Archive for March, 2014

Terlalu Terang

Posted in Blogger Kampus with tags , , , , , , on March 29, 2014 by mr.f

terlalu terang

Blinded by the light of what we already

Seseorang bisa menjadi buta oleh cahaya yang terlalu terang. Suatu ketika dalam hidup ini, kita akan mengalami masa bersenang-senang, tenang, serba ada, hidup dalam era kejayaan.

Dengan kekayaan dan kesuksesan, kita bisa memiliki apa saja yang kita inginkan, dan sebagian besar apa yang kita kerjakan bahkan mendapat puji-pujian dari semua orang. Cahaya yang kita lihat akan nampak begitu terang.

Cahaya dan keberhasilan akan membentuk sebuah peta kognitif (a mental map) sehingga membuat jalan yang kita lihat seakan adalah segala-galanya. Di atas peta itu, manusia akan berjalan dan mendapatkan arah.

Sejarah kesuksesan dan keberhasilan adalah sebuah peta kognitif yang bisa membutakan sebuah keberhasilan baru di depan mata., apalagi bila cahaya itu bersinar terlalu terang.

Manusia tidak akan berusaha memasuki jalan lain yang tidka ada penerangnya selagi masih ada lampu yang lebih terang di tempat lain. Manusia menikmati zona nyamannya.

Orang-orang yang pernah mendapatkan cahaya yang terlalu terang akan punya kecenderungan untuk menyangkal munculnya peta-peta baru. Di sekitar kita, contoh ini sudah terlalu banyak.

Orang-orang yang disinari cahaya terlalu terang akan terbutakan oleh cahaya itu sendiri.

*Disari dari buku Prof. Rhenald Kasali “Change!

Sangata, 29 Maret 2014

Gambar : kfk.kompas.com

Advertisements

Puisi Perpisahan

Posted in Blogger Kampus, Sajak with tags , , , , , , on March 19, 2014 by mr.f

Art_Decoration196_151112221115_ll.jpg

~oOo~

Bukan sekali saya diminta merangkai bait-bait perpisahan. Semuanya tak pernah kuindahkan. Sekalipun tak pernah. Jika bukan dari nasibku sendiri. Perpisahan orang lain teramat sulit kubayangkan.

Rasa-rasanya tulisan pendek-pendek hasil lompatan berpikir itu akan sulit dipahami jiwa lain. Terlalu personal. Pemaknaannya tak lain adalah penafsiran saya sendiri terhadap kebebasan berekpresi. Tanpa ada dasar ilmiah yang akan membenarkannya.

Semalam yang lalu. Coba kuminta dari seorang adik perempuan menulis pendek-pendek. Mengandaikannya sedang menghadapi persiapan perpisahan. Tak kurang diksinya seperti ini ;

Di bawah sinar rembulan Maret yang cerah aku termenung,
membuka lembar demi lembar kisah masa lalu
Nostalgia penyayat hati katamu.

Apa yang salah dengan masa lalu?
Ini hanya segelintir kisah yang kelak akan aku kenang
meski terkadang menyedihkan.

Jangan menyalahkan pertemuan
Dan jangan pernah menyesali perpisahan
Karena dengan pertemuan aku mengenalmu
dan karena perpisahan aku mengenangmu.

Susah kuraba maknanya. Akumulasi pengalaman batinnya terurai begitu saja. Memang tak begitu lama saya menunggu adik itu menyelesaikannya. Dikirimnya bait demi bait di ruang percakapan facebook. Hingga dia lupa bahwa bulan telah tertelan gelap malam.

Lalu sekarang kucoba meretas perasaanku sendiri yang masih enigmatis ini. Entah kepada siapa. Mungkin pada masa lalu. Kupikir sudah terlalu banyak yang harus kusalami sem sebuah bayangan hari depan yang lebih baik.

Jiwa ini masih bersarang di sana
Bersama setumpuk cerita dan segudang lamunan.

Jiwa ini tak hendak pergi
jika bukan urusan mimpi.

Entah di mana kudapati diri seperti ini (lagi)
Dalam gelimang cinta dan ketulusan.

Kupercaya takdir untuk kebaikan da keburukan
Kuperaya pula perpisahan bukanlah keburukan.

Dunia terlalu miskin jika hanya diisi
aku, kamu, dan kalian.
Hidup butuh dia dan mereka.

Jika Tuhan berkenan menentukan takdir untuk kita
Maka tentu pertemuan akan mengakhiri perpisahan.

Mari berjalan dan terus berubah
Kehidupan kita ditandai oleh langkah-langkah
Maju-mundur atau melaju.

~oOo~

Makassar, 19 Maret 2014

Gambar : www.dinomarket.com