Hujan yang Menghangatkan Pelukan Ibu

Hujan yang Menghangatkan Pelukan Ibu

Ini Hari Ibu pertama yang saya pahami. Saat masyarakat dunia maya memperingatinya, saya masih merenung tentang momentum Hari Ibu ini. Lalu, saya juga terlalu apatis pada perayaan-perayaan. Serupa Hari Ibu ini, saya abai pada historinya. Saya hanya paham satu kata “Ibu”, itu saja. Sepertinya ini hal yang lebih berkaitan pada selera. Bukan pada kebiasaan.

Ketika saya sedang berselera, maka dunia selalu menjadi tempat merayakan kehidupan. Setiap saat. Sama ketika Ibu pada suatu saat begitu hidup, maka saya akan memberi penghormatan padanya, setinggi-tingginya. Atau pada suatu saat Ibu menjadi sosok tak teretengok di balik layar sebuah panggung peristiwa kehidupan. Kita lalu lupa, ternyata kita adalah buah juang keringat Ibu yang terperas lagi terbuang ada cawan-cawan dunia.

Setiap anak pada akhirnya harus patuh pada Ibu. Sungguh tiada alasan logis menolak aturan hidup ini. Selemah apapun semangatnya, apatah lagi bila Sang Ibu memang adalah perempuan yang penuh gairah membesarkan dan memimpikan kesuksesan pada anaknya.

Kemudian, kita bertanya pada diri sendiri, bagaimana mengukur kepatuhan seorang anak pada Ibu? Jawabannya, kita harus patuh pada kebaikan yang ditawarkannya. Titik. Lalu, bagaimana jika yang ditawarkan, menurut kita adalah hal yang keliru? Bagi saya, konteks patuh harus sedikit diperlebar. Tidak perlu saya jelaskan. Kasus ini, adalah pengalaman lazim yang dialami seorang anak. Tinjauannya, bagi yang hidup terikat pada aturan agama, maka di Kitab Suci jelas sekali solusinya. 

Hari ini, mungkin hanya sebuah pertemuan momentum dengan peristiwa hidup yang harus saya lalui. Setiap saat kita selalu dibentangkan dengan pilihan-pilihan.

Sebulan yang lalu, saya telah memilih ingin bertemu Ibu di Makassar, ketimbang harus melanjutkan kursus Bahasa Inggris di Pare. Seminggu lalu, saya menerima tawaran membawakan materi motivasi di luar Makassar. Tawaran itu bertepatan dengan hari yang saya rencanakan untuk bertemu Ibu di Makassar.

Sekarang saya kembali memilih. Saya memilih, bertemu Ibu. Selalunya, selama beberapa tahun terakhir, saya hanya menunggu Hari Raya untuk bertemu dan memeluk Ibu. Pelukan di luar Hari Raya adalah pelukan yang tidak direncanakan. Mungkin lebih pada kesempatan.

Hari ini, saya kembali memutuskan untuk bersama Ibu di Makassar. Hitungannya bukan jamnya, lebih pada waktu yang saya bisa nikmati bersamanya. Ibu saya hanya dua hari di sini, sama dengan lamanya waktu yang saya butuhkan berada di lokasi pelatihan.

Saya membuat keputusan baru, atas pilihan-pilihan. Saya tak boleh jauh (lagi) dengan Ibu. Meskipun, Ibu saya terbiasa memahami saya dengan kata “sibuk”. Kenyataannya, Ibu selalu lebih memahami anaknya ketimbang seorang yang mau memahami Ibunya.

Pada akhirnya, Ibu tetaplah perempuan yang mestinya selalu kita dahulukan. Saya mensyukuri hujan di Desember ini. Hujan ini membuat pelukan seorang Ibu pada anak-anaknya menjadi lebih hangat.

Gambar : aguskhaidir.wordpress.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: