Terasing di Pulau Gili Trawangan – Lombok

IMG_3440

Awan lebih sering menutup katub langit. Mentari menjadi malu dan tersipu. Di permulaan Desember inilah nampak jelas wajah langit yang mulai murung. Gelap, tidak jelas, seringkali meneteskan air mata. Tafsir atas air mata adalah tafsir yang sangat subjektif dan emosional, pendefinisiannya digantung pada perasaan yang berkelabat di dalamnya.

Wajah langit memang murung. Wajah ini justru menghantarkan saya pada sebuah ucapan syukur. Pada perjalanan empat pulau yang saya lakukan di delapan hari pertama bulan Desember. Berkah langit jatuh beruntun mengguyur penjuru bumi. Sedang cerah langit selalu memayungi pada saat yang benar-benar tepat. Panas tak ganas, hujan tercurah tak menyusahkan.

Karena wajah langit ini pulalah, jalan panjang yang saya lalui bersama kawan seperjalanan menaklukkan empat pulau sangat patut dibahagiakan. Perjalanan dengan menunggangi roda dua adalah perjalanan yang banyak bertumpuh cuaca. Hujan yang deras bisa menjadi blokade, panas yang terik juga mampu menambah rasa perih. Jadi, saat yang tepat adalah ketika wajah langit sedang murung, tapi tak juga sedang menangis.

Pada hari ke tujuh petualangan, langit kembali member izin. Hujan hanya merintih-rintih, tepatnya rintik-rintik. Sudah jam delapan pagi. Matahari di Mataram benar-benar tersipu malu. Ini waktu yang tepat mengorbitkan kenyataan, kami menambah satu pulau lagi yang harus di saksikan alamnya, Pulau Gili Trawangan.

IMG_3340

Jam sebelas jelang siang, saya sudah terasing di sana. Tak ada wajah yang pernah saya temui. Asing. Apalagi separuh rupa di sana adalah rupa-rupa asing. Saya hanya coba bayangkan, serupa inilah mungkin rupa yang akan saya temui bila di luar negeri. Paha sampai pangkalnya adalah pemandangan lumrah, bahkan ada yang tak berbenang sehelai pun.

Saya ingat nasihat seorang kerabat, bila berada di lingkungan asing semcam itu, pakailah kacamata hitam. Di negeri Kanguru, katanya seseorang bisa saja dipidanakan bila memelototi organ tubuh orang lain. Tapi sebenarnya bukan itu yang jadi alasan seringnya saya memakai kacamata. Sengatan panas yang tiba-tiba datang, akan membuat mata menjadi perih. Maka, kacamata adalah aksesoris yang lumrah bagi seorang pejalan.

Pulau Gili Trawangan, adalah pulau yang belakangan baru saya kenali. Pernah, rekan di kursusan Elfast Kampung Inggris, mempresentasikan Tourism Place-nya, NTB, maka tersebutlah Pantai Pink, Pantai Senggigi, dan Pulau Gili Trawangan yang menjadi andalannnya waktu itu. Pengetahuan dasar itu pulalah yang membuat kami nekat Menembus Pantai Pink – Lombok dan Terasing di Pulau Gili Trawangan – Lombok.

Mengunjungi pulau ini memang jauh lebih muda dibanding Menembus Pantai Pink – Lombok. Jalan mulus sedikit kelok dan turunan-tanjakan dari Pantai Senggigi akan menuntun kita sampai di keramaian penyeberangan Bangsal. Mata terpuaskan dari sisi kiri jalan, pasir putih mencerahkan. Nyiur melambai, bau laut mengudara.

IMG_3315

Penyeberangan dari Bangsal ke Pulau Gili Trawangan harganya juga tidak menguras. Parkirlah motor di tempatnya, dan membayar lima ribu. Impas. Aman. Menyeberanglah dengan boat yang terus stanby di sana jangan lupa banyak tiket pink sebesar lima belas rupiah. Sekali lagi, pakailah kacamata saat berada di atas laut. Sekalipun langit murung, kacamata akan memberi manfaat.

Di atas boat, akan banyak rupa di sana. Berbaur atau terasing. Suara saya menjadi begitu mahal untuk sekedar keluar dan berbasa basi. Orang nampak berkelompok-kelompok. Tapi lebih banyak yang memilih diam tak bersuara. Hanya setengah jam di atas boat dan sampailah saya di pulau kecil yang padat aktivitas ini.

Sudah masuk jam dua belas siang, jendela langit masih tertutup. Hanya sedikit rintik yang tertumpah. Karena, destinasi perjalanan ini sifatnya additional, kami tak bisa berlama dalam keterasingan. Saya hanya yakin, banyak juga orang yang merasa asing seperti saya di sini. Sayangnya, semua orang menikmati keterasingan. Kami pun larut di keterasingan.

Kemurungan langit yang semula hanya terlihat mengancam, akhirnya benar-benar menangis. Air mata langit tertumpah. Kami pulang bermandi hujan.

IMG_3346

IMG_3363

gili trawangan

IMG_3397

IMG_3375

IMG_3369

IMG_3405

IMG_3427

IMG_3378

5 Tanggapan to “Terasing di Pulau Gili Trawangan – Lombok”

  1. […] Sepagi ini langit sedang murung. Tapi kami tetap kuat menaklukkan Pulau Gili Trawangan. Kami Terasing di Pulau Gili Trawangan. Setelah keterasingan itu. Kami bergegas untuk melakukan penyeberangan dari Lombok kembali ke Padang […]

  2. akbarmangindara Says:

    behhh kereennyami kak ma’ruf.. masih di khayalanku ini gili trawangan, tp suatu saat nanti sy akan menjejak jg dsana..

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: