Archive for April, 2014

Merampungkan Surat

Posted in Blogger Kampus, Petualangan, Run Away, Sajak with tags , , , , , , on April 15, 2014 by mr.f

merampungkan surat

***

Aku berulang kali menulis surat. Mengawalinya dengan kata “dear”. Selalu gagal, karena aku diserang gugup dan menjadi bisu. Aku mencoba, menuliskannya tanpa namamu di awal suratku. Tapi menjadi mustahil tanpa membayangkanmu, sementara aku sedang ingin berbicara denganmu lewat diriku sendiri.

Jangan-jangan kamu telah menjadi “aku”yang aku pikirkan. Salahku, karena aku tak pernah terbuka tentang kamu kepada dirimu. Aku tertutup untuk memberitahumu seperti apa kamu di bilik hatiku. Aku merahasiakannya, karena aku melihat kamu mampu tersenyum tanpa “penjelasan” itu. Bagiku, saat kau tersenyum, sudah tak penting lagi perihal lain yang kusimpan rapat-rapat bersama diam.

Aku tak berani mengatakan aku bertepuk sebelah tangan tentang kamu. Hanya, selalu kuanggap aku juga ada di antara faktor-faktor kebahagianmu. Aku cukup percaya diri soal itu. Aku dan kamu dalam satu gelombang senyum, itu seolah jadi isyarat.

Di masa-masa yang kau sebut menunggu ini. Aku juga mengumpulkan faktor-faktor kebahagian lain yang masih tercecer di barisan waktu. Sejatinya aku tak perlu kecewa, bila benar aku adalah sebelah tangan yang tak kau tepuk. Akan kuletakkan di dada, dan merasa bahagia bila juga akhirnya kau bahagia.

Waktu tak perlu jadi jurang yang memisahkan, karena kita sekarang melintasinya. Lain waktu ketika kamu tak perlu lagi menunggu,bukan surat yang aku rampungkan. Melainkan sebuah buku kecil yang namamu dan namaku menjadi sah untuk hidup bersama, selamanya.

***

Sangatta, 15 April 2014

Gambar : lovegreeny.wordpress.com

Ujian Kesunyian

Posted in Blogger Kampus, Petualangan, Run Away, Sajak with tags , , , , , on April 15, 2014 by mr.f

ujian kesunyian

***

Pada sebuah malam yang kusebut sepi. Tidurku tak datang walau bulan telah tertelan waktu. Hati sibuk mencapai tempat tertingginya, kebahagiaan. Harapan terbang melampaui bintang-bintang. Ini sudah sepertiga malam. Tanganku tak kutengadahkan tapi batinku menunduk kuasa Tuhan.

Hidup tak sepenuhnya adalah jalan menuju tujuan. Hidup mungkin saja menjadi pintas dan tak tertebak. Hidup bisa saja hening pada separuh usianya. Hidup bisa jadi hanyalah siklus waktu yang diisi oleh sebuah nyawa.

Ada banyak waktu yang kita lewatkan bersama tidur. Artinya, ada banyak ide pula yang kita tidurkan. Ide adalah sebagian keberadaan kita atas hidup. Dan tidur adalah sepertiga waktu dari umur kita. Lalu dimana sepertiga malam yang Tuhan janjikan waktu terbaik untuk mendekap.

Kurasa, Tuhan menguji kita di kesunyian, bukan di keberadaan. Saat kita merasa sunyi, sepantasnyalah kita merapat ke wajah Tuhan. Merapalkan doa-doa. Karena Tuhan tak pernah tidur sekalipun di kesunyian.

***

Sangatta, 15 April 2014

Gambar : www.ceritamu.com

Jas Merah Daeng Blogger

Posted in Blogger Kampus, Komunitas Daeng Blogger with tags , , , , , on April 3, 2014 by mr.f

blogger kampus

Kita semua  mudah sekali dihadang lupa, apalagi kalau kita enggan membaca. Selalunya, yang telah lalu disangka tak perlu diingat. Padahal Soekarno, pendiri bangsa ini, sudah mewanti-wanti kita dengan istilahnya Jas Merah -jangan sekali-sekali melupakan sejarah-.

Jalan terbaik melawan lupa adalah lewat membaca dan menulis. Setidaknya ini pengalaman saya sendiri. Setiap waktu berlalu, memori kita disisipi informasi yang baru. Jika tidak menulis atau membaca (lagi) maka yang bisa kita ingat hanyalah informasi terbaru saja.

Ikhwal tulisan ini pun tak perlu jauh digali, yakni 11 januari lalu ketika Komunitas Daeng Blogger bertransformasi dan berganti nama menjadi Komunitas Blogger Kampus yang dihadiri oleh 50-an blogger dari berbagai warna almamater.

Komunitas sebelumnya “Daeng Blogger” adalah sebuah komunitas literasi skala kecil, semua membernya saling kenal, dan sering bertemu bukan ketika kopdar. Komunitas ini hanya selingkup kampus UNM, lalu mengembrio sebuah projek buku antologi puisi “Risalah Rindu” para penulisnya merayakan karya pertama itu dengan suka cita lengkap dengan sensasi “punya buku”.

