitik nila yang merusak nilai, mengotori nuansa akademik, menghancurkan aroma kota yang berbudaya ini.

Nila itu rupanya tidak hanya merusak susu sebelanga, tapi membekas luka yang mendalam yang amat sulit disembuhkan. Betul kata pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati.

Mainstream media mengenaralkan perilaku oknum itu. Membangun persepsi yang kuat lewat tayangan, lewat data, lewat fakta dari satu sisi saja.

Menghitamkan yang putih, mengaburkan warna-warna lain yang ada, menutup pintu-pintu kebaikan untuk warga Makassar.Maka tak banyak cara yang bisa kita tempuh, selain memberi bukti baru. Ini pekerjaan cukup rumit, tapi bila terus dikerja itu akan memberi hasil.

Acungkan tangan sebagai warga Makassar, perdengarkan kalau suara itu tidak hanya keluar lewat “toa” pengeras suara yang biasa terdengar di jalanan. Pertontonkan, bahwa di Makassar, asap-asap literasi juga mengepul lewat karya-karya anak mudanya, tidak hanya lewat kepulan asap yang biasa keluar dari hasil pembakaran ban bekas.

Maka, secara teknis jalan yang bisa kita tempuh dalam ranah literasinya adalah, memulihkan nama baik Makassar sedikit demi sedikit, lewat postingan blog yang tiada henti mencatut aktivitas literasinya. Saya pribadi setelah Temu Blogger itu, terus menyematkan label-tag “budaya literasi Makassar, dan Blogger Kampus”.

Cara ini, kita sama-sama rasakan, bagaimana tingkat ketergantungan manusia jaman sekarang terhadap google sebagi tempat bertanya. Saya memang bukan pakar SEO yang bisa menjadikan sebuah kata kunci menjadi kata yang akan selalu muncul di halaman pertama pencarian google. Tapi, saya yakin, bila label-tag itu digunakansecara massif dan konsisten, maka tentu kita boleh berharap sesuatu dari usaha ini.

Selanjutnya, kusinggung juga saat Temu Blogger itu, bahwa kita perlu mengajak sebanyak-banyaknya orang, siapapun teman kita yang punya blog dan memiliki ketertarikan pada dunia literasi untuk bergabung di grup facebook Blogger Kampus.

Secara pribadi, kusebut angka 1000 member hingga tutup tahun 2014 ini, kuanggap semakin banyak orang yang menyaksikan dan bergabung dengan grup ini, maka diseminasi gerakan perubahan ini akan lebih banyak mudah.

Selain itu, peluncuran website resmi BloggerKampus.org juga perlu disegerakan, begitupun dengan kopdar-kopdar rutinnya.

Tentunya, point ini telah banyak ditambahkan karena telah melewati perenungan, tidak sepersis saat Temu Blogger waktu itu.

 

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: