Menggerutui Bulan Hujan

menggerutui Bulan Hujan

Ada sebagian orang yang menunggu Desember untuk melihat hujan. Sebagian orang yang mencari pembanding semangat juangnya. Sebagian orang yang menganggap hujan adalah butiran-butiran  paling optimis sedunia.

Orang-orang berlomba menuntaskan tergetnya sebelum menutup tahun. Berbuat sebisa mungkin, menghadiahkan hatinya sendiri dengan akhir yang bahagia. Seolah jiwa terlahir baru tanpa beban masa lalu pada tahun yang baru. Desember adalah bulan hujan untuk sebagian besar hati yang tidak bersiap mengahdapinya. Hujan yang menemani langkah-langkah para pemberani, para penerobos hujan.

Hujan di Desember memang sebuah kontradiksi yang paling lazim dibincangkan. Sebagian besar orang lainnya justru lebih banyak menggerutu daripada bersyukur. Pikiran awamnya, apa yang bisa disyukuri dari hujan di bulan Desember ini? Semua kita juga mungkin terbiasa dengan keluhan, apology-nya adalah, karena kita mahluk dhaif. Sudah sangat manusiawi kalau kita gampang mengeluh atau menggerutu atas kondisi yang kita rasakan.

Saya hanya berusaha memasuki ranah pada sebagian orang yang lebih sedikit. ‘Sedikit’ atau ‘banyak’ ini pun hanyalah analisa dan empiris saya pribadi. Sejujurnya, sudah sering juga saya menggerutui hujan di desember ini. Serupa penyair, saya juga mencemburui hujan itu sendiri, dia amat kuat.

Meski bukan mahluk ber-ruh, tapi dia layak jadi subjek subtitusi dari seorang motivator. Tugas kita manusia adalah banyak-banyak mencermati kejadian alam yang membuatkan hidup kita lebih bermanfaat dan berkualitas.

Desember, di bulan penutup tahun ini. Saya ingin berterima kasih pada semua kejadian yang Tuhan limpahkan selama setahun. Tahun sebelumnya, saya tidak begitu yakin kalau saya pernah melakukan perenungan semacam ini. Waktu, banyak sekali merubah kondisi. Waktulah landasan utama perubahan. Serupa dua sumbuh yang saling berpotongan. Waktu yang menggiring kita selalu berubah. Dari detik ke menit, dari menit ke jam, hingga ke membuat sebuah peradaban.

Di Desember ini, saya berhasil menaklukkan salah satu keinginan yang saya rawat selama beberapa tahun lalu. Mengunjungi Bali dan belajar di kampung Inggris Pare Kediri. Dari dua keinginan ini, saya menyakinkan diri, saya akan ke tempat tersebut sebelum menghembuskan napas terakhir. Tuhan tidak membuat saya menunggu  terlalu lama.

Tentunya, ada keinginan serupa yang belum ter-fakta-kan. Saya kembali pada kehadirat Tuhan. Kali ini tugas saya adalah memantaskan diri atas keinginan itu. Sama seperti apa yang telah saya lakukan sebelum meresapi banyak keinginan sebelumnya.

Hujan di Desember adalah hujan yang memicu banyak gerutu. Membuat banyak bibir berlumur kufur. Hujan yang menguji mental sejauh mana manusia mampu berfikir visioner atas kejadian alam. Hujan di bulan Desember adalah hujan membanjiri hati dengan keluh dan kesah. Hujan yang membasahi jiwa yang kering lagi rapuh.

Warkop Dg. Sija, 25 Desember 2013

Gambar : http://www.tempo.co

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: