Hewan-Hewan Sumbawa

IMG_3096

Bagian keenam dari tulisan sebelumnya.

Hari keempat, 4 Desember. Mata kini mengarah ke Pulau Sumbawa. Eksperkatasinya adalah akan ada kegersangan yang menjemput sebagaimana pengalaman saya enam tahun saat menjajal pulau ini. Menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk sampai di Pelabuhan Kayangan – Lombok Timur dari Cakranegara. Tarif dugaan saya tak jauh meleset, Rp. 52.000 untuk satu motor di bawah 150 cc.

Saya tak punya data untuk mengatakan bahwa cuaca di Sumbawa lebih panas, hanya sebatas perasaan. Perjalanan ke Sumbawa adalah perjalanan tanpa destinasi, semakna dengan tulisan saya sebelumnya Kepergian Tak Pernah Sejati. Menjawab keinginan untuk melintasi empat pulau. Selebihnya seperti menuruti keinginan saya untuk melunasi janji saat menjawab salam perpisahan.

Sempat diguyur hujan sebelum sampai di Teluk Santong, kampung keluarga saya yang pernah saya datangi enam tahun lalu. Lalu kami sekaligus mengisi perut, dan membuat tercengang dengan harga makanan satu porsinya. Jauh dari harga yang biasa kami keluarkan ketika di Kampung Inggris – Pare.

Makanan yang kita makan tak boleh kita sesali, apalagi hanya karena harganya. Apapun makanannya, harus dinikmati. Itu sugesti positif untuk melanjutkan hidup di tempat yang jauh dari rumah ini.

Ada hal yang cukup umum di sini. Di sepanjang jalan dari Pelabuhan Poto Tano sampai ke Kampung Teluk Santong yang lamanya hampir empat jam perjalanan motor. Hewan bermain bebas di tengah jalan. Dari sapi, kerbau, kambing, anjing, itik hingga ayam. Kami tak bisa merayu semua hewan-hewan sejenis itu untuk menepi saat kami tengah melintas.

Rerata laju motor kami di atas 80 km/jam. Saat seekor anjing meragu di sisi kiri jala, laju motor sedikit menurun. Puukk, anjing itu tertabrak. Zuhda yang mengendalikan motor spontan terkaget tapi tidak menghentikan motor. Kami baik-baik saja. Motor juga tak apa-apa. Saya berbalik, anjing itu telah tergeletak entah pingsan atau telah mati betulan.

IMG_3105

Senja menyambut kehadiran kami di Teluk Santong. Ini ke empat kalinya kami melihat matahari ditelan horison di empat garis laut yang berbeda. Di teluk santong tak ada hiburan, menepi di pantai atau dermaga bukan ide yang bagus. Terlalu magic dan banyak tradisi yang bersinggungan dengan laut di pesisir seperti ini.

IMG_3148

Hari kelima, kami habiskan untuk me-recover energi kami. Besoknya, pagi-pagi kami bertolak meninggalkan kampung ini, kembali menyeberangi selat menuju Mataram. Perjalanan pulang semakin menegaskan kesan kami tentang hewan yang berkeliaran di Pulau ini. Tak tanggung-tanggung, dua ekor kerbau tergelatak tak bernyawa di sisi jalan. Penyebabnya tak bisa kami tebak.

IMG_3225

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: