Maret (Tentang Harapan)

Maret, setahun lalu berhasil mematahkan rutinitas menulis saya. Setelah itu saya berjanji untuk menjadikannya pelajaran berharga. Serasa melakukan tobat seorang pendosa. Saya tak akan mengulanginya lagi.

Menulis di blog ini, adalah sebuah pelampiasan pada siapa sebuah kejujuran harus diceritakan. Tak mengapa bila ada yang membaca dan tak memahaminya. Memang tulisan-tulisan ini kebanyakan hanyalah aforisme yang sangat personal.

Di banyak catatan akhir tahun 2013 lalu, saya mempertontonkan banyak keinginan-keinginan. Menceritakan pertarungan harapan dan cita-cita yang saya alami. Pengalaman batin yang tidak banyak diceritakan lewat mulut.

Serupa penjudi, ada resiko dan keberuntungan yang harus dihadapi setelah melempar taruhan. Saya hanya terus belajar memaknai peristiwa demi peristiwa yang memenuhi ruang-ruang kenyataan. Dengan cita rasa saya sendiri. Sedangkan waktu dan harapan bergesekan menuntut kesabaran.

Saya belajar mengurangi keluh kesah atas kondisi. Mencari cara untuk tetap optimis. Memanipulasi realitas dan bermain-main dengan ekspresi. Namun tetap menghindari bohong pada diri sendiri.

Sekarang Maret menjemput saya saat malam sedang begitu panjangnya. Bulan menampilkan senyum tipis yang begitu manis. Mentari seperti bocah yang dilanda malu. Dan bumi entah berpihak pada jiwa yang mana.

Pikiran saya hanya mengembara jauh. Rapuh dan ragu. Berharap tapi tetap menatap kenyataan. Namun, saya masih menyimpan rasa percaya bahwa setiap doa pastilah punya jawaban. Keraguanlah yang membuat kita menentukan pilihan. Selanjutnya saat kaki telah melangkah, pada keyakinanlah semua dilepaskan.

Harapan tak boleh terkubur begitu saja karena menerima ancaman. Dunia ini terlalu luas untuk menampung semua harapan kita sebagai manusia. Setiap harapan itu punya pilihan. Sedangkan hidup kita tak pernah benar-benar sepi oleh pilihan. Sebuah kelebihan. Sebuah keberuntungan atas adanya pilihan itu.

Terlalu lemah manusia yang sekalipun dalam imajinasinya tak mampu menikmati cita-citanya. Batasan itu sesungguhnya tak pernah sejati di pikiran manusia. Selama masih ada nyala harapan, berarti di sana masih ada kemungkinan. Adalah dosa saat manusia mematikan api harapan dalam jiwanya.

 Sarang Pendekar Semester Dua Digit
04 Maret 2014

Gambar : www.flickriver.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: