Catatan untuk Bapak

pengakuan

***

Kuanggap tulisan ini akan mampu menebus kelupaanku beberapa tahun untuk menyampaikan beberapa patah kata. Mungkin sederet permohonan maaf. Tapi yang lebih utama adalah ingin kukirim segunung ucapan terima kasih. Untuk Bapak yang kupercaya kini bersemayam di alam penantian datangnya hari timbangan yang benar-benar adil.

Saya tak menganggap ini tulisan ini berupa surat. Kurang lebih hanya serupa keinginan yang berupaya saya tuliskan. Keinginan menulis itu, sejak dulu mendidih. Lalu menguap begitu saja oleh ingatan. Kali ini karena bertepatan dengan bulan ditariknya kehidupan fana Bapak, maka saya mengingatnya. Setidaknya setiap tahun saya selalu menyempatkan diri barang beberapa menit untuk mengingat-ingat kematian. Terlebih kematianmu, Bapak.

Sudah tiga belas tahun berlalu. Tuhan masih mencurahkan rahmatnya perlahan demi perlahan. Seolah ingin memperlihatkan kepada kami, keluarga yang Bapak tinggalkan di kehidupan bahwa kesabaranlah yang memisahkan doa dengan kenyataan. Bisa jadi jaraknya setipis silet, datang begitu cepat tak lama setelah doa dirapalkan. Ataukah datang setelah hampir semua keringat terkuras memperjuangkan doa-doa itu. Ya, kami belajar banyak tentang perjuangan dan kesabaran.

Di tiga belas tahun itu ada banyak sekali yang terjadi. Kini tak banyak lagi orang yang membicarakanmu Bapak. Kecuali istri dan anak-anakmu yang rajin mengunjungi pusaramu. Sebuah pertanda, masih adanya keterkaitan kejadian sekarang dengan kenang-kenangan yang Bapak bekaskan.

Dalam pada ini, kondisi keluarga tidak mengurangi makna dari kata baik. Atau boleh kusebut cukup. Anak-anakmu, tumbuh dalam karakternya masing-masing. Tak ada yang benar-benar tahu apakah itu karakter anak yang kau idamkan. Ibu dan anak-anak yang lebih tua sudah berbuat menangani banyak urusan keluarga.

Lima anak tertuamu juga sudah menyandang gelar sarjana. Ibu selalu bilang, pendidikan anaknya adalah yang utama. Katanya, itulah wasiat yang paling penting dari Bapak. Semua dipertaruhkan. Saya banyak melihat keringat ibu tertumpah ke bumi karena wasiat itu.

Di tulisan yang tertunda-tunda ini, saya juga ingin mengungkap sebuah pengakuan. Tahun ini saya gagal mengunjungi pusara Bapak. Di atas niat yang telah beberapa waktu kubangun. Ingin sekali melihat tempat di mana manusia dikembalikan pada penciptanya. Area menyatunya tanah dan jasad manusia. Di pemakaman Bapak, ingin sekali saya merenungkan makna hidup.

Sama sekali tidak bermaksud menangisi kematianmu tiga belas tahun yang lalu itu. Sama sekali tidak untuk berandai-andai. Kusimpan air mata  yang pada saatnya nanti akan kuhamburkan bersama rasa haru dan bahagia. Bukan karena duka. Kali ini, saya memohon maaf atas keinginan yang Tuhan terlanjur mengetahuinya.

Melalui tulisan ini pula ingin kukabarkan, bahwa anakmu yang ke-empat ini telah berani menentukan sikap. Takut tak mendapatkan apa-apa dari sebuah mimpi yang telah lama bersarang di tubuh. Saya memutuskan untuk melangkah. Berniat untuk menyelami kesendirian. Menjadi minoritas. Sebuah keberanian untuk mengelana.

***

Makassar, 18 Maret 2014

Gambar : http://www.facebook.com/marufmnoor

2 Tanggapan to “Catatan untuk Bapak”

  1. untuk jadi dewasa, kita harus merantau.
    good luck!

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: