Archive for January, 2014

Kesamaan

Posted in Sajak with tags , , , , on January 21, 2014 by mr.f

kesamaandaengblogger

***

Tiba-tiba aku merasa duniaku dan duniamu adalah dunia yang mungkin sama. Perlahan aku tertarik oleh caramu menjauh dari kebisingan. Dunia yang modern ini membuat aku dan kamu “satu” dalam kenyataan yang tak disadari.

Kesendirian yang dulu kau ceritakan adalah keinginan yang kini coba kucontoh. Apakah aku dan kamu benar-benar dalam kesendirian yang sama? Ataukah sama-sama dalam kesendirian? Tak adakah jawaban yang lebih baik selain jawaban tanpa kata-kata, tanpa kamuflase. Jawaban atas kesendirian yang sama itu ada di masing-masing hati yang belum tertebak ini.

Ini bukan ruang hampa yang sengaja dibelokkan oleh cahaya. Inilah dimensi yang kamu dan aku belum sepakat dalam kenyataan.

Aku hanya perlu menjawab sendiri ke-skeptis-anku pada hari-hari makin terlihat suram ini. Aku curiga, kamu sekarang justru meniru caraku dulu menaklukkan keramaian. Aku memasuki duniamu dan kamu membuka mata atas duniaku.

Inilah kesamaan yang membuat aku dan kamu dipisahkan ruang yang bernama jarak. Aku mengarahkannya pada jalan berlawan dengan arah yang mungkin sedang kau lalui.

Pada suatu titik yang dirahasiakan Tuhan. Usaha akan berbuah. Aku dan kamu mungkin hanya sedang disuguhkan oleh bunga-bunga yang mekar pada sebuah pagi.

***

Makassar, 19 Januari 2014

Gambar : http://wallpapers.birdsnanimals.com/

Jalan Pulang

Posted in features, Komunitas Daeng Blogger, Petualangan with tags , , , , , on January 6, 2014 by mr.f

4pulau

Bagian ketujuh (terakhir) dari tulisan sebelumnya.

Hari keenam, 6 Desember. Dari Sumbawa menuju Lombok. Masih cukup terik matahari, berganti gerimis dan awan mendung. Kami menunaikan hasrat, Menembus Pantai Pink – Lombok. Kunang-kunang sudah terlihat, bintang berselimut kabut malam. Selepas isya kami tiba di Cakranegara.

Inilah perjalanan pulang, selebihnya mengharap semuanya segera selesai. Jenuh menghinggapi ruang-ruang imajinasi, apalagi sepulang dari Menembus Pantai Pink – Lombok. Masih ada satu lagi destinasi yang belum mengorbit di area pengalaman kami. Gili Trawangan yang pernah jadi angan-angan.

Hari ketujuh. 7 Desember. Kami masih mendarat di Pulau Lombok. Sepagi ini langit sedang murung. Tapi kami tetap kuat menaklukkan Pulau Gili Trawangan. Kami Terasing di Pulau Gili Trawangan. Setelah keterasingan itu. Kami bergegas untuk melakukan penyeberangan dari Lombok kembali ke Padang Bai – Bali.

IMG_3292

Terapung di atas kapal ferry. Kali ini, kami memakan waktu yang lebih lama dibanding penyebarangan sebelum-sebelumnya. Penumpang sangat sedikit. Kapal telah bertolak, tapi kembali lagi ke labuhan, ada beberapa mobil yang juga akan segera diseberangkan. Kapal Ferry ini memang tak boleh menunggu. Hanya punya waktu setengah jam untuk mempersiapkan penyeberangan termasuk menaikkan penumpangnya.

Kapal ini juga sempat lego jangkar, karena menunggu antrian di Pelabuhan Padang Bai – Bali. Hampir sejam menunggu di hadapan Pelabuhan. Penumpang diam-diam menyaksikan alam.

Lewat tengah malam, kami akhirnya kembali ke rumah dua fotografer di Denpasar. Mandi, keramas, sholat, lalu tidur secepatnya. Besok hari terakhir yang akan mengantar kami sampai ke Pulau Jawa. Masih butuh tenaga extra untuk jalan pulang yang masih cukup panjang.

Hari kedelapan tiba, 8 Desember. Jalan keluar menuju Tabanan lumayan macet, seperti ada upacara yang menutup sebagian badan jalan. Kendaraan merayap, tak ada yang bisa mengemabil cela. Berkilo-kilo meter panjangnya. Kami tak punya dan tak tahu jalan alternatif menuju Tabanan selain jalan yang sempit ini. Kami terjebak dalam himpitan besi-besi komersil ini.IMG_3410

Lambat tapi pasti, kami melewatinya. Kuncinya sabar. Hampir empat jam raga terseret bersama motor ini di atas jalan hinga benar-benar sampai di Pelabuhan Gilimanuk. Tak lama di atas air, kaki akhirnya mendarat di Pulau Jawa. Dari Pelabuhan Ketapang – Banyuwangi ini masih membutuhkan kurang lebih enam jam untuk sampai ke Surabaya.

Jas hujan saya beli pada hari pertama di Bangil, akhirnya dipakai juga. Tak pernah ada yang sia-sia dengan persiapan. Hujan benar-benar jatuh. Menyiram bumi dengan puas. Di Probolinggo jas hujan sekali pakai itu saya kenakan. Selepas ashar di masjid di tengah kota, kami lanjut menerobos butiran air mata langit ini.

Benang cahaya di gulung gelap. Langit hitam berhambur air. Hujan tak mau redah. Kami mengalah. Jarak pandang terlalu dekat. Ada bahaya jika kami memaksa lanjut.

Kini Pasuruan sudah di lindas karet hitam yang melingkari roda ini. Motor tak boleh melaju, kami bisa saja terjatuh. Romy sudah menunggu di Stasiun Bangil, membawa barang-barang yang dulu saya titip di Rumahnya, dia mengajak kami untuk menginap di rumahnya.

Saya bisa saja mengiyakan. Hidup Zuhda sudah terencana. Besok pagi dia harus service motor yang kami pakai ini. Bagian depan ada sedikit masalah, mungkin sebagai luka yang membekas karena telah menabrak anjing di Sumbawa beberapa hari lalu. Roda belakang juga harus segera di perbaiki, velg-nya sedikit cedera karena mengantam lubang di tengah jalan.

Saya berterima kasih ke Romy, kawan yang baik dan penurut. Umurnya memang terpaut jauh dengan saya, dia baru saja tamat SMA. Tapi kami berkawan akrab. Lupa pada selisih usia.

Target enam jam perjalanan dari Banyuwangi ke Surabaya tak bisa kami capai. Rencana, manusia yang rancang, tapi ada Tuhan berhak menyetujuinya. Di sinilah saya paham, jiwa Platonik dan workaholic saya mengalami pertemuan yang mengajarkan keikhlasan menerima kenyataan.

Akhir perjalanan ini adalah tersesat dan tak kenal arah. Kami salah mengerti instruksi. Bukannya menagarah ke kota Surabaya, tapi ke Sidoarjo. Tengah malam saya di jemput kawan saya berkuliah di Surabaya. Malam itu, mungkin telah masuk hari ke sembilan perjalanan, kami berpelukan. Saling memisahkan diri. Zuhda  masih melanjutkan perjalanan sekitar dua jam ke Gresik, ke rumahnya. Kami telah sampai di ujung jalan. Pulang.

IMG_3252

Hewan-Hewan Sumbawa

Posted in Feature, Komunitas Daeng Blogger, Petualangan with tags , , , , , on January 6, 2014 by mr.f

IMG_3096

Bagian keenam dari tulisan sebelumnya.

Hari keempat, 4 Desember. Mata kini mengarah ke Pulau Sumbawa. Eksperkatasinya adalah akan ada kegersangan yang menjemput sebagaimana pengalaman saya enam tahun saat menjajal pulau ini. Menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk sampai di Pelabuhan Kayangan – Lombok Timur dari Cakranegara. Tarif dugaan saya tak jauh meleset, Rp. 52.000 untuk satu motor di bawah 150 cc.

Saya tak punya data untuk mengatakan bahwa cuaca di Sumbawa lebih panas, hanya sebatas perasaan. Perjalanan ke Sumbawa adalah perjalanan tanpa destinasi, semakna dengan tulisan saya sebelumnya Kepergian Tak Pernah Sejati. Menjawab keinginan untuk melintasi empat pulau. Selebihnya seperti menuruti keinginan saya untuk melunasi janji saat menjawab salam perpisahan.

Sempat diguyur hujan sebelum sampai di Teluk Santong, kampung keluarga saya yang pernah saya datangi enam tahun lalu. Lalu kami sekaligus mengisi perut, dan membuat tercengang dengan harga makanan satu porsinya. Jauh dari harga yang biasa kami keluarkan ketika di Kampung Inggris – Pare.

Makanan yang kita makan tak boleh kita sesali, apalagi hanya karena harganya. Apapun makanannya, harus dinikmati. Itu sugesti positif untuk melanjutkan hidup di tempat yang jauh dari rumah ini.

Ada hal yang cukup umum di sini. Di sepanjang jalan dari Pelabuhan Poto Tano sampai ke Kampung Teluk Santong yang lamanya hampir empat jam perjalanan motor. Hewan bermain bebas di tengah jalan. Dari sapi, kerbau, kambing, anjing, itik hingga ayam. Kami tak bisa merayu semua hewan-hewan sejenis itu untuk menepi saat kami tengah melintas.

Rerata laju motor kami di atas 80 km/jam. Saat seekor anjing meragu di sisi kiri jala, laju motor sedikit menurun. Puukk, anjing itu tertabrak. Zuhda yang mengendalikan motor spontan terkaget tapi tidak menghentikan motor. Kami baik-baik saja. Motor juga tak apa-apa. Saya berbalik, anjing itu telah tergeletak entah pingsan atau telah mati betulan.

IMG_3105

Senja menyambut kehadiran kami di Teluk Santong. Ini ke empat kalinya kami melihat matahari ditelan horison di empat garis laut yang berbeda. Di teluk santong tak ada hiburan, menepi di pantai atau dermaga bukan ide yang bagus. Terlalu magic dan banyak tradisi yang bersinggungan dengan laut di pesisir seperti ini.

IMG_3148

Hari kelima, kami habiskan untuk me-recover energi kami. Besoknya, pagi-pagi kami bertolak meninggalkan kampung ini, kembali menyeberangi selat menuju Mataram. Perjalanan pulang semakin menegaskan kesan kami tentang hewan yang berkeliaran di Pulau ini. Tak tanggung-tanggung, dua ekor kerbau tergelatak tak bernyawa di sisi jalan. Penyebabnya tak bisa kami tebak.

IMG_3225