Beberapa bulan setelah launching buku itu, digalakkan lagi projek buku kumpulan cerita, diberi judul “Coretan” -Sehimpunan Cerita Mini-. Naskah terkumpul, namun baru bulan ini akan naik cetak. Semoga.

Keseluruhan biaya penerbitan ditangani dengan gotong-royong. Sejauh ini, gotong-royong sangat memudahkan. Untuk buku “Risalah Rindu” dulu, setiap penulis secara bebas menyetor “uang cetak”. Ada yang cuma 75 ribu dan paling banyak 120 ribu per penulis. Hasilnya kami berhasil menerbitkan 100 eksemplar untuk dibagi secara proporsional.

Tidak sulit untuk berkarya, jika kita berkomunitas dan bergotong royong. Kami juga awalnya menyangka, akan kesulitan menerbitkan buku. Nyatanya, di luar sana, ada banyak sekali penerbitan murah. Rampungkan naskahnya, selesaikan layoutnya, percantik covernya, lalu serahkan ke penerbit. Penerbit di sanalah yang akan mengurus ISBN.

Mestinya, sekarang insan cita tidak perlu mengkhawatirkan soal penerbitan buku. Sudah bukan rahasia lagi, untuk mencetak buku setebal 200 halaman itu hanya butuh budget sekitar dua jutaan untuk mendapatkan 100 eksemplar buku. Murah kan? Apatah lagi kalau buku-nya dikeroyoki. Pasti lebih enteng lagi.

Nah, kembali lagi ke pembicaraan tentang komunitas Blogger Kampus yang sekarang jumlah membernya 485 facebookers-bloggers (pertanggal 4 april 2014). Ketika saya memberikan sedikit pengantar, sesaat sebelum nama Komunitas Blogger Kampus disepakati karena akan membuka diri untuk seluruh blogger-kampus yang ada di Makassar.

Ada beberapa point penting yang mungkin banyak diantara peserta pada waktu sudah tidak mendengarka dengan baik apa yang saya bacakan;

Kota Makassar kita sudah terlalu lama tercemar limbah kata “anarkis” yang melekat secara tak pandang bulu pada mahasiswa-orang asal Makassar.

Padahal kita semua mafhum, limbah itu adalah setitik nila yang merusak nilai, mengotori nuansa akademik, menghancurkan aroma kota yang berbudaya ini.

Nila itu rupanya tidak hanya merusak susu sebelanga, tapi membekas luka yang mendalam yang amat sulit disembuhkan. Betul kata pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati.

Mainstream media mengenaralkan perilaku oknum itu. Membangun persepsi yang kuat lewat tayangan, lewat data, lewat fakta dari satu sisi saja.

Menghitamkan yang putih, mengaburkan warna-warna lain yang ada, menutup pintu-pintu kebaikan untuk warga Makassar.Maka tak banyak cara yang bisa kita tempuh, selain memberi bukti baru. Ini pekerjaan cukup rumit, tapi bila terus dikerja itu akan memberi hasil.

Acungkan tangan sebagai warga Makassar, perdengarkan kalau suara itu tidak hanya keluar lewat “toa” pengeras suara yang biasa terdengar di jalanan. Pertontonkan, bahwa di Makassar, asap-asap literasi juga mengepul lewat karya-karya anak mudanya, tidak hanya lewat kepulan asap yang biasa keluar dari hasil pembakaran ban bekas.

Maka, secara teknis jalan yang bisa kita tempuh dalam ranah literasinya adalah, memulihkan nama baik Makassar sedikit demi sedikit, lewat postingan blog yang tiada henti mencatut aktivitas literasinya. Saya pribadi setelah Temu Blogger itu, terus menyematkan label-tag “budaya literasi Makassar, dan Blogger Kampus”.

Cara ini, kita sama-sama rasakan, bagaimana tingkat ketergantungan manusia jaman sekarang terhadap google sebagi tempat bertanya. Saya memang bukan pakar SEO yang bisa menjadikan sebuah kata kunci menjadi kata yang akan selalu muncul di halaman pertama pencarian google. Tapi, saya yakin, bila label-tag itu digunakansecara massif dan konsisten, maka tentu kita boleh berharap sesuatu dari usaha ini.

Selanjutnya, kusinggung juga saat Temu Blogger itu, bahwa kita perlu mengajak sebanyak-banyaknya orang, siapapun teman kita yang punya blog dan memiliki ketertarikan pada dunia literasi untuk bergabung di grup facebook Blogger Kampus.

Secara pribadi, kusebut angka 1000 member hingga tutup tahun 2014 ini, kuanggap semakin banyak orang yang menyaksikan dan bergabung dengan grup ini, maka diseminasi gerakan perubahan ini akan lebih banyak mudah.

Selain itu, peluncuran website resmi BloggerKampus.org juga perlu disegerakan, begitupun dengan kopdar-kopdar rutinnya.

Tentunya, point ini telah banyak ditambahkan karena telah melewati perenungan, tidak sepersis saat Temu Blogger waktu itu.