Menyisir Pantai Utara

Menyisir pantai Utara

Bagian ketiga dari tulisan sebelumnya

Minggu, 1 Desember 2013, sebelum mentari terik, kami telah melaju meninggalkan Kampung Inggris. Seingat saya, kami melintasi Kota Santri Jombang, memperlambat kendaraan di depan makam mantan Presiden RI ke 4, Gusdur. Lalu terus melaju hingga di Kota Mojokerto dan sampai di stasiun Bangil, tidak jauh dari rumah kawan saya Romy. Sempat menyeruput kopi di depan stasiun dan datanglah Romy untuk mengantar kami menuju kediamannya di Pandaan.

Bagi kami (saya dan kawan seperjalanan – Zuhda). Petualangan ini tak perlu tergesa-gesa, tak ada yang kami kejar di tiga pulau yang akan kami taklukkan. Akan lebih baik, jika ada unsur silaturrahim dengan kerabat dalam perjalanan ini. Kami hampir menghabiskan waktu dua jam di rumah Romy, lalu melanjutkan jalan yang baru kami mulai.

Matahari tepat di atas ubun-ubun, saat Romy yang baik itu melepas kami. Langit sedang murung, itu menguntungkan kami. Saya tetap harus siaga pada ancaman hujan dan teriknya langit. Tak salah, saya membeli kacamata dan mantel di pasar Pandaan saat akan meninggalkan rumah Romy.

Tujuan kami sekarang adalah sampai di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi untuk menyeberang ke Pulau Dewata. Motor kini sejengkal-sejengkal telah bergerak menjauh dari titik awal. Roda terus berputar. Kami memilih jalur pantai utara ketimbang harus melewati Kota Jember. Waktu seirama dengan jarak, kian menjauh.

Dari Bangil, kami hanya perlu mengikuti arus jalan raya yang masih sangat ramai. Melintasi Kota Pasuruan hingga ke Kota Probolinggo. Jalan terus dan lurus dan menuntun hingga ke Situbondo. Kata seorang kerabat Zuhda, kami perlu waspada di daerah ini. Ada sebuah daerah yang sangat rawan terjadi kecelakaan. Tentu saja kami harus mengingat semua nasihat perjalanan. Kami ingin tantangan tapi bukan berarti kami ingin celaka.

Karena kami mengambil jalur pantai utara. Maka tentulah kami akan disaji oleh banyak pemandangan pantai dan aroma laut terus berhembus sepanjang jalan. Selama kurang lebih enam jam dari Bangil hingga akhirnya kami sampai di Banyuwangi “The Sunrise of Java”.

Matahari sebentar lagi akan tenggelam, kami sudah duduk di tepi kapal Ferry menyaksikan alam. Menghitung-hitung banyaknya kebetulan dan kebaikan yang dikaruniakan kepada kami sepanjang hari ini.

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: