Jalan Pulang

4pulau

Bagian ketujuh (terakhir) dari tulisan sebelumnya.

Hari keenam, 6 Desember. Dari Sumbawa menuju Lombok. Masih cukup terik matahari, berganti gerimis dan awan mendung. Kami menunaikan hasrat, Menembus Pantai Pink – Lombok. Kunang-kunang sudah terlihat, bintang berselimut kabut malam. Selepas isya kami tiba di Cakranegara.

Inilah perjalanan pulang, selebihnya mengharap semuanya segera selesai. Jenuh menghinggapi ruang-ruang imajinasi, apalagi sepulang dari Menembus Pantai Pink – Lombok. Masih ada satu lagi destinasi yang belum mengorbit di area pengalaman kami. Gili Trawangan yang pernah jadi angan-angan.

Hari ketujuh. 7 Desember. Kami masih mendarat di Pulau Lombok. Sepagi ini langit sedang murung. Tapi kami tetap kuat menaklukkan Pulau Gili Trawangan. Kami Terasing di Pulau Gili Trawangan. Setelah keterasingan itu. Kami bergegas untuk melakukan penyeberangan dari Lombok kembali ke Padang Bai – Bali.

IMG_3292

Terapung di atas kapal ferry. Kali ini, kami memakan waktu yang lebih lama dibanding penyebarangan sebelum-sebelumnya. Penumpang sangat sedikit. Kapal telah bertolak, tapi kembali lagi ke labuhan, ada beberapa mobil yang juga akan segera diseberangkan. Kapal Ferry ini memang tak boleh menunggu. Hanya punya waktu setengah jam untuk mempersiapkan penyeberangan termasuk menaikkan penumpangnya.

Kapal ini juga sempat lego jangkar, karena menunggu antrian di Pelabuhan Padang Bai – Bali. Hampir sejam menunggu di hadapan Pelabuhan. Penumpang diam-diam menyaksikan alam.

Lewat tengah malam, kami akhirnya kembali ke rumah dua fotografer di Denpasar. Mandi, keramas, sholat, lalu tidur secepatnya. Besok hari terakhir yang akan mengantar kami sampai ke Pulau Jawa. Masih butuh tenaga extra untuk jalan pulang yang masih cukup panjang.

Hari kedelapan tiba, 8 Desember. Jalan keluar menuju Tabanan lumayan macet, seperti ada upacara yang menutup sebagian badan jalan. Kendaraan merayap, tak ada yang bisa mengemabil cela. Berkilo-kilo meter panjangnya. Kami tak punya dan tak tahu jalan alternatif menuju Tabanan selain jalan yang sempit ini. Kami terjebak dalam himpitan besi-besi komersil ini.IMG_3410

Lambat tapi pasti, kami melewatinya. Kuncinya sabar. Hampir empat jam raga terseret bersama motor ini di atas jalan hinga benar-benar sampai di Pelabuhan Gilimanuk. Tak lama di atas air, kaki akhirnya mendarat di Pulau Jawa. Dari Pelabuhan Ketapang – Banyuwangi ini masih membutuhkan kurang lebih enam jam untuk sampai ke Surabaya.

Jas hujan saya beli pada hari pertama di Bangil, akhirnya dipakai juga. Tak pernah ada yang sia-sia dengan persiapan. Hujan benar-benar jatuh. Menyiram bumi dengan puas. Di Probolinggo jas hujan sekali pakai itu saya kenakan. Selepas ashar di masjid di tengah kota, kami lanjut menerobos butiran air mata langit ini.

Benang cahaya di gulung gelap. Langit hitam berhambur air. Hujan tak mau redah. Kami mengalah. Jarak pandang terlalu dekat. Ada bahaya jika kami memaksa lanjut.

Kini Pasuruan sudah di lindas karet hitam yang melingkari roda ini. Motor tak boleh melaju, kami bisa saja terjatuh. Romy sudah menunggu di Stasiun Bangil, membawa barang-barang yang dulu saya titip di Rumahnya, dia mengajak kami untuk menginap di rumahnya.

Saya bisa saja mengiyakan. Hidup Zuhda sudah terencana. Besok pagi dia harus service motor yang kami pakai ini. Bagian depan ada sedikit masalah, mungkin sebagai luka yang membekas karena telah menabrak anjing di Sumbawa beberapa hari lalu. Roda belakang juga harus segera di perbaiki, velg-nya sedikit cedera karena mengantam lubang di tengah jalan.

Saya berterima kasih ke Romy, kawan yang baik dan penurut. Umurnya memang terpaut jauh dengan saya, dia baru saja tamat SMA. Tapi kami berkawan akrab. Lupa pada selisih usia.

Target enam jam perjalanan dari Banyuwangi ke Surabaya tak bisa kami capai. Rencana, manusia yang rancang, tapi ada Tuhan berhak menyetujuinya. Di sinilah saya paham, jiwa Platonik dan workaholic saya mengalami pertemuan yang mengajarkan keikhlasan menerima kenyataan.

Akhir perjalanan ini adalah tersesat dan tak kenal arah. Kami salah mengerti instruksi. Bukannya menagarah ke kota Surabaya, tapi ke Sidoarjo. Tengah malam saya di jemput kawan saya berkuliah di Surabaya. Malam itu, mungkin telah masuk hari ke sembilan perjalanan, kami berpelukan. Saling memisahkan diri. Zuhda  masih melanjutkan perjalanan sekitar dua jam ke Gresik, ke rumahnya. Kami telah sampai di ujung jalan. Pulang.

IMG_3252

Advertisements

One Response to “Jalan Pulang”

  1. Reblogged this on monikaikhaa and commented:
    “I’m publishing posts every day, but where are my readers?”

    While there’s no exact science to successfully building a readership, you have a number of built-in tools on WordPress.com to share your work with the world.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: