Surat Pe-nyabar

Surat Untuk Wanita yang Berkomitmenpixabay.com

Untuk Kamu (Wanita) yang Berkomitmen
di
Alam Penantian

 

Selamat pada waktu apa saja…

Sungguh bingung memulai surat tak resmi semacam ini. Tempat dan waktu pembuatan tak tahu harus letakkan di mana. Anggapan saya, surat ini akan selalu layak dibaca di mana dan pada waktu apa aja. Saya hanya tak ingin membuatnya menjadi surat yang punya masa kadaluwarsa.

Saya pernah jadi sekretaris lembaga riset mahasiswa, yang ketika mau menerbitkan surat harus melewati standar ketelitian yang sangat tinggi. Diksi, etika, dan ke-ilmiah-annya menyatu dalam selembar surat. Di surat ini, saya melintasi itu semua. Kali ini saya butuh kejujuran untuk menulis.

Nah, langsung saja. Saya hanya berharap surat ini akan jadi pembuka yang baik di awal tahun. Surat ini bukan tulisan tentang masa depan yang akan saya janjikan. Surat ini kondisi terkini, tentang tumpah ruahnya rasa di telaga rindu.

Bahwa ada bayangan yang selalu mengikutimu, percayalah itu bukan ilusi. Kamu memang tak mungkin menyentuhnya. Hanya meyakinkan, bahwa ada mahluk Tuhan yang lain yang selalu dekat dengan langkahmu. Mengaminkan setiap rapal doa-doamu.

Untuk kamu yang pernah saya janjikan surat pada beberapa bulan yang lalu…

Kamu telah mengorbit sejak lama di galaksi kehidupan nyata. Tak perlu saya cerita lagi, kapan kita memulai ini semua. Kalau kamu tak menyadari, maka kamu tak pernah salah atas itu. Kamu tak perlu mengingatnya. Surat ini hanya mengisyaratkan kabar-kabar yang harus disabarkan.

Di sini aku bukan ‘aku’ tapi ‘saya’. Bermaksud menerangkan bahwa inilah pengalaman batin yang tidak dibuat-buat. Bukan tokoh fiksi. Bukan buah imajinasi. Apalagi hasil kreasi otak-atik otak kanan.

Pernah suatu waktu, saya meminta restu pada ibu. Adalah  jawaban tak begitu memuaskan. Intinya, saya harus rela menunggu. Karena saya tak boleh mengambil jarak terlalu jauh dengan keinginan ibu. Maka, saya harus banyak bersabar.

Untuk kamu wanita yang berkomitmen…

Saya menghargai komitmenmu “menyentuhku adalah ijab kabul bagiku”. Pada saatnya nanti, saya akan meretasnya menjadi sebuah ikatan suci. Menjadi sentuhan yang bernilai amal. Merubahnya menjadi komitmen “bersama hidup dan mati”.

Pada saat serasa ini, bukan lagi waktunya mengurai rasa yang telah lebur dari kesendirian. Atau sekadar menjelaskan bahwa ada hati yang telah runtuh mekanisme egois-nya.

Tunggulah, sampai saya tiba di halaman rumahmu. Mengetuk pintu hati kamu dan keluarga-mu. Membawakanmu seikat janji. Melingkarimu dengan cincin keutuhan.

Demikian surat pe-nyabar ini. Semoga menguatkan kita dalam penantian.

 

Gambar : http://www.pixabay.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: